www.pesat.org
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English

 

village magz
EDISI AGUSTUS 2016

MENU

-------------------
 
LAMPUNG;MEMBANGKITKAN GENERASI ANAK TRANSMIGRAN READ MORE >>
 
------------------
PAPUA: RAYAKAN SERAGAM SEKOLAH.. READ MORE >>
 
------------------
ANAK LAUJE PERTAMA YANG SEKOLAH: BELIKAN KAMI COCA-COAL. READ MORE >>
 
------------------
 
 
 
 

 

Isen dan Sulvian, Orang Lauje pertama yang bersekolahFOTO: HENDRIK MANGUNGSONG

ORANG LAUJE PERTAMA YANG SEKOLAH DAN TAMAT SD

"Belikan saja kami Coca-Cola"

Isen dan Sulvian (14) menuruni pegunungan berkabut, rumah mereka di dataran tinggi. Mereka harus mengikuti ujian Akhir Nasional di kota.

Suasana kota kecamatan di pesisir pantai di bibir teluk Tomini tidak terlalu ramai seperti kota-kota pesisir lainnya di Sulawesi. Hanya dermaga perahu-perahu ikan dan pasar rakyat yang membuatnya sedikit hidup. Tapi toh, ini tetap pemandangan yang tidak biasa bagi Isen dan Sulvian yang biasa menghabiskan hari-harinya di rimba belantara.

Pagi itu didampingi para guru PESAT mereka datang ke SD Negeri di kota kecamatan, nama mereka sudah terdaftar di sana sebagai peserta ujian akhir nasional (UAN), karena sekolah mereka di atas gunung sana statusnya adalah SD kelas jauh jadi tidak bisa menyelenggarakan ujian.

Sama seperti murid-murid lainnya di kota itu, Isen dan Sulvian juga mengenakan seragam lengkap SD; kemeja putih tersetrika rapih dengan dasi merah tersimpul di leher, kaos kaki setinggi lutut dan sepatu ket hitam, mereka berjalan penuh percaya diri memasuki halaman sekolah, meski agak canggung karena tidak kenal dengan murid-murid yang lain di SD itu yang semuanya anak kota.

"Tadi malam aku tidak bisa tidur, deg-degan terus," aku Isen. Pagi-pagi buta mereka sudah bangun, kata pak gurunya. Mata pelajaran yang diujiankan adalah Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Para guru menanti di luar sekolah, sedikit tegang juga. Murid-murid kelas 6-nya yang kini berusia 14 tahun ini, jika mereka berhasil dalam UAN ini, bakal menjadi buah pertama dari pelayanan PESAT selama 7 tahun di suku terasing Lauje.

Suku yang kehidupannya masih tertinggal seratus tahun dari peradaban modern kita, tidak pernah ada sekolah di sana, mereka tidak kenal tulisan, bahkan tidak berpakaian. Mereka masih menjalankan kehidupan suku-suku kuno yang memperihatinkan.

Akhirnya tiga hari berlalu, dan Isen serta Sulvian menyelesaikan UAN mereka. Ditanya bagaimana perasaannya mengikuti UAN, Isen hanya tertawa-tertawa kecil saja sambil menyeringai, "Soalnya gampang-gampang!" yang lalu diikuti tawa para guru. "Lebih sulit soal matematika yang biasa kita kerjakan di kelas," tambahnya lagi.

Untuk menghadapi UAN ini, para guru di atas gunung sana memang telah memperisapkan mereka dengan bimbingan belajar yang rutin setiap hari selama 5 bulan. "Pulang sekolah, mereka mulai kita bimbel dari jam 14:00 sampai jam 16:00," ujar Hendrik. Puji Tuhan kalau akhirnya mereka bisa berhasil.

Bapak dan ibu guru ingin kasih hadiah kalau kalian bisa mengerjakan UAN dengan baik, "kalian mau hadiah apa?" tanya pak guru Hendrik. "Kami ingin minum coca-cola," ucap Isen dan Sulvian semangat.

Hanya sesederhana itu, minum coca-cola adalah hal yang sangat biasa bagi kita, tapi tidak bagi Isen dan Sulvian, itu adalah sebuah lompatan raksasa bagi peradaban suku mereka. Isen dan Sulvian adalah orang pertama di suku mereka yang bersekolah dan mengikuti Ujian Akhir Nasional. (TON)

 

 

 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.