header traveller
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English

catatan perjalanan:

traveller- catatan perjalanan ke lembah baliem

 

toraja note

 

Mahakam

 

 
 
Saksikan Video Dokumenter pelayanan PESAT Papua pada Suku Mek dan Suku Mamberamo >>
 

 

 
CATATAN PERJALANAN  

Negeri di Awan

 
Ladang Tembakau
HAMPARAN TUMBUHAN TEMBAKAI DI KAKI GUNUNG MERBABU

 

Semerbak harum bagai candu mengikuti ke segala arah di sepanjang jalan yang meliuk di antara hamparan ladang tembakau. Bunga-bunga ungu kemerahan bermekaran di pucuk-pucuk daunnya. Bias-bias fajar pagi baru saja menerobos bukit-bukit biru yang penuh embun.

 

 

Sosok-sosok bermunculan  di antara daun-daun yang sangat lebar itu, mereka para pemetik tembakau. Ini awal September, musim panen tembakau di dataran tinggi Boyolali, Jawa Tengah.

Para pemetik tembakau ini adalah buruh panen yang tidak memiliki ladang, mereka diupahi untuk setiap kilogram daun yang dipanen selama sehari penuh. Siang telah berangkat dan teramat terik, sedikit terapi bagi para buruh petik, namun semilir angin berhembus dingin seperti membelai lembut mereka.

Dari perladangan di lereng perbukitan kita turun ke dukuh-dukuh di bawahnya, tepi kiri dan kanan jalan sejauh mata memandang dipenuhi dengan jejeran tembakau rajaman yang dijemur. Hiruk-pikuk penduduk desa yang sedang sibuk membolak-balik anyaman bambu penghampar tembakau begitu hening, hanya senyuman yang tak bosan dilemparkan ke arah kami.

Ini adalah dukuh Purwosari, tak jauh dari ladang tembakau terakhir, berdiri dengan anggun TK Sion Tridamarsari, dimana Ibu guru Seh Rahayu mendidik 39 anak setiap pagi. Sebagian besar penduduk Purwosari adalah pemeluk Kristen dan penganut Budha, namun Seh Rahayu melayani semua anak dengan kasih tanpa membeda-bedakan mereka.

Lereng Merbabu

Usai menyantap makan siang nasi rawon, secangkir teh, dan sepotong semangka manis sebagai penutup, kami melanjutkan perjalanan dengan terus menambah ketinggian menuju dukuh Tumut, sekitar satu jam perjalanan dengan sepeda motor. Perjalanan yang cukup berbahaya; dimana jalan setapak berbatu dengan jurang menganga di bawah serta selimut kabut yang menghalangi pandangan menjadi pemacu adrenalin. Dukuh Tumut berdiri mencakar langit dan berhadapan muka dengan puncak gunung Merapi yang kaldera barunya masih mengepulkan asap.

Memasuki gapura dukuh, undak-undakan anak tangga batu yang menurun curam sejauh 50 meter mengantarkan kami ke "lantai dasar" dukuh Tumut. Nuansa arsitektur Jawa masih tetap tampak pada puluhan  rumah di sana, meski unsurnya  jelas meminimalisir peran bambu dan kayu, kebanyakan dinding rumah dibuat dari susunan batu gunung.  Modifikasi arsitektur lokal ini mungkin adaptasi terhadap kondisi iklim yang sangat dingin. Begitu tiba di dasar, gapura dan separuh anak tangga tidak lagi terlihat karena diselimuti awan, imajinasi kami bermain; ini seperti tangga menuju ke sorga!

Di sini kita bersua dengan Yulia Tasmini, Ibu guru TK Lentera Kasih yang mendidik anak-anak dari beberapa pedukuhan. Orang-orang di sini begitu ramah, sehingga dengan mudahnya mereka tersenyum ketika disapa. Rona-rona kemerahan mewarnai wajah setiap mereka, salah satu ciri orang-orang dataran tinggi. Penduduk Jrakah sejak berabad lalu telah menghuni wilayah dataran tinggi Boyolali. Pedukuhan yang selalu dibekap kabut dan berselimut awan, dukuh terpencil yang berbatasan langsung dengan cakrawala. (*)

tumut

 

 

 
 
 
 
 
 
 

 

 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.