Pelayanan Lintas Generasi

Oleh: Hans Geni Arthanto, MA

Pelayanan Lintas Generasi

Tuhan telah menyatakan sumpah setia kepada Daud, Ia tidak akan memungkirinya: “Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu; jika anak-anakmu berpegang pada perjanjian-Ku, dan pada peraturan-peraturan-Ku yang Kuajarkan kepada mereka, maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas takhtamu” (Mazmur 132:11-12)

 

Ayat-ayat Firman Tuhan di atas begitu jelas menyatakan bahwa janji Tuhan bukan hanya bagi anak kandung Daud yaitu Salomo yang akan memegang tampuk kepemimpinan di dalam kerajaannya, melainkan juga bagi anak-anak mereka yaitu cucu-cucu Daud, bahkan tidak berhenti disitu dikatakan juga selama-lamanya, artinya untuk keturunan/generasi selanjutnya asalkan mereka semuanya berpegang kepada perjanjian Tuhan dan peraturan-peraturan Tuhan.

 

Itu sebabnya pula dalam Mazmur 112:2 dikatakan “orang yang takut akan Tuhan, anak cucunya akan perkasa di bumi…”. Jadi jelaslah bahwa Allah begitu peduli dengan kehadiran generasi-generasi baru yang berasal dari orang yang takut akan Dia. Benarlah bahwa melayani anak-anak adalah suatu pelayanan lintas generasi.

 Dalam silsilah raja-raja Yehuda, muncul beberapa nama raja yang sangat dihormati, diantaranya adalah raja Asa, Yosafat, Hizkia dan Yosia. Bahkan setelah orang Israel dibuang dan diangkut sebagai tawanan oleh raja Babel, kasih setia Tuhan tetap tertuju pada umatNya, sehingga Ia membangkitkan seorang yg bernama Ester. Siapakah dia? Ester adalah seorang anak yatim piatu, kedua orang tuanya sdh meninggal dan dia diasuh oleh anak dari saudara ayahnya yang bernama Mordekhai. Ester dan Mordekhai, keduanya adalah orang Yahudi, dan Mordekhai berpesan pada Ester agar ia menyembunyikan identitasnya sebagai orang Yahudi.

 Pada masa itu dalam rencana Tuhan yang ajaib, raja Ahasyweros sedang mencari pengganti Ratu Wasti. Maka kesempatan itu dipergunakan oleh Mordekhai untuk mengarahkan Ester agar mengikuti proses seleksi tersebut. Kemudian Ester, yang namanya disebut Hadasa, dikumpulkan bersama dengan gadis-gadis rupawan lainnya di balai perempuan yang pertama dibawah pengawasan Hegai, penjaga para perempuan. Ester dirawat selama dua belas bulan; enam bulan untuk memakai minyak mur dan enam bulan memakai minyak kasai serta wewangian lainnya. Setelah itu barulah Ester menghadap raja; pada waktu petang ia masuk dan pada waktu pagi ia kembali, bukan ke tempat Hegai, melainkan ke balai perempuan ke dua di bawah pengawasan Saasgas, yaitu sida-sida raja penjaga para gundik. Akhirnya Ester terpilih menjadi ratu menggantikan Wasti.

 Nah yang menarik dari kisah ini, adalah adanya situasi permusuhan yang diangkat yaitu diantara Mordekhai dan Haman yaitu seorang pembantu raja yang sangat dihormati. Haman sakit hati kepada Mordekhai karena ia tidak mau memberi hormat kepadanya. Haman merasa terhina kalau hanya sekedar menghukum Mordekhai, karenanya ia bermaksud membunuh semua orang Yahudi dalam satu hari, setelah ia tahu bahwa Mordekhai adalah orang Yahudi. Ternyata ini adalah suatu permusuhan sejak jamannya raja Saul; waktu itu ia tidak mentaati perintah Tuhan untuk membunuh semua orang Amalek dan ternak mereka, melainkan menyimpan ternak-ternak yang tambun untuk korban ibadah serta menawan Agag, raja orang Amalek. Tindakan Saul ini telah menyebabkan Tuhan mengakhiri masa pemerintahannya. Nabi Samuel datang, memberitahu kesalahannya dan ia mencincang raja Agag di hadapan Tuhan di Gilgal. Dan ternyata permusuhan antara Israel dan Amalek ini tidak berakhir, karena Haman adalah keturunan dari raja Agag! Jadi disini permusuhan itu muncul dalam bentuk permusuhan antara Mordekhai dan Haman, yang sesungguhnya merupakan suatu bentuk dari permusuhan antara yang baik dan yang jahat, antara benih perempuan dan benih si ular; inilah peperangan rohani yang terus berlangsung di dunia ini sampai hari ini (Kej 3:15).

