headerx
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English
 
 

 

 

 

 
   

Menyusuri Mahakam, Menjelajah Kutai, lalu Mendirikan TK

 
Mahakam by river
 

Kami ingin tahu seperti apa ketika dahulu para perintis TK-Tk PESAT di wilayah Kutai Barat, Kalimantan Timur melakukan perjalanan, saat jalan darat belum tersambung, dan sungai hanya satu-satunya cara..

 

Menaiki sebuah kapal penumpang berlantai dua yang seluruhnya terbuat dari kayu. Kapal sungai berjuluk “Taxi Mahakam” ini adalah moda transportasi legendaris yang dulu paling dipakai orang untuk bisa ke daerah-daerah pedalaman sampai ke Long Iram di bagian hulu.


Namun TK-Tk kita masih harus masuk lagi ke anak-anak sungai yang lebih kecil. Seperti TK Trides di pedalaman sungai Kedang Pahu, anak sungai Mahakam yang berbelok di sekitar danau Jempang. Saya ingat ketika bersama ibu guru harus berulang-ulang turun dan mengangkat badan perahu yang kandas di bebatuan. Seperti itu saat musim kering, dan itu harus dilakukan ibu-ibu guru karena sungai hanyalah jalan satu-satunya.

 

 

mahakam

Dari dermaga Melak kami menyeberang dengan feri kayu memotong aliran Mahakam menuju tepi lainnya. Usai mendarat, perjalanan masih dilanjutkan dengan sepeda motor untuk beberapa kilometer lagi..

Sinar matahari menembus daun-daun pohon Rasamala dan kilau-kilaunya membias di permukaan sungai Sakaq. Bocah-bocah mandi dengan riang di aliran sungai kecil tepat di belakang lamin – rumah panjang Dayak – hunian mereka. Di seberang sungai adalah pekuburan kuno Suku Dayak Tunjung, leluhur mereka.

Pagi itu, anak-anak bersiap untuk pergi sekolah, salah satunya adalah Leni, murid TK Sinar Pelita Terpadu, bersama ibunya mereka menyusuri jalan becek menuju TK yang ada di ujung desa.
Ibu guru Dolpina tersenyum menyambut murid-murid di gerbang sekolah yang bangunannya paling modern di antara rumah-rumah di sana.

Beberapa orangtua datang mengantar anak-anak mereka, dengan keranjang di punggung, sepertinya mereka sekalian jalan menuju ke ladang. Ada pula orang tua yang datang membawa ikan gabus besar-besar, banyak sekali jumlahnya. “Hasil tangkap di sungai, ini untuk ibu guru,” katanya.

TK Sinar Pelita tidak memungut uang bayaran, hanya administrasi buku dan perawatan gedung sebesar dua puluh tiga ribu Rupiah per bulan, kata Dolphina, ibu guru yang telah delapan tahun mengajar di sini.

villages on mahakam river's side

Kami berbincang dengan Naima, salah satu orangtua murid. Perempuan desa Sakaq-Lotok ini bercerita, ”Ada TK di desa terpelosok seperti desa kita ini adalah hal yang luar biasa.. Saya sering memperhatikan anak-anak di TK yang mempunyai perilaku yang berbeda-beda, mereka memang sesekali bertengkar, tapi dalam sekejap bisa berbaikan lagi, sepertinya kita yang harus belajar dari anak-anak. Saya punya empat anak, dua diantaranya belajar di TK, dan mereka yang belajar di TK ini lebih mudah menangkap dan mengerti pelajaran dibanding yang tidak ikut TK. Anak-anak yang ikut TK itu jauh lebih cerdas. Saya berharap TK bisa terus melahirkan anak-anak cerdas, karena anak-anak cerdas akan memiliki kehidupan yang lebih baik di masa depan.”

Perlu berhari-hari untuk sampai ke tempat-tempat itu melalui sungai..

Namun yang begitu mengesankan bagi kita adalah ketika mencoba tinggal beberapa hari di salah satu desa dimana TK kita berada. Ibu guru adalah sosok perempuan pemberani, yang tetap teguh melayani walaupun ia tinggal di tengah hutan, sepi, agak jauh dari rumah penduduk. “Walau saya teriak.. tidak ada yang dengar,” ujar Bu Guru Dolphina.. Tapi aku tidak takut, karena Tuhan pasti jaga, sambungnya yakin.

Akhirnya kami tahu, bahwa “membangun desa” bukanlah sebuah slogan murah yang tanpa perjuangan dan instan. Pelayanan ini sesungguhnya tidak akan terwujud, jika tidak ada orang-orang yang mau diutus, kata Pak Hans Geni. Terima kasih kepada para sahabat untuk setia mendukung pelayanan ini. (tony)

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.