header
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English
 
 
Saksikan Video Dokumenter pelayanan PESAT Papua pada Suku Mek dan Suku Mamberamo >>
 

 

 
MELAYANI GENERASI ORANG PINGGIRAN  

Sekolah Anak Gasing

 

Sebuah parit besar mengalir jauh melintasi lahan gambut yang luas dan barak-barak hunian para buruh perkebunan sawit, sampai ke sungai besar di ujungnya dimana kapal-kapal pengangkut sawit lalu-lalang, mungkin saja jalur ini terhubung ke sungai Musi, Palembang.

 

PAUD yang dibuka PESAT di daerah kebun sawit
GASING - SUMATERA SELATAN/ MEI 2015

 

Bocah-bocah berlari berhamburan keluar dari kamar-kamar bedeng seketika mendengar deru mesin motor ibu guru. Kegembiraan yang luar biasa terpancar keluar dari wajah, mereka menyambut ibu guru seperti pahlawan pulang perang. Anak-anak beramai-ramai menggandeng ibu guru menuju sebuah petak sempit dimana mereka biasa belajar.

 

Di tengah lahan gambut dengan aroma rawa yang menyengat hidung, pukul 7:30 pagi sudah sangat terik, maklum saja karena seperti berada di tengah padang belantara tanpa satu pohon besar pun. Tempat ini bernama Gasing, sekitar 60 kilometer selatan kota Palembang. Barak-barak para buruh perkebunan kelapa sawit berjejer berhadapan dengan puluhan petak kamar yang dihuni para buruh dan keluarganya. Kondisinya cukup miris. Banyak anak-anak, dan mereka tidak pernah mengecap pendidikan. Bahkan yang usia belasan tahun pun belum sekolah.

Anak-anak penuh perhatian, sangat antusias pada pendidikan

Anak-anak sangat antusias, mereka sangat semangat untuk aktivitas taman kanak-kanak, bernyanyi dan menari dengan gerak dan lagu, belajar mengenal abjad, berhitung, mendengar berbagai macam cerita, serta berdoa. Wajah-wajah mereka seperti haus akan itu semua. Mereka seolah sudah tak sabar lagi, mengerumuni ibu guru sampai-sampai ibu guru kesulitan untuk merapihkan diri setelah menempuh satu jam perjalanan dengan motor melewati jalan tanah yang mengepulkan debu tanah merah ke udara.

Fitria (22) dan Masitna (20), ibu guru mereka, datang dari TK PESAT yang berada di pinggir kota Palembang, Sumatera Selatan, sekitar 30 kilometer dari situ, sangat bersemangat juga untuk mengajar. "Anak-anak di sini bukanlah tipe yang sulit diajar, mereka penuh perhatian, cepat mencerna pelajaran, patuh, dan punya semangat luar biasa," aku Fitria.

Di ruang berukuran 3 x 2,5 meter itu anak-anak penuh sesak, beberapa menulis dengan meja lipat namun yang lainnya menulis di atas lantai papan. PAUD ini baru berjalan lima bulan sehingga fasilitasnya belum sempurna. Meski demikian kegembiraan sungguh menyelimuti bocah-bocah menggemaskan ini.

 

Anak-anak TK di PAUD Gasing bersama para ibu guru

Untuk pendidikan, masalah utamanya adalah tempat tinggal mereka yang harus berpindah-pindah mengikuti kontrak kerja projek, jadi kalaupun anak-anak disekolahkan, pasti akan terputus-putus. Akhirnya, masa-masa sekolah mereka diisi dengan bekerja sebagai buruh tanam, lalu hanya memiliki tujuan hidup mencari uang saja. "Aku lebih baik bekerja, menanam biji sawit, sehari dibayar 80 ribu Rupiah," aku Depy, bocah 12 tahun, yang tidak sedikitpun terlihat gamang dengan keadaan ini. Ia seperti tidak punya impian untuk sekolah atau masa depan. Ini tentu karena ia tidak bisa melihat figur itu karena orang tuanya yang perantau pun hanyalah buruh yang tidak berpendidikan.

Depy sempat ikut belajar dalam kelas PAUD bersama bocah-bocah usia 5-7 tahun. Aku ingin belajar membaca dan menulis supaya lancar, akunya yang masih membaca terbata-bata. Tapi kadang ia merasa malu juga karena belajar bareng dengan anak-anak TK.

sekolah anak gasing
sekolah anak gasing   sekolah anak gasing
DI PETAK BEDENG YANG SEMPIT INILAH ANAK-ANAK BURUH SAWIT PENUH SEMANGAT BELAJAR

"Sebagian orang tua masih berat hati untuk memasukkan anaknya sekolah, apalagi karena di lokasi itu tidak ada sekolah. Ditambah lagi dengan paradigma mereka bahwa tidak sekolah juga tetap bisa hidup," terang Kepala TK Terpadu Kasih Bunda Emy Dachi yang berencana akan membuka PAUD serupa di barak buruh sawit lainnya agar lebih banyak lagi anak-anak yang haus pendidikan ini bisa dijangkau.

Anak Gasing senyum bahagia menyambut hadir ibu guru

Meski demikian, cukup banyak orang tua yang merasa bersyukur PAUD dibuka di sini. "Saya tidak mau anak saya bernasib sama seperti orang tuanya, hanya menjadi buruh, terima kasih PAUD dibuka di sini untuk anak-anak kami," ujar Lusi (35) buruh asal Nias. Bahkan seorang ibu berusia 60 tahun yang telah menjadi buruh di sini selama 15 tahun sangat senang melihat anak-anak bisa sekolah, punya cita-cita, dan tidak berakhir seperti kedua anak lelakinya yang tumbuh dewasa dan tetap menjadi buruh sawit. (feby/tony)

 

 

 
 
 
 
 
 
 
 

 

 

 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.