 Haman mendekati raja Ahasyweros dan berhasil meyakinkan raja bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang layak dibinasakan, sehingga raja memberikan kuasa kepada Haman untuk membinasakan orang Yahudi dalam satu hari yaitu pada tanggal 13 bulan ke dua belas, ada tenggang waktu satu tahun untuk melaksanakan hukuman tersebut. Mengapa demikian? Karena pemerintahan raja Ahasyweros terbentang dari Etiopia di Afrika sampai di India, terdiri dari 127 daerah, dan orang Yahudi rupanya tersebar hampir di semua daerah, sehingga Haman perlu mengirimkan utusan cepat untuk membawa berita tersebut ke semua daerah. Haman juga menyediakan sepuluh ribu talenta perak untuk biaya pembinasaan orang Yahudi tsb. Bisa dibayangkan apa yang terjadi sewaktu di setiap daerah keputusan itu dibacakan?! Ratap tangis dan suasana berkabung menyelimuti orang-orang Yahudi, tidak terkecuali Mordekhai. Ia mengenakan kain kabung, melolong-lolong dengan nyaring dan berpuasa.

 Mengetahui keadaan Mordekhai, maka Ester mengirim utusan untuk menanyakan apakah arti dari yang diperbuat oleh Mordekhai itu. Maka diceritakanlah kepada Ester bahwa Haman merancangkan untuk membinasakan semua orang Yahudi dalam satu hari yang telah ditentukan. Dan Mordekhai meminta agar Ester menghadap raja dan meminta pembelaan dari sang raja. Namun Ester terhalang oleh suatu peraturan yaitu orang tidak boleh menghadap raja kalau tidak dipanggil; bila itu dilanggar hukumannya adalah mati, kecuali raja mengulurkan tongkat kerajaannya. Atas desakan Mordekhai akhirnya Ester bersedia melakukannya dan mengucapkan perkataan yang sangat terkenal itu yaitu “kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati”.

 Singkat cerita Ester tidak mati, raja mengulurkan tongkatnya, serta Ester berkesempatan mengundang raja dan Haman datang ke perjamuan makan yg ia sediakan. Kuasa doa puasa ditambah dengan kepekaan melangkah sesuai waktu Tuhan telah merubah situasi saat itu. Mordekhai malah mendapat penghargaan dari raja atas jasa-jasanya menyelamatkan raja dari upaya pembunuhan (yg sebenarnya sdh lama terjadi, tapi belum mendapatkan penghargaan), dan justru Haman yang diminta untuk menuntun kuda raja yang ditunggangi oleh Mordekhai. Pada akhirnya Ester membeberkan rencana jahat Haman dan rajapun marah sehingga Haman disulakan di atas tiang bamboo yang tadinya disediakan untuk menyulakan Mordekhai.

 Sungguh suatu kisah yang menakjubkan, memperlihatkan keberanian dan hikmat dari Ester. Namun demikian siapakah pahlawan sesungguhnya dibalik peristiwa ini? Jawabnya adalah Mordekhai. Ia yang berjerih lelah mengasuh Ester, menanamkan benih iman dalam kehidupan Ester, sampai ia tumbuh menjadi orang yang mempercayai Tuhannya dan sedia berkorban untuk kepentingan bangsanya. Mordekhai pula yang mendorong Ester agar meraih posisi sebagai ratu, menggapai bintang yang diimpikannya sesuai dengan namanya (Ester artinya bintang). Sesungguhnya Mordekhai adalah seorang dream releaser, telah menolong Ester mencapai impiannya. Benarlah apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan demikianlah anak-anak pada masa mudanya. Berbahagialah orang yg telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu   apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang” (Mazmur 127: 5)

 

Other Article

Copyright © 2017 PESAT. All rights reserved.