membangun desa
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English

 

 
MELAYANI PENDIDIKAN SUKU ANAK DALAM;  

Bias-bias Cahaya di Hutan Kubu

 
 
Suku Anak Dalam
Suku Anak Dalam

 

Sebagian murid tinggal di hutan. Menyeberangi tiga anak sungai untuk  sampai di sekolah. Ketika musim hujan tiba dan sungai menjadi berbahaya untuk diseberangi maka mereka hanya bisa termangu menatap sekolah dari kejauhan di seberang sungai.

 

Sampan kayu merapat di satu pemukiman Orang Kubu di tepi sungai. Sore itu cukup cerah sehingga cahaya matahari dari celah pohon masih hinggap di permukaan sungai, memantulkan kembali warna-warni jingga cakrawala. Anak-anak bertelanjang badan asyik mandi di aliran sungai

 

Tempat ini bernama Tanjung Harapan, di tepi aliran Sungai Rupit, pedalaman Rimba Rupit, Sumatera Selatan. Sampai ke sini perlu waktu satu jam dengan perahu motor. Di pemukiman berdiri SD Tanjung Harapan, bangunannya berdinding papan dan cuma punya satu ruang kelas. Ini adalah sekolah bagi anak-anak Suku Anak Dalam, atau yang dikenal dengan Suku Kubu.

Di antara ilalang yang tumbuh hampir setinggi orang dewasa tampak seorang perempuan muda  berkulit cokelat, ia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Ia adalah Leorince, guru SD yang sudah mengajar lima tahun di sini ketika kami datang.  Ia mengajar di sini karena memang tidak ada guru lain yang mau. Rince, sapaan akrab ibu guru, membawa kami ke rumah dinasnya, rumah kecil sederhana berdinding papan dgn lantai semen bercampur tanah. Ia bilang kalau malam harus hati-hati karena ular dan binatang lain suka masuk ke dalam rumah.

Sore itu di beranda rumahnya sambil duduk minum teh dan memandang tarian ilalang, Rince mulai berkisah ikhwal kedatangannya di Tanjung Harapan. Saat itu Pebruari 1998, lulusan Diploma Pendidikan Guru SD PESAT ini tiba di sini, ia mendapati sekelompok besar keluarga-keluarga Kubu yang tinggal di dalam rumah-rumah sangat sederhana. Kondisi mereka sangat tidak baik, “Mereka tidak peduli dengan kesehatan tubuh, kuku tangan dan rambut mereka sangar kotor, begitu pula pakaiannya, dan jangan tanya soal baca tulis,” cerita Leorince. Bahkan waktu itu hukum rimba masih berlaku di sini, tak jarang aku menjumpai perilaku buruk mereka, lanjutnya.

Tahun pertama di Suku Kubu adalah masa yang sulit. Tidak mudah untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan orang tua maupun anak-anak mereka, kisahnya. Namun kerja keras dan pertolongan Tuhan akhirnya membuahkan hasil ketika satu demi satu anak datang ke dalam kelas.

Waktu berlalu dan perlahan-lahan mereka mulai paham banyak hal tentang ilmu pengetahuan, membaca, menulis, berhitung, cara hidup yang sehat, dll. Mereka sangat rajin datang ke sekolah, berjalan beriringan dan bangga dengan seragam sekolah yang dipakai, aku pun selalu terharu melihatnya, ucap Rince.

Meskipun demikian, lanjutnya, masalah nampaknya masih tetap ada, dan hal ini menyangkut masalah perut. Ruang kelas akan segera menjadi kosong tanpa seorang murid pun yang tinggal saat musim buah tiba. Mereka segera pergi untuk memanen buah-buahan hutan, dan itu bisa berminggu-minggu lamanya. “Tapi mereka akan kembali lagi ke sekolah saat musim panen usai,” kisah Leorince.

Namun waktu jualah yang menjawab semuanya, beberapa anak akhirnya berhasil menamatkan pendidikan SD mereka. “Mereka yang tamat  diberikan surat rekomendasi untuk dapat melanjutkan ke SMP,” katanya.  Sayangnya, hanya beberapa anak saja yang lanjut sekolah karena SMPnya berada di kota dan sangat jauh dari hutan tempat mereka tinggal.

 

Ditinggal Murid Exodus ke Hutan

Bertemu Leorince di Suku Kubu membuat kami hampir tak mengenalinya, karena kulitnya yang dulu putih bersih kini menjadi gelap. Banyak hal di sini yang telah mengubah ia secara fisik. Tapi melampaui itu semua, keterasingan tak mampu menggoyahkan visi dan tekadnya. “Saya selalu terbeban untuk berusaha agar suatu hari nanti orang tak menganggap Suku Kubu adalah orang yang terbelakang,” ungkapnya semangat.

Kurun waktu lima tahun memang telah membuatnya berhasil men-transformasi-kan  Orang Kubu. Ia telah membuat anak-anak yang telanjang itu berseragam putih-merah, membuat mereka kenal huruf dan angka, mengakrabkan mereka dengan pensil dan buku, sabun mandi dan pakaian bersih.

Tapi toh Leorince tak cukup kuat untuk mengalihkan hati mereka dari hutan, harta abadi mereka. Ia pun ditinggalkan oleh belasan keluarga Kubu serta murid-muridnya.

“Hanya beberapa keluarga yang masih bertahan tinggal di sini,” jelas Leorince. Tanjung Harapan adalah satu lokasi program pemerintah untuk “merumahkan” Orang-orang Kubu, agar mereka tak lagi hidup nomaden, lanjutnya, tapi ini tidak berjalan, mungkin karena tidak dengan pendekatan budaya, sebagian besar mereka kini kembali ke hutan dan terus mengembara.

Seperti induk ayam kehilangan anak, Leorince tak tinggal diam, ia berusaha mencari dan mendapati mereka yang kini tinggal tersebar di hutan belantara Sumatera. Lalu satu demi satu keluarga muridnya ia datangi sambil mengajar. Beberapa keluarga akhirnya luluh dan tidak berjalan terus ke hutan yang lebih dalam.

Di “rumah” baru mereka di hutan para orang tua mengizinkan anaknya untuk datang ke Tanjung Harapan meski kini harus menyeberangi tiga anak sungai. Anak-anak yang keluarganya memutuskan menetap di hutan tetap semangat datang ke sekolah, meski kehilangan puluhan teman mereka yang meneruskan pengembaraan. Tapi itu hanya bertahan beberapa saat, sebelum akhirnya mereka benar-benar tak pernah datang sekolah lagi.. Seperti kabut di pagi hari yang menghilang perlahan saat matahari tiba.

Rince berjalan perlahan ke ruang kelas biasa ia mengajar, sunyi tak bernafas, coretan kapur di papan tulis masih belum dihapus, mungkin itu pelajaran di hari terakhir mereka sekolah. Ia tidak bisa menyembuyikan kesedihan dengan senyum ketir di wajahnya,  “Adalah suatu pengalaman yang luar biasa bisa melayani Orang Kubu,” ucapnya mengakhiri.

Itu adalah pemandangan terakhir Leorince di kelas  yang bisa saya rekam.  Semoga bias-bias cahaya yang pernah masuk ke hutan Orang Kubu dapat terus menerangi hidup mereka di pengembaraan. (tony)

 

 
 
 
 
 
 
 

 

Ikuti Open Trip Wisata Misi bersama PESAT Ministry:
Open Trip Merbabu   Wisata Misi - Open Trip - Papua - bersama PESAT Ministry

 

........................................................................................

 

SPONSOR A CHILD TODAY

 

 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.