www.pesat.org

Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Surat Pembaca Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English
PROGRAM
Layanan
Pendukung
Program Khusus

 

 
 
hulu jembayan

 

 

 
 

 

Anak Mahakam mengalir ke timur menusuk belantara dan desa-desa di pedalaman Kutai, Kalimantan Timur. Sebuah taman kakak-kanak di tepiannya menerangi keremangan hulu dan mengantarkan generasinya menuju masa depan. "Yang ditanam di awal, tak lekang oleh waktu..," kesaksian para pelaku perubahan disana.

Dari tepi sungai dimana perahu ditambatkan, jembatan kayu selebar 1,5 meter mengantar kita melewati desa menuju taman kanak-kanak.  Sebuah bangunan sederhana yang berdiri di simpang jalan dengan bunga-bunga rumput di halaman. Pagi itu bermandi cahaya matahari anak-anak bermain bersama dengan ceria..

Rosani  tiba di desa ini pada tahun 2002. Anak-anak  tidak sekolah bisa dijumpai dengan mudah. Ia lalu mengajari mereka. Kemudian pelayanan berkembang menjadi TK yang diberi nama TK Bakti Terpadu. Rosani tidak sendiri, ia ditemani Hana, lalu Paulina. Mereka bersama merintis pelayanan untuk menjangkau Orang Dayak Basaf di desa terpencil ini. Nama “Bakti” dipilihnya  karena ia menganggap pelayanan ini adalah baktinya kepadatanah Dayak. Rosani adalah perempuan Dayak Kenyak yang lahir dan besar di desa Lekaq Kidau, desa di tepi Mahakam, 100 KM dari situ.

Orang Dayak Basaf mendiami hulu Sungai Jembayan, anak Sungai Mahakam, yang mengalir ke timur membelah hutan belantara dan desa-desa di pedalaman Kutai, Kalimantan Timur. Jumlah mereka kini hanya tinggal 60 keluarga. Banyak yang telah bermigrasi karena pola ladang berpindah yang dianut. Jumlah mereka semakin menyusut sejak 10 tahun terakhir. Ribuan hektar areal hutan yang menaungi desa mereka kini berubah menjadi daerah transmigrasi dan pertambangan batubara.

Perubahan di Hulu Jembayan

Kini mereka hidup berdampingan dengan para pendatang dari Jawa, Kutai, dan Banjar. Keterbukaan Orang Basaf pada pendatang dalam interaksinya kemudian menghasilkan asimilasi budaya dan kebiasaan. Kebanyakan lewat perkawinan campur maupun pergaulan. Herannya, justru kebudayaan mereka seakan tergerus dan menjadi samar. Hampir semua Dayak Basaf yang tinggal di Hulu Jembayan tidak lagi menggunakan bahasa aseli mereka selain Bahasa Indonesia dengan aksen Melayu.

Selain menyandarkan hidup pada sungai dan hutan, mereka juga bertani. Kebanyakan hanya menanam padi untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Ladang mereka pun berada di wilayah lain yang jauhnya bisa berpuluh-puluh kilometer dari desa. Biasanya di saat awal musim tanam, kaum laki-laki akan meninggalkan keluarga mereka selama berminggu-minggu untuk mengurus ladang.

Waktu berlalu, musim berganti, dan TK Bakti menjadi saksi akan perubahan di hulu Jembayan. Beberapa waktu kemudian, Rosani meninggalkan mereka. Pembentukan karakter anak-anak melalui TK dilanjutkan oleh Paulina, pelayanan terus berjalan dan para guru datang silih berganti, Lestari, Naomi Ratusira, Noni… Kegigihan dan ketekunan perempuan-perempuan belia ini membawa banyak terobosan.

