Guru, Panggilan Mulia & Pelayanan Berdampak

Oleh: Hans Geni Arthanto, MA

Guru, Panggilan Mulia & Pelayanan Berdampak

Tiba di kota Padang, Sumatera Barat menunggu hari gelap dan tibanya angin darat yang bertiup ke lautan, saya bersama JH. Gondowijoyo dan tim melanjutkan perjalanan dengan kapal fery menuju ke pulau Sipora, Mentawai. Berlayar 10 jam kapal pun merapat jam 7 pagi keesokan harinya di dermaga Tua Pejat tak ubahnya sebuah desa, hanya memiliki jalan aspal sejauh 10 km dengan kondisi berlubang.

Setelah mandi dan beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Sioban menggunakan sampan motor. Sayangnya cuaca kurang bersahabat, hujan lebat pun mengguyur Tua Pejat, namun karena waktunya tidak bisa ditunda maka kami pun melanjutkan perjalanan di tengah hujan. Sekalipun menggunakan jas hujan, tetap basah kuyup disiram air laut dari sisi kanan dan kiri sampan.

Dipimpin oleh Ir. Ruth Pattiwaelepia (Ibu Mien), Tim PESAT telah melayani di Sipora dan Siberut sejak 1992, tim berjumlah 20 orang ini adalah orang-orang berdedikasi tinggi dan punya hati melayani yang sangat luar biasa. Ombak lautan yang ganas, kemiskinan, keterbelakangan, serta okultisme tidak bisa menggentarkan mereka. Baru-baru ini sampan yang ditumpangi seorang guru terbalik, ia terapung-apung berpegangan pada badan sampan hampir selam 2 jam sambil menggendong seorang anak sampai tibanya pertolongan. Luar biasa, Tuhan senantiasa membela hamba-hambaNya yang takut akan Dia.

PESAT mendirikan lima TK dan membantu mengajar di dua SD yang kekurangan guru. Anak-anak yang selesai dari TK dan SD kemudian diberi dorongan untuk melanjutkan sekolah di SMP dan SMA yang ada di Sioban ataupun di Tua Pejat. Pelayanan pendidikan tidak hanya menyentuh kehidupan anak, namun juga suatu persuasi dan penyadaran pada orang tua anak serta melayani pertumbuhan iman mereka. Melihat dan mengamati keceriaan dan kesungguhan mereka dalam melayani di tempat sulit ini, kerap muncul pertanyaan : “Apa rahasia mereka hingga dapat bertahan bahkan bersukacita dalam pelayanan ini?”

Guru adalah Panggilan Mulia

Saya ingat guru SD yang sangat saya kagumi, kesabarannya dan kasihnya menuntun murid-murid untuk bisa memahami pelajaran demi pelajaran. Setelah 20 tahun saya meninggalkan kampung halaman dan kembali berkunjung ternyata beliau masih saja mengajar sebagai guru. Sementara murid-muridnya telah menjadi dokter, insinyur, sarjana hukum, dll.

Ia tetap mengajar sebagai guru, mengajar baginya adalah bagian hidupnya, suatu panggilan yang mulia. Keberhasilan baginya tidak berhenti pada dirinya, melainkan saat melihat orang lain (para murid) menjadi seseorang sebagaimana yang Tuhan kehendaki.

Dulu Indonesia mengirim guru ke Malaysia, namun sekarang hanya mengirim TKI. Bahkan Malaysia menjual/memasarkan sekolah dan universitasnya ke Indonesia, diperkirakan ribuan siswa/mahasiswa dari Indonesia belajar di Malaysia akhir-akhir ini. Apa yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan kita ?

