Catatan para Pejalan
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English

 

 

 

 

 

 

 

 

 
CATATAN PERJALANAN  

Lembah Baliem, dan Kami Sampai ke Ujung Bumi

 
Traveller - Baliem Valley
LEMBAH BALIEM, PAPUA, MARET 2014

 

Burung besi  menerbangkan orang-orang dari bandara kecil di tepi danau di kota Sentani, pinggiran ibukota propinsi Papua, Jayapura. Melewati puncak-puncak gunung bercadas lalu melayang turun dan hinggap di lembah.

 

Wamena adalah sebuah distrik di kabupaten Jayawijaya, kota kecil nan terpencil di ketinggian 1600 hingga 1700 meter dari permukaan laut, ia seperti mutiara yang berkilauan di tengah Lembah Baliem, di aliari oleh Sungai Baliem dan dikelilingi gunung-gunung tinggi Jayawijaya.

Di sekitar Wamena terdapat wilayah-wilayah yang merupakan tempat tinggal suku Dani dan beberapa suku lainnya yang hidup bertetangga di lembah ini yakni Suku Yali dan Suku Lani.

Sebagaimana halnya kebanyakan kota-kota di pedalaman Papua, perkembangan kota ini dimulai dari daerah di sekitar bandar udara. Pertokoan dan pasar dengan wajah-wajah non-Papua nampaknya adalah pemandangan yang sangat mencolok di sepanjang jalan-jalan utama Wamena. Tak kalah mencoloknya adalah anak-anak asli Papua usia sekolah yang dalam kelompok-kelompok kecil bergerombol di depan pertokoan atau jalan-jalan. Kebanyakan mereka tidak sekolah lagi.

Menurut sumber di sana, selain masih rendahnya kualitas pendidikan di mana program pendidikan gratis yang tidak berjalan,  banyaknya sekolah di wilayah pinggiran yang tidak beroperasi  mengakibatkan banyak anak putus sekolah, dan sebagian anak akhirnya menjadi anak jalanan di Kota Wamena.

Traveller- Lembah Baliem murid SD

Selang beberapa menit dari bandara Wamena, kita tiba di SD Triesa Unggul Terpadu, sekolah dasar PESAT yang berdiri sejak tahun 2007. Pagi itu angin membawa hawa dingin behembus dari puncak Jayawijaya, mengalahkan sengatan terik matahari yang mengigit kulit. Memasuki halaman sekolah, kami disambut senyuman dari wajah-wajah mungil berwarna gelap dengan rambut keriting yang unik, dengan mata bulat berbinar  dan gigi-gigi putih yang berbaris rapih.

Saya sangat terpesona dengan keindahan mata dan manisnya senyuman mereka. Begitu tekun mereka belajar, hikmat mendengar ajaran para guru di kelas. Hingga akhirnya dikagetkan oleh gema lonceng tanda pulang. Mereka pun kembali berhambur ke luar kelas dan berlari di halaman sekolah, saya baru sadar banyak mereka yang mengenakan seragam yang kumal, sepatu usang dengan kaos kaki yang sobek berbalut lumpur kering.

"Banyak dari mereka berasal dari keluarga miskin," sang wakil kepala sekolah Yunita Samaah, S.Pd berkisah. "Kebanyakan masih hidup secara komunal, dalam satu rumah bisa sampai lima keluarga tinggal bersama, dan sang ibu biasanya sibuk mencari makan dengan berkebun atau menjual hasil kebun mereka ke pasar, akhirnya anak-anak tidak mendapat perhatian cukup," lanjut perempuan Toraja ini.

Sekolah yang mendidik 130 murid ini pun tidak mematok uang bayaran sekolah, para orang tua yang miskin boleh membayar semampu mereka. Bahkan seragam sekolah, buku, dan alat tulis pundiberikan cuma-cuma bagi anak-anak dari keluarga tak mampu.

Dari SD Triesa Unggul kami berangkat menuju lorong Kampung Hetuma di daerah Potikelek dimana sebuah SMP dibuka PESAT lengkap dengan Pondok Bina Siswa, sebuah asrama yang membina anak-anak asli Papua yang terlantar. Tak jauh dari sini ada perkampungan asli beberapa suku yang berdiam di dalam hutan di sepanjang aliran sungai.

Di Lembah Baliem, PESAT telah memulai pelayanan sejak tahun 1994, diawali dengan mendirikan sekolah berasrama yang mendidik anak-anak dari berbagai suku di Lembah Baliem. Sebuah sekolah yang berdiri di tengah padang sabana, satu pedataran luas bekas lokasi perang antar suku dahulu yang dihibahkan sang Kepala Suku Lani.

Masyarakat Lembah Baliem memiliki budaya yang kaya, jika kita datang ke sini, bulan Agustus adalah waktu yang tepat karena kita bisa menyaksikan kekayaan budayanya dalam festival Lembah Baliem. (tony)

 

traveller-murid SD lembah baliem

 

 
 
 
 
 
 
 

Traveller-SD Triesa Unggul Lembah Baliem

MURID SD TRIESA UNGGUL TERPADU, LEMBAH BALIEM, PAPUA, MARET 2014

v Baca kisah perjalanan lainnya :    
Traveller Boyolali Highland   toraja note   Mahakam
         
         
  Kisah inspiratif lainnya:

 

 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.