HALMAHERA

Halmahera, Negeri Rempah yang Terlupa

Ketika ujung desa kita adalah lautan, semuanya tentu seperti buntu. Jangan tanya soal masa depan, sekolah-sekolah pu sepi karena guru tak mau datang ke tempat sesunyi ini. Beberapa orang tua dan anak-anak mereka kadang masih berdiri di dermaga memandang ke lautan biru, berharap ada perahu yang datang dengan bapak atau ibu guru di atasnya.

Siapa yang tak kenal Halmahera, satu dari beratus di untaian kepulauan Maluku? Pala dan cengkehnya di abad 16 telah membuat Belanda mabuk kepayang. Namun, apa kabar negeri kaya rempah itu kini?

Pagi yang terik, perahu kayu melaju keluar dari muara sungai di satu daerah bernama Ibu di bagian barat pulau Halmahera menuju laut lepas, penumpangnya adalah beberapa perempuan PNS termasuk pak camat, serta dua anggota polisi yang menuju tempat tugas mereka. Juru kemudi mengarahkannya ke utara, menuju kecamatan Loloda, daerah terpencil di pulau ini katanya, karena tidak ada jalan darat dan hanya bisa dicapai lewat laut.

Sinar matahari sangat mentereng, laut biru jernih tak beriak memperlihatkan dasarnya, perahu mulai berlayar diantara gugusan pulau-pulau karang yang menjulang. Tidak terlalu berbeda dengan panorama Wayag atau Pianemo di Raja Ampat. Satu jam berlalu, jurumudi membelokkan perahu masuk ke sebuah teluk, airnya sebening kaca dengan terumbu karang yang melambai di dalamnya, beberapa orang turun, katanya ini tempat dinas mereka, namanya Tanjung Kedi.

Kami kembali melanjutkan perjalanan, terus ke utara, satu jam kemudian perahu kembali singgah di dermaga kota kecamatan Loloda, kali ini yang turun adalah Camat Loloda David Mase beserta semua orang kecuali kami bertiga dan jurumudi, perjalanan kami masih setengah jam lagi menuju desa Buo.

Sempat berbincang dengan pak camat, dan ia mewakili pemerintah berterimakasih kepada yayasan PESAT yang telah lebih dari satu dekade telah mendirikan satu-satunya Taman Kanak-kanak di desa Buo yang paling terpencil itu sehingga kebutuhan masyarakat akan pendidikan anak usia dini bisa terlayani.

Lanjut terus di atas laut biru pekat yang mungkin dalamnya lebih dari 1000 meter, melewati beberapa palung laut.  Tibalah kami di dermaga desa Buo, papan-papan jembatannya sudah mulai usang malah beberapa tidak ada lagi, jadi perlu sedikit akrobatik berjalan di atas balok penyangga dengan resiko tercebur ke laut. Rumah-rumah kayu berjejer di sisi kanan dermaga, masyarakat menggunakannya sebagai gudang penyimpan hasil bumi mereka sebelum dijual ke kota.

Desa Buo berlindung dibalik bukit-bukit kelapa, sedikit mendaki tampaklah pemukiman yang terpusat di sebuah cekungan besar di kaki bukit. Empat menara gereja nampak menjulang tinggi. Dihuni oleh orang-orang Suku Loloda, sub-etnik Halmahera yang mendominasi daratan dari kecamatan Loloda, Kecamatan Ibu, sampai ke kecamatan Ibubaru di kabupaten Halmahera Barat. Mayoritas penduduknya adalah petani, mereka menanam kelapa, cengkeh, pala, dll. Desa yang indah, dengan bukit-bukit berumput dimana bunga-bunga anggrek tumbuh liar seperti awan berarak di langit biru, ribuan pohon kelapa  menari bersama angin, segemulai terumbu karang yang memulas warna-warni di bibir pantai.

Bersama Nelci Kaleko, Ibu guru muda yang ditugaskan mengajar Taman Kanak-kanak di sini, kami menyusuri perbukitan di sana, mengunjungi para orang tua murid yang sedang membuat kopra di kebun. Dari puncak bukit kami bisa melihat keramaian yang dibuat oleh hampir seratusan orang yang sedang bekerja diantara ratusan ribu buah kelapa yang berserak di tanah. Ini adalah kelompok kerja, semua orang ini sedang mengerjakan kebun salah seorang anggota kelompok, dan akan bergiliran seperti ini setiap hari. Masing-masing dengan perannya; ada yang membelah kelapa, mencungkilnya, lalu mengeringkan.

Orang Loloda sangat ramah, menyenangkan berada di tengah mereka siang ini, seperti keluarga, kami disuguhkan air kelapa muda dan tombong kelapa yang segar dan nikmat. Mereka bekerja penuh semangat diselingi senda-gurau yang hangat.. "Desa Buo pernah ada dalam mimpi saya, dan tergambar dengan jelas sekali, keindahan alamnya dan kebaikan orang-orangnya," tutur Nelci Kaleko memulai percakapan ketika senja turun di atas dermaga Buo. Saat tiba di sini, puluhan anak-anak beserta orang tuanya menyambut di dermaga, mereka bersorak gembira, "Horee.. besok kita akan sekolah lagi karena ibu guru baru sudah datang!" Aku terharu melihat bagaimana mereka menyambutku, sudah tiga minggu mereka tidak belajar karena tidak ada guru, tambah Nelci.

Masalah pendidikan adalah yang utama di sini. Terutama di SD dan SMP, Nelci sangat prihatin karena para guru PNS yang ditugaskan ke desa ini tidak ada yang datang mengajar. Itulah mengapa selama satu dekade para guru-guru TK yang ditugaskan Yayasan PESAT merelakan waktu mereka untuk bantu mengajar di sekolah-sekolah negeri di sana. Seperti Ibu Erlin Tadayu yang mengajar di SD dan SMP negeri desa Buo, ia tetap semangat mengajar meski sering honornya tidak dibayar, ini demi anak-anak Buo katanya. Murid-murid sangat antusias belajar, tapi sayang tak ada guru.

Tahun 2015, di SD ada 132 murid kelas 1 sampai kelas 6, tapi cuma ada 2 guru yang mengajar. Sebenarnya guru PNS yang ditugaskan ke sini banyak, tapi biasanya mereka hanya bertahan beberapa bulan saja lalu pergi dan tidak pernah kembali lagi. Mungkin karena secara geografis sangat terpencil, sulit untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan seperti di kota, tidak ada sinyal ponsel, tidak ada listrik saat siang hari, tidak ada rumah sakit, dan resiko ombak besar untuk mencapai desa ini, apapun itu yang pasti adalah tidak ada motivasi dalam hati para guru PNS itu untuk mengabdi bagi negeri.

"Itulah mengapa saya selalu terpanggil dan terbeban untuk mengajar murid-murid SD dan SMP ini," tandas  Erlin. Tak heran mereka juga sering dikira guru PNS, "Paling-paling kita hanya menjawab; Ya! Pegawai Negeri Sorga..", celoteh Nelci diikuti tawa.

Yah, semoga saja apa yang dilakukan Erlin dan Nelci serta para guru TK PESAT dapat menginspirasi dan menggugah hati banyak orang. (tony)

Copyright © 2017 PESAT. All rights reserved.