Dulu guru adalah suatu status sosial yang terhormat dan banyak orang tua bangga kalau anaknya menjadi guru. Saat itu banyak pendidikan tinggi keguruan dibuka di berbagai kota. Guru-guru dihasilkan, baik melalui pendidikan guru setingkat SLTA maupun perguruan tinggi. Namun kemudian kita melihat bahwa tensinya mulai menurun, orang mulai berkata bahwa jadi guru itu adalah “pahlawan tanpa tanda jasa”. Ada sisi positifnya, namun negatifnya seakan menyatakan bahwa jadi guru itu masa depannya suram, gajinya rendah. Bersamaan dengan itu jumlah guru yang diproduksi dianggap telah berlimpah, melebihi kebutuhannya. Walaupun ada banyak sekolah-sekolah di pedesaan/pedalaman yang kekeurangan guru sampai saat ini; persoalannya adalah kurangnya pemerataan guru dan rendahnya pengabdi.

Disisi lain fakultas keguruan mulai ditinggalkan peminatnya; sehingga mau tidak mau IKIP berubah/berkembang menjadi universitas-universitas dengan berbagai program pendidikan selain keguruan. Tentunya situasi ini semakin membenarkan bahwa untuk menjadi guru sungguh-sungguh dibutuhkan “kesadaran bahwa ini bukan sekedar profesi melainkan suatu panggilan. Sebagaimana Firman Tuhan katakan ; “Saudara-saudaraku janganlah banyak orang diantara kamu mau menjadi guru sebab kita tahu bahwa menjadi guru kita akan dihakimi menurut menurut akuran yang lebih berat.. siapakah diantara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan .. hikmat yang dari atas ,,” (Yakobus 3:1, 13,17).

Firman Tuhan menegaskan bahwa menjadi guru tidak mudah, perlu hikmat dari atas, hikmat Tuhan, berbeda sudut pandangnya dengan kebanyakan orang dan harus teladan. Dan hidupnyalah sang murid akan belajar tentang kehidupan ini. Bayangkan sedikitnya 15-35 jam setiap minggunya sang murid berinteraksi dengan guru. Contoh hidup seperti apakah yang akan diserap oleh seorang murid?

Tahun-tahun terakhir ini pemerintah tampak lebih serius memperjuangkan nasib guru, ternyata dengan disahkannya Undang-Undang Guru, pelaksanaan sertifikasi guru dan adanya upaya-upaya untuk merealisasikan anggaran pendidikan 20% dalam APBN. Situasi ini sepertinya menggairahkan kembali semua perguruan tinggi ex IKIP yang kebagian tanggung jawab untuk melakukan studi S1. Semua ini patut disyukuri, namun tidak boleh menjadikan kita salah dalam meresponinya. Janganlah kegairahan atau semangat belajar hanya dipacu oleh kepentingan materi / keuangan semata, melainkan haruslah tetap menyadari bahwa itu bagian dari panggilan Tuhan. Kalau kita yakin bahwa menjadi guru adlah panggilan, maka guru harus setiap hari belajar , belajar, dan belajar, sehingga ia dapat memberikan yang terbaik bagi muridnya.

 

Guru adalah Pelayanan yang Berdampak

Guru seharusnyalah menjadi seorang yang visioner. Ia tidak saja melihat anak yang diajarnya setiap hari ini, tetapi mampu melihat potensi anak dan mempunyai keyakinan bahwa ia sedang mengasah sebuah batu permata yang masih mentah. Suatu saat diperlukan waktu dan proses untuk mengasahnya, batu tersebut akan muncul menjadi permata yang indah dan berharga. Proses mengasah membutuhkan waktu ; berbicara tentang iman , kesabaran , dnaketekunan seorang guru dalam mebina murid-muridnya. Yusuf membutuhkan waktu 13 tahun, sebelum ia menjadi penguasa di Mesir; Daud memerluka 8-9 tahun sebelum ia menjadi raja bagi seluruh Israel. Ini adalah hukum proses, tidak ada yang instan dalam membentuk seorang muri. Menjadi seorang guru, sesungguhnya adalah sesuatu pelayanan yang membawa dampak.

Apa yang menyebabkan mereka bertahan? Saya melihat 2 hal ini dalam mereka , yakni mereka sadar bahwa paa yang mereka kerjakan adalah suatu panggilan Tuhan yang muliadan pelayanan yang berdampak.

Other Article

Copyright © 2017 PESAT. All rights reserved.