header www.pesat.org
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English
 
 
 
 

 

 
KLINIK KESEHATAN DESA;  

Layanan Terdepan Kesehatan Orang Desa

 
Klinik kesehatan PESAT di desa Lopait
Photo: Feby Lentina (c) 2015

 

Di ruang tunggu, wajah cemas terlihat dari raut wajah para pasien, sementara di ruang periksa sepertinya sedang ada situasi gawat darurat yang perlu penanganan khusus dan tindakan cepat. Mantri Ery sibuk menyiapkan jarum suntik, bius, kapas serta alkohol, lalu memakai sarung tangan karet.

Jalan desa tampak lengang, tapi di klinik PESAT orang-orang datang silih berganti. Banku kayu cokelat di ruang tunggu sudah dipadati laki-laki dan perempuan-perempuan berkebaya, mereka ditemani tembang tradisional Jawa yang mengalun lembut. 

Di velbed sudah terbaring seorang pak tua dengan wajah meringis dan baju kumal penuh darah, ia Pak Ngadiman – usianya 58 tahun – seorang petani dengan lengan bagian dalam di batas siku yang sobek tergores bilah batang tebu tajam. “Ini harus segera dijahit karena terlalu panjang dan dalam lukanya,” ucap Mantri Ery sambil membersihkan luka.

Sementara di velbed sebelah yang dipisah gorden, seorang ibu menunggu dengan gelisah. Ibu jari kakinya terlihat menghitam, seperti membusuk. Ia dalah Ibu Rupina, pasien lama, tapi baru datang lagi setelah infeksi di ibu jari kakinya makin parah akibat salah penanganan di rumah sakit lain. “Saya juga tidak tahu, mereka mencabut kuku kaki saya jadi seperti ini,” keluh nenek berusia 60 tahun ini.

Jalan desa tampak lengang, tapi di klinik PESAT orang-orang datang silih berganti. Banku kayu cokelat di ruang tunggu sudah dipadati laki-laki dan perempuan-perempuan berkebaya, mereka ditemani tembang tradisional Jawa yang mengalun lembut.

Beberapa saat kemudian, Pak Ter – sapaan akrab dr. Junaidi Lesmana– tiba, dengan langkah cepat, menenteng tas hitam dengan setelan kemeja putih yang dipadu pantalon hitam. Kelegaan segera terpancar dari wajah-wajah para pasien yang sudah menunggu sedari tadi. Senyum ramah dan sapa selamat pagi dilayangkan pak dokter kepada para pasien yang sontak disambut semua orang di ruang tunggu.

Satu persatu pasien mulai dipanggil, komunikasi yang hangat dan penuh kasih begitu terasa di ruang dokter, meski bercampur bahasa Jawa, sambil periksa Pak Ter memberi banyak wejangan dan anjuran.

Tak hanya orang tua, anak kecil pun ia tangani dengan keramahannya. “Ada dua stestoskop yang saya siapkan disini, satu untuk anak kecil, satu untuk pasien dewasa, yang untuk anak kecil saya sengaja cari yang bentuknya lucu seperti boneka agar mereka tidak takut,” jelas dr. Jun tertawa kecil di sela kesibukannya siang itu.

Pak dokter pun beralih ke ruang dimana Mantri Ery melakukan pengobatan, ia mengamati luka hitam di jempol khaki ibu Rupina. “Orang-orang suka sekali datang ketika sudah parah, tapi jika tidak parah mereka akan cuek saja,” gumam pak dokter sambil mengamati luka.

Ia sangat peduli dengan kesehatan masyarakat desa, selelah apapun, ia tidak bisa meninggalkan mereka dalam waktu lama. “Saya itu tidak bisa mengambil waktu cuti yang panjang, tidak tega dengan mereka yang butuh pengobatan,” dr. Jun tulus.

Klinik PESAT di desa Lopait- Jawa Tengah ini sangat berperan penting di desa, rata-rata setiap bulan menangani 600an pasien. Untuk menutupi biaya operasional, klinik menerapkan sistem subsidi silang untuk pasien dengan 25 % membayar (tapi murah) dan 75 % diberikan keringanan biaya bahkan gratis.

Kerap menggelar pengobatan gratis, seminar, dan penyuluhan kesehatan seperti jantung dan diabetes bagi masyarakat di desa-desa kecil lainnya, klinik berusia 20 tahun ini dilayani enam awak kesehatan. Misinya sederhana; memberi layanan kesehatan memadai bagi masyarakat desa dan membagi Kasih Kristus kepada mereka agar nama Tuhan dimuliakan. (feby lentina)

 
 
 
 
 
 
 
 
 

read more about our health service in villages:

 
 
 
 
 
   
   
   
 

 

 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.