www.pesat.org
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English
 
 
 
LAMPUNG  

Membangkitkan Generasi Anak Transmigran

 
 
Murid TK Hermon
SEORANG MURID TK HERMON TAMPIL MENYANYI DALAM CIRCLE TIME BERSAMA TEMAN-TEMANNYA

 

Empat jam dari Bandar Lampung, desa-desa transmigrasi di Lampung bagian Utara ini masih menyisakan kenangan kerasnya perjuangan manusia untuk bertahan hidup. Sejak 27 tahun lalu PESAT telah mendirikan TK-TK di sana, lalu bersama berjuang untuk kehidupan yang lebih baik..

 

Taman Kanak-kanak PESAT di tujuh lokasi di Lampung memang didirikan di desa-desa yang dulunya adalah desa tertinggal dan miskin, selama 27 tahun TK telah turut membangun, mengangkat harkat hidup masyarakatnya hingga kini, puji Tuhan, kita bisa melihat desa yang lebih baik," Imannuel Nathan, Kepala Cabang PESAT untuk wilayah Lampung membuka percakapan di halaman TK Hermon di desa Ringinsari.

Para guru di ketujuh TK yang menyebar di hampir seluruh pelosok Lampung ini menjadi saksi dari tumbuhnya generasi baru di desa-desa transmigran ini. Dulu, alasan mengapa kami mengawalinya (pelayanan) dengan Taman Kanak-kanak, adalah karena kami melihat anak-anak di desa-desa trans ini tidak bisa mengakses ke pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan, mereka juga bertumbuh dibawah bayang-bayang malnutrisi dan itu semua sudah dimulai sejak mereka di usia dini. Tentu hal ini adalah penghambat dalam pembangunan generasi, dan itu yang memang diusahakan PESAT di desa-desa miskin di Lampung, jelas Imannuel.

Masalah umum yang di beberapa desa masih saja tetap kami hadapi sampai sekarang adalah sikap masyarakat yang kurang peduli dengan pertumbuhan anak-anak mereka, baik dari segi fisik seperti gizi dan dari segi intelektual seperti pendidikan. Tidak dipungkiri, kesulitan ekonomi juga sangat berpengaruh, tapi ketidaktahuan kerena kurang pengetahuan tentu bisa kami usahakan dengan sangat cepat. Di seluruh desa dimana TK berada para guru secara rutin dan berkala juga memberi penyuluhan kepada masyarakat.

“Kami mengundang masyarakat ke TK, dimana disana kita biasa mengadakan semacam seminar sederhana tentang pengadaan makanan bergizi yang bisa kita usahakan, lalu tentang bagaimana mendidik anak yang semestinya, tentang kesehatan tubuh, dan banyak lagi, dan masyarakat memang menanggapinya dengan antusias. Beberapa mengatakan bahwa mereka bersyukur bisa mendapat banyak pengetahuan justru dari TK,” Koordinator Future Center Lampung Wenti menambahkan.

Membangun generasi itu harus berkesinambungan, jadi setelah anak-anak tamat dari TK, maka tidak hilang begitu saja, para ibu guru tetap mendampingi mereka, dengan bimbingan belajar yang kemudian bisa mendampingi mereka bertumbuh, sehingga mereka tidak merasa berjalan sendirian. Karena hampir semua anak minim pembimbing belajar, terlebih mereka yang hidup tidak bersama orang tua karena orang tua bekerja di tempat lain yang jauh.

Di desa Ringinsari dimana TK Hermon juga meluncurkan Future Center sejak November 2007, selama 11 tahun, dan anak yang dibimbing kini sudah ada yang duduk di kelas 3 SMA. Karena anak-anak sebagian sudah remaja, kami harus bisa melihat kebutuhan mereka di usia itu, kami membuka kegiatan-kegiatan interaktif mulai dari dialog, diskusi hingga seminar.

Misalnya, setelah observasi satu tahun belakangan ini kami lebih sering melihat anak-anak remaja mulai banyak menghabiskan waktu mereka dengan bermain ponsel, maka kami pun membuat seminar tentang “Manfaat Ponsel”. Disamping para ibu guru juga membuka diri menjadi “teman curhat” yang dibagian ini memang menjadi kendala bagi para orang tua dalam komunikasi dengan anak-anak remaja mereka. Terlebih anak-anak yang membutuh-kan perhatian dan kasih karena tidak memiliki orang tua.

Memang masalah serupa ini tetap akan selalu ada dimanapun dan kapanpun, kami tidak menganggapnya sebagai masalah, tetapi sesuatu hal yang butuh diperjuangkan. Selama 27 tahun hadir di desa-desa transmigrasi ini tentu memberi dampak signifikan, dahulu masih sedikit yang tamat SD dan banyak yang menikah muda. Kini banyak yang lulus SMA dan bercita-cita pergi ke universitas, setelah usaha kita memunculkan, mengarahkan, dan memban-tu anak-anak mencapai potensi maksimal mereka.

Meski memang mereka belum terlepas sepenuhnya dari kesulitan, karena toh setelah generasi kesekian mereka tetap masih anak-anak dari buruh cabut singkong, buruh tebas tebu, buruh sawit, atau perani karet yang hidup pas-pasan. (ton)

 

v Baca kisah perjalanan lainnya :    
traveller- catatan perjalanan ke lembah baliem   toraja note   Mahakam
         
Traveller Boyolali Highland        

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.