header

Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English

 

 

 

 

 

Sumba, Taman Nasional Umbu ratunggae
TAMAN KANAK-KANAK DI TENGAH PADANG SABANA

 

Adalah satu kampung bernama Lumbubakul. "Kampung ini sangat terisolir dan jauh dari kemajuan, tidak ada perhatian dari pemerintah atas keadaan anak-anak," ujar Marleni Ninggeding mengawali percakapan di antara kerasnya tiupan angin sabana sore itu.

Melintasi padang rumput hijau melalui jalan yang meliuk diantara bukit-bukit membelah lembah dan lereng. Tarian ilalang bergelora seperti ombak di sepanjang jalan. Kita tidak pernah tahu jika ada kampung-kampung tersebar diantara gugusan sabana. Mereka seolah muncul tiba-tiba dari antara ilalang bersama kuda-kuda liar.

Ibu guru Leni, dimikian biasa ia dipanggil, adalah perintis TK di daratan Sumba, beberapa TK sudah ia rintis sejak 15 tahun lalu. Saya merasa terbeban supaya anak-anak di sini juga bisa memperoleh pendidikan. Karena ketika pemerintah tidak bisa menjangkau mereka, maka kita sebagai pelayan Tuhan harus menjangkau mereka, alasan Marleni.

Di kampung Lumbubakul, pada 23 Maret 2011 Marleni mendirikan sebuah taman kanak-kanak yang diberi nama "Imanuel", artinya "Tuhan beserta kita". Setiap hari 33 anak anak dari empat kampung dibalik-balik bukit datang ke sini.

SUMBA DIANTARA SABANA

"Tadinya mereka hanya berkeliaran, bermain tidak beraturan, tanpa pernah berpikir seperti apa mereka nanti, mereka tak pernah tahu bahwa anak-anak seusia mereka di tempat lain sedang mengenyam pendidikan," turur Marleni, kesedihan pun tergambar di wajahnya.

Masyarakat sangat senang ada TK di sini, dan mereka berusaha dengan segenap kemampuan untuk menyediakan tempat belajar meski sangat sederhana di tanah yang juga mereka hibahkan, satu pedataran hijau di punggung bukit.

Padang rumput hijau ini hanya terlihat selama empat bulan setiap tahun, bulan April adalah musim hujan terakhir, kemudian sisanya adalah kekeringan yang luar biasa. Praktis hanya jagung yang bisa di tanam di sini karena sulitnya air. Pada masa itu penduduk harus menempuh 6 sampai 10 Km untuk mendapatkan air.

SUMBA DIANTARA SABANA

Desa para penunggang kuda ini hanya menanam jagung untuk kebutuhan makan keluarga meski hasil panen yang disimpan untuk sepanjang musim kering sering tidak cukup. Jagung adalah makanan pokok seperti halnya nasi bagi kita.

Mereka biasanya hanya menjual ternak untuk memenuhi kekurangan pangan keluarga. Kemiskinan parah harus mereka rasakan karena tidak ada sesuatu yang dapat menghasilkan uang untuk kebutuhan lain selain makan. Itu juga salah satu faktor mengapa teramat banyak yang putus sekolah di tingkat SD atau SMP.

Melalui TK Imanuel Lumbubakul Terpadu, Merleni berharap agar anak-anak bisa menjadi terang yang berguna bagi desanya dan Sumba Tengah ketika kelak mereka menjadi orang sukses di masa depan. (tony)

 

SUMBA DIANTARA SABANA'

 

  Kisah inspiratif lainnya:
 
 

 

SPONSOR A CHILD TODAY

 

v Baca kisah perjalanannya :    
Traveller Boyolali Highland   toraja note   Mahakam
         
         
 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.