Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Surat Pembaca Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English
PROGRAM
Layanan
Pendukung
Program Khusus

 

 

future center kid in desa jlegong

 

Kami menyampaikan kabar gembira tentang prestasi sekolah Wida yang kini duduk di kelas 6 SD. Ibunya nampak tersenyum mendegar hal itu, namun kegetiran begitu terasa. “Wida mungkin hanya sekolah sampai SMP saja, kalau kami tidak punya uang untuk biaya sekolahnya nanti,” lanjut sang ibu datar.

 

 

 

Gerimis sore itu membasahi jalan tanah yang meliuk diantara padatnya rumah-rumah desa berbentuk joglo dan kebun-kebun kosong tumbuhan palawija, Wida terus mengayuh sepeda mininya pulang. “Aku ingin menjadi guru dan olahragawati,” katanya sepulang dari mengikuti bimbingan belajar.  Tahun ini Wida berada di peringkat ketiga ranking di sekolahnya. 

Akhirnya kita tiba, rumahnya sangat sederhana, berlantai tanah dan berdinding anyaman bambu. Ibunya menyambut kami dengan hangat meski wajah lelahnya belum hilang seluruhnya. “Ibu baru pulang kerja,” Sang ibu membuka percakapan. Usianya kini 45 tahun dan ia masih bekerja sebagai buruh pemetik teh di perkebunan.

Jam 3.00 pagi ibu sudah dijemput truk yang mengangkut puluhan buruh, lalu menempuh perjalanan selama 1,5 jam. Kami mulai bekerja pada jam 5.00 pagi dan baru berhenti jam 5.00 sore.  “Setiap kilogram pucuk daun teh yang dipetik, ibu diupahi Rp. 390,- Dalam sehari ibu sanggup memetik sampai 50 kg teh, jadi setiap hari bisa bawa pulang uang Rp. 19.500,- untuk keluarga.”

Meski melelahkan, ibunya tetap semangat karena sejak awal tahun ini sang ayah tidak bisa menanam apapun dikebun kecil mereka, karena kemarau panjang. Tidak ada hasil ladang, kebutuhan sehari-hari hanya bergantung dari penghasilan sang ibu.

Sore itu kami menyampaikan kabar gembira tentang prestasi sekolah Wida yang kini duduk di kelas 6 SD. Ibunya nampak tersenyum mendegar hal itu, namun kegetiran begitu terasa. “Wida bercita-cita menjadi guru dan olahragawati, dan itu bagus sekali..,” ucap sang ibu sambil menatap kosong ke jalan setapak di depan rumah.

“Wida mungkin hanya sekolah sampai SMP saja, kalau kami tidak punya uang untuk biaya sekolahnya nanti,” lanjut sang ibu datar. Wida nampak berusaha tetap tekun di meja belajar kecilnya di ruang tamu, ia bukan tak mendengar ucapan ibunya, tapi anak perempuan 12 tahun ini adalah type orang yang optimis menatap masa depan. Ia tetap melangkah meski jalan di depannya akan serasa berat..

Sebenarnya sikap ibu Wida adalah gambaran umum dari sikap apatis masyarakat desa terhadap pendidikan. Masalah ekonomi selalu menjadi kendala utama gerak maju mereka, dari generasi ke generasi. Dan faktor ini juga yang akhirnya akan melahirkan generasi miskin berikutnya.

Yayasan PESAT (Pelayanan Desa Terpadu) sejak tahun 2003 telah membuka Program Pembinaan dan Beasiswa di desa-desa dimana TK-tk yang didirikan PESAT berada. Anak-anak yang masuk dalam pembinaan adalah mereka yang masih di TK dan para alumni TK PESAT yang kini sudah berada di SD dan SMP. Program ini mempunyai harapan agar pendidikan anak dapat berkesinambungan dan mereka bisa memiliki masa depan yang gemilang serta mampu meraih mimpinya.

Rembang petang semakin meremang, sudah saatnya saya meninggalkan desa Jlegong, saya menyalami Wida seraya membisikkan, “Masa depan sungguh ada, dan harapanmu tak akan hilang..” Ia tersenyum dan melambaikan tangannya, sampai jumpa lagi..(tony) Mei2011

 


         
ON THE SPOT        
pesat future center - herlina - skouw papua   devi pronojiwo   adven krisna
RUMAH PANGGUNG SUKU SKOUW BERADA TAK JAUH DARI PANTAI.. BACA KISAH HERLINA AUPARAY (9) ANAK PEREMPUAN PAPUA DENGAN PERGUMULAN HIDUPNYA.. READ MORE>>   SEBUAH PEDUKUHAN PALING PELOSOK DI KAKI PEGUNUNGAN BROMO - TENGGER DI JAWA TIMUR. UJUNG DESANYA BERBATASAN DENGAN JURANG DAN HUTAN. DISINILAH DEVI TINGGAL, IA BERCITA-CITA MENJADI GURU.. READ MORE >>   Kami mengunjungi rumah salah satu anak binaan Future Center  di desa Dahana, Nias. Seorang anak perempuan menyambut kami dari dalam rumah yang sederhana, senyumnya manis tapi sayang giginya hitam. read more>>
         
pelukis batu purwosari        
dalam satu perjalanan pulang sekolah, kami tanya: Bagaimana perasaaanmu kalau putus sekolah? Ia menjawab, “Sedih..” Lalu kami tanya lagi: Kenapa? Ia menjawab,  “Karena tidak bisa meraih cita-cita”. selanjutnya>>        
         
         
         
........................................................................................
 
 
TORAJA: Bapak Pendidikan bagi Simbuang

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.