header traveller
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
CATATAN PERJALANAN  

Anak Nias, di Keterpencilan Daratan

 
traveller's note - nias
LAGUNDRY BAY, NIAS ISLAND

 

Terik matahari menerpa pohon-pohon kelapa yang melambai, batu karang dan pasir pantai berkilauan dikelilingi warna biru lautan nan luas. Itulah gambar yang kita lihat dari langit. Mengapung di lautan Hindia diantara untaian pulau sepanjang pantai barat Sumatera, pulau Nias terpisah dari daratan Sumatera oleh palung laut yang dalam. Pulau eksotis dengan peradaban megalith yang tua.

 

Keluar dari bandara Binaka, kami langsung menemukan satu rumah orisinil orang Nias yang unik. Jalan utama di pulau ini sudah dibalut aspal dan itu yang membawa kita ke daerah-daerah disana di sepanjang tepian pantai. Tujuan pertama kami adalah TK Dian Terpadu, Taman Kanak-kanak pertama yang didirikan di pulau Nias. Letaknya bukan di kota, tapi di sebuah dusun dibalik kelebatan hutan, namanya dusun Namuhalu Esiwa dan ia berada di ujung paling barat pulau. Sengaja demi menjangkau generasi di keterpencilan daratan.

Berkunjung ke sini serasa menelusuri kehidupan masa lalu, waktu seakan berhenti. Orang-orang masih hidup sangat sederhana di rumah-rumah kayu mereka di kiri-kanan jalan. Rumah mereka saling berjauhan, hanya kesunyian yang kami tangkap sepanjang perjalanan. Penduduknya rata-rata bertani, saat TK didirikan tahun 1996, ibu guru masih menemukan banyak orang buta huruf. 

Sampai kini desa ini masih susah air. Para ibu guru memanfaatkan air hujan, malah saat kemarau mereka harus mengambil air di sungai sejauh 2 kilometer. Lebih parah lagi kalau mereka terpaksa memakai air yang terperangkap di cekungan tanah yang bercampur dengan telur-telur katak. Di usia yang ke 18 tahun ini TK Dian Terpadu sedang mendidik 34 murid penuh semangat, sesemangat empat orang ibu gurunya.

traveller' note-nias

Cerita tentang Taman kanak-kanak di Nias tak berhenti hanya sampai di Namuhalu, melintasi ratusan kilometer dari ujung ke ujung pulau kami menjumpai 4 TK lainnya. Kali ini kami melanjutkan perjalanan ke bagian selatan pulau. Semakin banyak menjumpai rumah-rumah tradisional orang Nias yang terbuat dari kayu dan beratap daun kering, arsitekturnya pun sangat khas, tidak ada di tempat lain. Di daerah pedesaannya tidak banyak yang berubah dalam sepuluh tahun terakhir, pembangunan nampaknya berjalan lumayan lamban di sini.

Kemudian kami tiba di kecamatan Bawolato, dua jam dari Gunung Sitoli dimana TK Imanuel Terpadu berdiri tak jauh dari pantai. Pagi itu sangat cerah dan TK penuh sesak dengan anak-anak kecil, sungguh keriuhan yang gembira. Hari ini akan panjang, karena usai TK nanti kelas akan dipakai untuk kegiatan Future Center. Anak-anak usia SD pun berbondong-bondong datang, ini seperti sebuah pusat pendidikan.

Akhirnya aktivitas TK dan FC yang melelahkan itu usai juga. Usai makan siang, ibu guru membelah kelapa muda untuk kita minum bersama, sungguh memanjakan tenggorokan kami yang kering. Sedikit rekreasi, tak terlalu jauh dari TK kita bisa mencapai Pantai Sorake dan Lagundry Bay, spot surfing terkenal di dunia, kami pun berjalan menuju pantai melewati senja di atas pasir memandang ke lautan lepas, hanya camar yang terbang, tak nampak secuil daratan pun disana. Nothing but the ocean. (tony)

 

trveller's note

 

 
 
 
 
 
 
 
v Baca kisah perjalanan lainnya :    
traveller- catatan perjalanan ke lembah baliem   toraja note   Mahakam
         
Traveller Boyolali Highland        

 

 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.