headerx
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English
 
 

 

 

 

 
RUSMINI RUTH;  

Membangun Mimpi di Bawah Pohon

 
Rusmini - Ibu Guru Perintis PAUD di Perbatasan Papua - PNG
 

“Ibu guru, kenapa kita pindah-pindah terus, kembali lagi ke pohon, kah? Kami capek angkat meja dan kursi terus..!” protes bocah-bocah kecil berkulit hitam sambil berkacak-pinggang, wajah mereka dibasahi keringat. Sementara gadis berkulit putih dengan rambut terurai sebahu yang menjadi sasaran komplain hanya tertawa kecil..

 

 

Rusmini mengisahkan momen pertamanya ketika ia dan Yuli merintis TK di kampung Skow Sae, sebuah desa pesisir di dekat perbatasan Papua Nugini. Di sini ia mendidik 20 anak usia dini, sebuah Taman Kanak-kanak tanpa gedung.

Di tahun-tahun pertama, TK kita sering berpindah-pindah, cerita Rusmini, pernah dipinjami bekas gereja yang kayunya sudah lapuk, atap berkarat, dan tidak ada dinding. Karena tak berdinding itulah ia pernah ditinggalkan para murid ketika tiba-tiba sebuah mobil melintas di desa mereka. “Anak-anak belum pernah melihat mobil, mereka lari berhamburan sambil berteriak-teriak histeris,”kenang Rusmini tertawa.

Kepala desa berbaik hati meminjamkan ruang kantor desa untuk TK. Ruangannya berpintu sehingga anak-anak bisa lebih fokus. Sayangnya, kepala desa sering mabuk. Pernah suatu hari saat mabuk, ia masuk ke kelas lalu mengompol, dan berteriak agar ibu guru berhenti mengajar, ia terganggu suara gaduh anak-anak. TK lalu kembali belajar di bawah pohon.

Tapi Tuhan baik, tahun berikutnya ada sedikit demi sedikit bantuan, perlahan bisa membangun gedung baru. Kali ini hampir rampung, hanya saja belum dicat. Rusmini yang akrab dipanggil Ruth mengajak orangtua murid untuk membantu pengecatan, tapi tidak ada yang datang. Mau tak mau, Ruth dan Yuli yang mengecat seluruh dinding. Pengalaman pertama mengecat, namun sukacita. “Mengecat sampai larut malam, tidak sempat mandi dan saking lelahnya sampai ketiduran. Bangun pagi, baju dan rambut penuh cat,” kenang Ruth tertawa.

Yang membuat bertahan adalah sukacita melayani. Baginya, perangai keras penduduk disebakan mereka tertinggal dan belum tersentuh kemajuan. Kepolosan anak-anak Papua membuatnya jatuh hati. Pernah, lem kertas yang dibawa Ruth ke dalam kelas dikira papeda dan hampir dimakan. Tapi Ruth melihat anak-anak memiliki semangat dan rasa ingin tahu yang besar.

Ia mengajari banyak hal tentang pengetahuan, bercerita banyak tentang kebaikan Tuhan, dan membentuk karakter mereka. Perhatiannya kepada anak-anak tak terlepas dari rasa ibanya melihat kondisi mereka yang kurang mendapat ajaran dan perhatian orang tua. Suatu hari ada satu muridnya yang masuk kelas tanpa mengenakan pakaian. Saat ditanya, anak tersebut bilang kalau orangtuanya pergi dan ia ditinggal bersama kakaknya.
Ruth risau soal kesehatan. Ia tidak habis pikir kenapa dari hidung murid-muridnya selalu meleleh ingus yang hijau kental, seperti pilek yang berkepanjangan. Tiap hari satu gulung tisu ludes untuk ia menyisih ingus mereka. Ruth mengajari anak-anak menjaga kebersihan tubuh.

Rusmini Ruth di Skow Sae

Malaria

Di Papua, malaria sudah epidemi Ruth dan Yuli pun tak luput dari virus mematikan itu. Ruth bahkan merelakan rambut panjangnya dipotong pendek karena rasanya panas sekali. “Aku sampai dibilang mirip pak guru!,” ujarnya tertawa.

Malaria itu sakitnya kambuh-kambuhan, bersyukur kita berdua kalau kambuh tidak berbarengan, jadi kalau aku sakit.. Yuli yang merawat.. begitu pun sebaliknya. Yang tidak enak itu ada perasaan cemas meninggalkan rekan yang sedang berjuang melawan malaria. Tapi, anak-anak akan terbengkalai jika salah satu dari kita tidak berangkat mengajar.

Pernah saat malaria kambuh, aku pakai beberapa jaket dan tetap mengajar. Menggigil beberapa saat kemudian lanjut mengajar lagi, begitu terus. Pernah sampai tidak kuat lagi menahan sakit, akhirnya ke Puskesmas, susternya kaget karena ternyata sudah kena malaria +4 tapi masih bisa datang sendiri ke Puskesmas. “Saya percaya Tuhan yang panggil, Tuhan sendiri yang akan pelihara. Yakin saja Tuhan pasti sembuhkan,” ujar Ruth.

 

Nasionalisme

Di sini, anak-anak bahkan orang tua tidak tahu lagu kebangsaan dan bendera nasional, Ruth maklum karena tak ada yang memperkenalkannya. Di TK ia menjelaskan tentang bendera Merah Putih dan lagu Indonesia Raya. Berawal dari situ, upacara bendera rutin diadakan di tanah paling ujung Indonesia ini.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu guru.. masih gadis, muda, tapi mau datang pelayanan ke daerah pelosok ini.. suatu penghargaan bagi kami orang Papua, ada yang mau memajukan pendidikan anak-anak. Susah mendapatkan orang yang mau pelayanan di sini,” ujarnya mengulang perkataan Ibu Welmina Kambuaya isteri Walikota Jayapura diakhir tugas Ruth setelah tiga tahun melayani anak-anak di perbatasan Papua Nugini ini.

“Melayani Tuhan adalah suatu anugerah. Tidak semua orang mampu menjalaninya.. dan Tuhan memilih saya,” jelas Ruth, gadis Dayak yang kala itu berusia 21 tahun. Ia melayani di kampung Skou Sae pada tahun 1999 - 2002. Setelah itu Ruth melanjutkan pelayanan di Kalimantan Timur sampai saat ini. (stella/tony (c)2017)

 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.