Share
 
www.pesat.org
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English
PROGRAM
Layanan
Pendukung
Program Khusus

 

 
 

long bawan

 
Membangun Generasi Dayak Lundayeh
 

“Sepotong surga yang jatuh ke bumi”, Yohanna Ginting membuka percakapan sambil menyusuri jalan tanah liat yang meliuk di antara lebatnya hutan bercampur sabana.

 

Saya pun mengiyakannya karena panorama yang indah dimana bukit-bukitnya selalu di bekap awan, air mengaliri bumi dan matahari bersinar sepanjang musim. “Padi gunung dan buah-buahan hutan melimpah sepanjang tahun, tak perlu pupuk dan tak perlu obat anti hama,” lanjutnya.

Bahkan gunungnya pun menyediakan garamnya sendiri. Mungkin ini sedikit tempat di dunia, berada di ketinggian lebih hampir 1000 meter dan ratusan kilometer jaraknya dari tepi laut tapi ia memiliki satu mata air yang airnya bisa dibuat garam. Bumi ini sungguh diberkati.

Kita harus terbang untuk sampai ke sini, ke negeri para Dayak Lundayeh, karena memang tidak ada jalan darat yang bisa mencapainya. Saya sempat bertanya dari mana orang-orang ini bermigrasi sehingga bisa “terperangkap” di tengah-tengah pegunungan di wilayah Kalimantan Timur sebelah utara, namun tak seorangpun yang menjawab pasti.

Mereka menamai tempat ini Long Bawan dan wilayahnya berbatasan darat dengan Malaysia. Sebagian besar mereka adalah petani dan peternak, komunitasnya tinggal di desa-desa mereka yang bersuhu dingin di mana hutan hujan tropis yang perkasa menaungi dari atas.

 

People of Dayak Lundayeh

Menghidupkan Pendidikan yang Mati

Sekolah SMA pertama di Krayan-Long Bawan ini mendidik 13 murid pada awalnya, dan usia mereka bukanlah usia yang normal untuk anak SMA, sebagian telah berusia 20 tahunan. Tidak sampai di situ, mereka juga bahkan tidak bisa baca-tulis.

“Di kelas satu (SMA) kami mengajari mereka membaca dan menulis,” kenang Ir. Benny sambil tersenyum. Dan hal ini terus berlangsung hingga beberapa angkatan tahun ajaran kemudian.

Ini terjadi karena lemahnya sumber daya guru pada jenjang pendidikan di bawahnya serta rendahnya minat belajar para murid. Dulu, tamatan SMP dipaksa mengajar di SD karena tidak ada guru, padahal wawasannya masih dalam tahap awal pengenalan ilmu pengetahuan, jelasnya.

Angka buta huruf dan pendidikan rendah begitu tinggi, menerima murid lulusan SMP dalam kondisi buta huruf menjadi tantangan tersendiri bagi para guru waktu itu. Tapi optimisme dan kegigihan bisa menjawab semuanya. “Kami tak mungkin menolak murid yang “berijasah” SMP dan mengembalikan mereka dengan alasan tidak bisa baca,” Yohanna Ginting melanjutkan.

 

Tiga Belas Tahun Kemudian

Maret 2009, SMAK Terpadu sedang bersiap untuk meluluskan murid angkatan ke XIII-nya dalam menghadapi ujian akhir nasional (UAN), setelah tahun sebelumnya 98 dari 100 muridnya lulus ujian tersebut. Satu prestasi yang patut disyukuri, suatu angka kelulusan yang tinggi untuk sebuah SMA di pedalaman rimba Kalimantan, mengingat UAN sangat ditakutkan di banyak daerah di Indonesia.

Senja perlahan turun di tengah hutan yang berkabut dingin itu, saya disapa “Selamat sore, Pak!” dibarengi dengan senyum cerah beberapa siswa-siswi berseragam SMAK Terpadu yang memandang berbinar ke arah saya, seragam mereka tampak basah karena hujan yang mengguyur, beberapa bertelanjang kaki dibalut tanah liat. Saban hari mereka harus berjalan selama empat jam pergi-pulang melewati jalan berlumpur yang rawan longsor. Sebagian murid memang tinggal di desa-desa di balik bukit. Semangat! Itu yang dapat saya tangkap dari perjuangan mereka.

Hingga kini SMAK Terpadu tetap konsisten dengan kualitasnya; dilihat dari pembinaan karakter murid, fasilitas sekolah (laboraturium dan perpustakaan), serta yang terpenting kualitas intelektual murid yang dihasilkan. “Kami para guru menanamkan nilai-nilai kekristenan di setiap bidang studi, dan di setiap kesempatan di sekolah ini,” lanjut Pak Benny, kepala sekolah bertitel insinyur ini.

Alumni sekolah ini kebanyakan sudah menjadi sarjana, dokter, guru, hamba Tuhan, PNS, polisi, pengusaha, bahkan pilot, dan mereka tetap menjadi anak Tuhan yang baik meski telah berada jauh di luar desa mereka.

murid-murid kelas XI SMA Krayan 2008

Lebih dari satu dasawarsa terakhir, PESAT hadir di sini untuk membangun generasi Lundayeh melalui pendidikan formal dan non formal. Yohanna Ginting, tokoh yang bertutur pada paragraph pertama adalah sosok yang telah melakoni pelayanan ini sejak 1996. Ia dan suaminya, Ir. Benny BS, beserta Dra. Adel Vina menjadi pengajar di SMA pertama yang dibuka di daerah terpencil ini. SMA Kristen Terpadu, desa Krayan, Kec. Long Bawan, Kab. Nunukan, Kalimantan Timur.

Ditanya apa harapannya ke depan, Ir. Benny menjelaskan kalau ia sangat rindu suatu saat kelak sekolah ini diajar oleh guru-guru lokal, para Dayak Lundayeh, dan bukan lagi pendatang. Makanya sejak beberapa tahun belakangan ia mulai mempersiapkan regenerasi ini dengan mengarahkan murid-murid yang kuat di bidang studi tertentu agar mau kembali ke Krayan dan mengajar di SMA setelah mereka selesai kuliah. (tony) Mar2009

 
...........................................................................................
 
 
TORAJA: Bapak Pendidikan bagi Simbuang

 

 
 
 
 
 
 
Wisata Misi Mission Trip
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.