HIDUP YANG PENUH

Oleh: Hans Geni Arthanto, MA

HIDUP YANG PENUH

Hidup kadangkala dapat digambarkan sebagai sebuah bejana dan bagaimana kita mengisi bejana tersebut sehingga penuh. Mengisi bejana agar dipenuhi dengan air adalah hal yang mudah. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar kita bisa mengisi bejana kehidupan kita sehingga penuh?

Mengejar yang terbaik

Yesus memberikan perumpamaan tentang talenta, ada seorang yang bepergian dan ia memberikan pada setiap hambanya modal sesuai dgn kesanggupannya, yang satu menerima lima talenta, dua talenta dan yang terakhir satu talenta dengan pesan agar apa yang diberikannya itu dikembangkan (Mat 25: 14-30). Apa yang terjadi sekembalinya sang tuan? Yang mendapa lima talenta melapor bahwa ia telah berhasil mengembangkannya dua kali lipat yaitu menjadi sepuluh talenta; sedangkan yang mendapat dua talenta juga melapor bahwa ia telah mengembangkannya menjadi dua kali lipat yaitu empat talenta. Maka sang tuan memuji ke dua hamba tsb sebagai hamba yg baik dan setia dgn perkara yg kecil dan ia berjanji akan memberikannya tanggung jawab yang besar. Dan tibalah giliran yang mendapat satu talenta, ia melapor bahwa ia tidak mengembangkan talenta tsb, ia hanya menyimpannya dan mengembalikan kepada sang tuan sejumlah yang ia terima. Apa yang terjadi? Sang tuan marah sekali, ia mengatai bahwa hamba itu jahat dan malas. Kemudian talenta itu diambilnya dan diberikan kepada yang memiliki sepuluh talenta dan hamba itupun dicampakkan ke dalam kegelapan yg paling gelap, dimana hanya terdapat ratap dan kertak gigi.

Sebagaimana yg dikatakan dlm kitab Wahyu kepada jemaat Filadelfia, jemaat yang kekuatannya tdk seberapa, tapi mereka menuruti Firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Yesus; “peganglah apa yang ada padamu, supaya aku tidak mengambil mahkotamu”.

Adalah kerinduan Tuhan agar kita mengembangkan segala karunia yang Ia berikan pada kita, mengapa? Karena Ia mau setiap kita belajar bertanggung jawab? Ia tdk mau apa yang diberikannya pada kita menjadi habis, atau tetap tanpa perkembangan. Dalam 1 Pet 4:10 jelas dikatakan bahwa “layanilah seorang akan yang lain, sesuai dgn kasih karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah”. Ayat Firman Tuhan ini menyatakan bahwa setiap orang adalah pengurus kasih karunia, setiap orang harus bertanggung jawab untuk mengembangkan karunia Allah yang telah diberikan kepadanya. Apa karunia Allah yg telah diberikan? Orang menyebutnya talenta, bakat, kekuatan, kecerdasan, usia hidup dsbnya. 

Tuhan mau setiap orang mengembangkan talentanya sampai ke tingkat yang optimal. Dalam perumpamann lain tentang seorang penabur benih, maka dikatakan bahwa pada akhirnya benih yang jatuh di tanah subur akan berbuah 100 kali lipat, 60 kali lipat dan 30 kali lipat. Ini adalah jumlah peningkatan yang luar biasa, coba bayangkan kalau sdr untung 30 kali lipat…apa lagi 100 kali lipat. Mari kembangkan talentamu, menjadi kepala bukan ekor.

 

Menjadi Teladan, Serupa dengan Kristus

“Sebab semua orang yg dipilih-Nya …untuk menjadi serupa dgn gambaran Anak-Nya..” (Roma 8:29). Sebagaimana pertumbuhan manusia, sejak dari kandungan, lahir menjadi bayi, bertumbuh menjadi remaja, pemuda dan akhirnya menjadi dewasa. Demikian pula pertumbuhan rohani setiap orang percaya harus sampai pada tingkat kedewasaan. Kedewasaan tidak diukur dari banyaknya pengetahuan, melainkan lebih ke arah keserupaan dgn Kristus yaitu dalam pertumbuhan karakternya.

Begitu seseorang lahir dalam Kristus, maka buah roh bekerja dalam dirinya, namun belum menjadi buah yang matang, perlu ada proses ilahi untuk menjadikannya matang. Kadangkala proses ini datang dalam rupa penderitaan, dapur sengsara atau berupa pemurnian. Sehingga melaluinya karakter yang jelek dan tidak memuliakan Tuhan runtuh dan terbangun suatu karakter yg indah seperti emas murni.

Sadrakh, Mesakh dan Abednego mengalaminya, ia harus memilih menyembah kepada Nebukadnezar atau mati dibakar di dalam dapur api? Memilih sesuatu yang enak, nyaman dan menjanjikan ataukah mau tetap setia kepada Tuhan yang benar namun harus membayar harga ? Memilih jalan yang lurus namun harganya mahal atau memilih jalan yang salah serta penuh dgn keuntungan ? Pilihan-pilihan kita akan membentuk karakter kita, menjadi semakin kuat karakternya atau justru semakin rusak karakter kita.

Dalam kehidupan sehari-hari yang semakin sibuk dan penuh tekanan, kadangkala orang mudah menjadi tergesa-gesa, marah dan menyalahkan orang lain ketimbang menyadari bahwa semua itu adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan yang kita buat. Tidak sedikit orang yang mengambil jalan pintas agar bisa lebih cepat, kendatipun hal tersebut adalah cara yang salah, misalnya memberi suap atau melakukan korupsi.

Sesungguhnya hati Tuhan adalah rindu melihat setiap umatnya bertumbuh ke arah kesempurnaan yaitu mengalami kepenuhan Kristus dalam hidupnya (Kol 1:28; 2:9-10).

Akibat dari kesetiaan Sadrakh, Mesakh dan Abednego kepada Tuhan, maka mujizat terjadi, Tuhan menolong mereka, sehingga Nebukadnezar terperangah dan ia justru memuji-muji Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego; bahkan menyampaikan suatu maklumat yg isinya siapa yg menghina Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego akan menerima hukuman penggal dan rumahnya akan menjadi timbunan puing. Jadi disini mereka telah menjadi teladan bagi banyak orang. Teladan berbicara lebih keras dari perkataan.

 

Melayani sesama

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39). William Booth, Jendral Bala Keselamatan yaitu suatu pelayanan gereja yang peduli dgn orang-orang yang terpinggirkan, yaitu para pemabok, pelacur, orang miskin; satu kali ia diminta untuk menyampaikan pidato pada pertemuan para opsir Bala Keselamatan. Namun saat itu ia dalam keadaan sakit, yang akhirnya membawanya pada kematian. Dalam situasi demikian, William Booth masih sempat mengirimkan pesan terakhirnya pada konferensi para Opsir tsb melalui telegram yaitu satu kata terakhir ”Others”. Tampak pada kita, betapa hati William Booth memang tertuju pada orang lain, bagaimana hidupnya bisa melayani sesama.

Sebagaimana Tuhan Yesus sewaktu disalibkan, Ia masih sempat memikirkan ibunya dan murid yg dikasihinya; Ia berkata “Ibu, inilah anakmu!” dan kpd murid-muridnya “Inilah ibumu!”. Dan sejak saat itu murid itu menerima Maria di dalam rumahnya (Yoh 19:26-27).

Kalau kehidupan Yesus diringkas maka hanya ada satu kata yaitu melayani; Ia berkata anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya bagi banyak orang (Markus 10:45).

Other Article

Copyright © 2017 PESAT. All rights reserved.