header
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English

 

Traveller's Note!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Open Trip Papua Raja Ampat

 
 

Daniel Alexander;

Sekolah di Ujung Bumi

 

 

Daniel Alexander bersama murid SMA Shalom Terpadu, Momi Waren

Daniel Alexander bersama murid SMA Shalom Terpadu, distrik Momi-Waren, Manokwari, Papua Barat

 

"Karena saya sudah menunggu sekolah ini selama 25 tahun.."

 

Daniel Alexander datang kembali ke Momi-Waren, sebuah distrik sejauh 100 KM dari Manokwari, Papua Barat setelah perintisan TK, SD, dan SMP bertahun-tahun lalu, untuk membangun pendidikan Suku Sough di sepanjang pesisir pantai.

Ketika ia tiba, orang-orang sudah berkumpul menantinya. Mereka adalah para tokoh penting masyarakat Sough. Selembar surat pun diserahkan langsung ke tangannya. Daniel membukanya. Sebuah surat yang diketik miring-miring tidak beraturan dan dibubuhi 22 tanda tangan para tokoh adat, kepala suku, kepala desa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Dalam surat itu tertuang keresahan, khawatir, dan harapan Orang Sough, sama seperti bertahun-tahun lalu ketika mereka mendesaknya untuk mendirikan SMP. Para orang tua tidak ingin anaknya terlunta-lunta, lalu sakit, dan mati karena tidak ada yang mengurusi ketika harus bersekolah di kota.

Daniel tidak kaget, ia tahu betul bagaimana anak-anak itu terlantar ketika bersekolah di kota yang teramat jauh dari desa mereka. Selain itu mereka juga punya keinginan agar ada orang-orang dari suku mereka yang kelak menjadi sarjana, karena belum pernah ada seorangpun dari Suku Sough yang telah menjadi sarjana.

sma shalom terpadu momi waren manokwari papua
     

Tahun 2008, akhirnya PESAT mendirikan SMA Syalom Terpadu di tengah-tengah wilayah mukim Suku Sough di Momi Waren. Sebulan setelah sekolah dimulai, ia kembali datang mengunjungi SMA tersebut. Tapi kali ini, ia sungguh kaget. Sebagian murid berseragam abu-abu itu adalah orang-orang tua yang sudah ompong. Bahkan, yang termuda adalah seorang murid berusia 44 tahun.

Penuh rasa penasaran Daniel bertanya kepada sang murid, “Mengapa di usia setua ini masih mau pakai seragam SMA?” Jawab sang murid, “Karena saya sudah menunggu sekolah ini selama 25 tahun.” Daniel hampir menangis mendengarnya. “Betapa lalai pemerintah republik ini, mengabaikan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan,” gumamnya dalam hati.

 

sma shalom    
     

Tapi sungguh, semangat mereka tidak kalah dari murid-murid usia belasan tahun. Berkat pertolongan Tuhan, Daniel Alexander dan beberapa rekan guru, serta seluruh anggota tim PESAT Mamokwari yang memberikan hidup mereka untuk memberkati Orang Sough selama belasan tahun di tempat ini, kini kita dapat melihat buahnya, tahun ajaran 2009/2010 lebih dari 70 Orang Sough sudah bersekolah di SMA. (tony/www.pesat.org)

 


 

 

Saksikan video dokumenter pelayanan PESAT pada suku Mamberamo di distrik Muara Tami, di dekat perbatasan Papua Nugini:
 
 

 

 

 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.