Mereka mampu menjadi jembatan lintas budaya, bahkan melabrak dinding kebiasaan yang memarjinalkan, seperti : pendidikan anak laki-laki lebih utama daripada anak perempuan, gadis remaja lebih baik dinikahkan daripada lanjut sekolah toh tempatnya di dapur, anak bertumbuh seturut kehendak orang tua dan minat serta bakat mereka tidak perlu dihargai karena potensi mereka akan berhenti ketika menikah dan mengurus ladang, dan banyak hal lain yang membunuh masa depan.  Kini semua itu pupus dari Hulu Jembayan. Orang tua sudah merubah haluan pandangan mereka tentang anak, pendidikan, dan masa depan. Berkat perjuangan ibu-ibu guru TK Bakti, anak-anak pun tumbuh dengan kecerdasan mental dan fisik yang baik, dengan karakter, semangat dan cita-cita!

Delapan Tahun Kemudian

Jika kita berkesempatan datang ke mari, sungguh mengagumkan bisa bertemu dengan anak-anak. Tahun 2004 Paulina tidak lagi menjadi guru TK, ia telah mengajar di sebuah SMP negeri di sana. Ia akhirnya bisa kembali bertemu dengan mantan anak-anak TK-nya di kelas. Angkatan pertama TK Bakti kini telah duduk di kelas 1 - 2 SMP. “Mereka memang tidak terlalu hebat di beberapa bidang pelajaran, tetapi sikap, karakter, dan kecerdasan emosional mereka sangat baik. Setelah berpisah selama 5 sampai 6 tahun, saya sungguh terharu karena apa yang kita tanamkan di awal ternyata tidak lekang oleh waktu..,” Paulina menyaksikan dengan haru.

Tahun ajaran 2010/2011 ada 38 anak yang belajar di TK Bakti dan mereka dilayani oleh Ibu Guru Lestari (24) dan Arnau (28). Lestari adalah adalah lulusan diploma PGTK PESAT dan berasal dari Jawa Tengah, sementara Arnau adalah penduduk asli, seorang Dayak Basaf yang tergerak untuk membantu mengajar ketika pada suatu waktu TK kekurangan guru. Ia lalu mengikuti Program Pelatihan Singkat Guru TK (setara D-1) selama empat bulan di sentra pelatihan PESAT, dan kini mengajar di TK A dan sebagai tutor tetap program Future Center.

Hingga kini TK Bakti telah meluluskan delapan angkatan dan berhasil menghantarkan sedikitnya 320 anak ke jenjang pendidikan berikutnya dan siap mengarungi dunia ilmu pengetahuan yang sesungguhnya dan tentunya kehidupan. Malah sejak Agustus 2008 TK ini telah menambahkan program layanannya dengan Program Pembinaan dan Beasiswa FUTURE CENTER, dan anak yang dibina sebanyak  85 anak terdiri dari 38 anak TK dan 47 murid SD kelas 1 sampai kelas 3.

Mereka adalah anak-anak penuh antusias akan pengetahuan baru. Berani, komunikatif, cerdas, dan penuh kasih; adalah empat hal signifikan yang bisa ditangkap dari sikap mereka. “Anak-anak menjadikan balai berkumpul di sebelah TK sebagai pusat aktivitas keseharian,” ujar Lestari. Beberapa anak usia SD bahkan hampir setiap hari mengujungi rumah dinas ibu guru TK, untuk sekedar bercakap-cakap, mendengar cerita, atau memberikan bantuan kecil kepada ibu guru.

Membangun generasi adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan banyak tenaga dan pemikiran. Melalui taman kakak-kanak kita berusaha untuk menerangi keremangan Hulu Jembayan dan mengantarkan generasinya menuju masa depan yang terang bersinar. Kehadiran TK Bakti Terpadu bagaikan Angin Barat yang membawa perubahan musim..

 

*In memoriam: Naomie Ratusira 1984 – 2007


 
........................................................................................
 
 
TORAJA: Bapak Pendidikan bagi Simbuang

 

 
 
 
 
 
 
 FUNTRIP TO OUR LOCATION ARROUND INDONESIA
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.