Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Surat Pembaca Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English
 
 
Saksikan Video Dokumenter pelayanan PESAT Papua pada Suku Mek dan Suku Mamberamo >>
 

 

 
LIPUTAN KHUSUS;  

Booming PAUD versus TK Berkualitas di Desa

 
TK Bina Putera Terpadu Jawa Timur
Photo: Feby Lentina (c) 2014

Ketika orang datang ke TK PETRA, apa yang paling mereka cari? Kalimat tanya itu meluncur ketika Village bertemu dengan Endang Carya, ibu guru TK PESAT di sebuah desa kecil di kabupaten Semarang. Endang menjawab, “Mereka mencari TK yang serius belajar dengan sarana bermain yang memadai, ditambah guru-gurunya yang berlatarbelakang pendidikan sarjana PAUD dan diploma PGTK".

Pendirian PAUD di Indonesia melonjak karena hingga saat ini stimulus, baik melalui dana maupun imbauan pemahaman pentingnya mempersiapkan generasi sejak dini, yang terus dilakukan pemerintah, kontan membuat berbagai elemen masyarakat tergerak hatinya untuk mendirikan PAUD. Yang mencemaskan sebenarnya adalah para pengajar PAUD yang baru itu kebanyakan hanyalah perempuan lulusan SLTA, kemudian dari kader PKK atau posyandu, serta ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak pernah mendapatkan panduan mengajar anak usia dini.

Pendidikan anak usia dini itu seyogyanya diawali dari para pendidiknya, mereka harus punya wawasan, punya value seperti dalam alkitab karena ini menjadi landasan yang baik untuk menciptakan TK yang berkualitas. Karena kita juga menyisipkan pendidikan karakter, jadi tidak hanya berbicara tentang knowledge-nya tapi juga karakternya.

TK yang berkualitas dilihat juga dari output-nya, bagaimana knowledge dan karakter anak murid. Jadi kalau murid punya wawasan, karakter, dan pengetahuan yang bagus itu indikasi bahwa TK kita berkualitas, terang Samuel Wasikin, Pengajar Pelatihan Guru TK di Pusat Pendidikan PESAT.

“Guru juga harus bisa mengembangkan karakter anak menjadi pribadi yang baik, dan tentunya guru juga harus bisa membangun rohani anak untuk bisa mengenal Tuhan,” Guru TK PESAT Faomasi Ziliwu menjelaskan.

“Kami memang tekankan kasih itu, karena tanpa dasar kasih anak-anak tidak akan memiliki karakter, kami percaya setiap apa yang kami tanamkan dapat membentuk karakter dan jiwa mereka, seperti berbagi dan memaafkan," lanjut Endang Carya.

Saking luar biasanya spirit hendak mendirikan PAUD, tidak perlu diawali bangunan gedung dengan fasilitas memadai, di pojok kantor desa, ruang posyandu, atau di teras rumah warga, bisa didirikan PAUD. Bahkan kini PAUD yang baru berdiri itu boleh menyelenggarakan layanan PAUD formal anak usia TK. Padahal selain guru, lanjut Samuel, juga harus ada sarana dan prasarana yang baik, serta guru dituntut untuk bisa menggunakan sarana prasarana dengan baik, ditambah kurikulum yang tepat.

Selain perpustakaan dengan koleksi buku cerita yang banyak dan permainan di dalam ruang, TK kami terus berusaha menambahkan mainan luar ruang di lapangan bermain TK yang cukup luas, karena itu yang melatih motorik anak-anak, kata Endang. "Sarana bermain luar ruang juga membantu perkembangan gerak motorik anak, karena anak TK itu kan tidak hanya belajar di dalam ruang saja tetapi perlu di luar juga," timpal Ibu guru Miadara dari TK PNIEL di dukuh Celengan berargumen.

TK-Tk PESAT di desa-desa juga mengadakan program study tour; seperti kunjungan ke museum, kantor pos, stasion, dll, dengan tujuan agar wawasan anak semakin bertambah dan anak-anak desa ini memiliki pengetahuan yang sama dengan anak-anak di kota. Kami juga melihat ada potensi anak yang harus digali, sehingga kami menyediakan ekskul komputer, menari, melukis, menghitung dengan sempoa, dll.

"Memang dengan boomingnya PAUD, mau tidak mau TK PESAT harus mempunyai kualitas lebih, sehingga ini memacu para guru PESAT untuk menjadi lebih kreatif dan meningkat-kan daya saing," jelas Samuel.
Memang diakui Endang TK-nya sempat kekurangan murid selama satu tahun ajaran, karena masyarakat memasukkan anaknya ke PAUD-PAUD yang baru, namun akhirnya kembali lagi, mungkin orang tua bisa melihat dari segi kualitas.

Hal ini tentu bukanlah seperti persaingan bisnis, tapi lebih kepada seberapa banyak anak-anak usia emas yang bisa kita jangkau dengan pendidikan berkualitas, sehingga mereka tidak masuk ke dalam PAUD yang asal-asalan. "TK kita bukanlah TK yang mencari profit, TK kita adalah TK yang melayani masyarakat agar masyarakat desa bisa menjadi lebih baik," tandas Samuel.

Selain menyediakan pendidikan yang berkualitas di desa selama tiga dasawarsa ini, 133 TK PESAT di 20 propinsi telah menjadi learning center bagi orang tua murid dan masyarakat, jadi tidak hanya anak yang dilayani tapi juga masyarakat, lanjut Samuel Wasikin, TK PESAT ingin dikenal bukan sebagai TK biasa, karena TK juga mengambil peran membangun masyarakat; memberdayakan orang tuanya dalam wawasan dan pengetahuan atau pembangunan SDM, lalu memfasilitasi masyarakat mengadakan pembangunan yang lain seperti ekonomi, kesejahteraan, dan kesehatan masyarakat desa. (feby/tony)

fb Share  

 

 

 

 
 
 
 
 
 
 

Photo: Feby Lentina (c)2014. All rights reserved

 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.