headerx
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English
 
 

 

 

 

rubrik mendidik anak

the power of resilience

MENDIDIK ANAK TANGGUH

The Power of Resilience

 

Anak-anak yang mudah menyerah pada tantangan, cenderung menghindari situasi yang sulit, dan cepat putus asa. Mereka tidak akan mencapai kapasitas maksimal dalam hidupnya. Lalu, bagaimana melatih anak supaya punya daya juang tinggi?

 

Suatu hari saat menjemput pulang sekolah, anak saya berkata, bahwa dia ingin pindah sekolah saja. Pada waktu itu dia baru saja naik ke kelas 6. Beberapa waktu kemudian baru saya tahu, ada beberapa kejadian di kelas yang menekan anak saya. Itu membuat dia ingin pindah sekolah.

Lari dari situasi adalah cara yang paling mudah dilakukan. Itu sebabnya banyak anak-anak sekolah membolos, kalau ada guru yang galak, atau pada saat tidak buat tugas, dsb. Pada waktu itulah saya juga menyadari bahwa anak saya tidak setegar yang saya bayangkan.

Penelitian membuktikan bahwa bukan anak-anak ranking 1 yang banyak berhasil dalam hidup, tapi anak-anak yang ulet dan mau berjuang, banyak membuahkan hasil yang luar biasa. Banyak orang sangat peduli pada prestasi akademis dan mengabaikan kekuatan mentalitas seseorang.

Anak-anak yang mudah menyerah pada tantangan, cenderung menghindari situasi-situasi yang sulit, cepat putus asa, tidak akan mencapai kapasitas maksimal dalam hidupnya.

Hal hal yang menyebabkan seorang anak memiliki daya juang yang lemah :
Perlindungan yang berlebihan dari orang tua dan orang-orang dewasa di sekitarnya. Sehingga anak tidak punya kesempatan untuk melatih keterampilan melindungi diri sendiri. Kadang sebagai orang tua kita bangga, kalau sangat dibutuhkan oleh anak-anak kita. Itu menyebabkan kadang kita melebihi batas perlindungan yang seharusnya kita berikan.

Paham kargoisme, yang mengajarkan bahwa kenyamanan hidup dapat menggantikan segalanya. Anak-anak yang dengan mudah mendapatkan barang-barang yang diingini, tidak diajar bekerja untuk medapatkan yang diinginkan, semuanya didapat dengan mudah.

Berpikir bahwa memberi barang-barang atau kemewahan adalah bukti kasih. Anak-anak tidak diperkenalkan pada kesulitan hidup. Tanpa sadar membuat anak-anak berpikir bahwa dunia ada dalam kontrolnya, dan ketika suatu kali mengalami kejadian yang tidak sesuai dengan keinginannya cenderung untuk menghindar, marah atau putus asa.

Pengaruh media saat ini. Beberapa tahun terakhir tidak dapat dipungkiri, media memegang kendali hidup banyak orang. Dengan perkembangan teknologi, tempat bermain anak di tempat umum semakin sepi pengunjung, karena mereka sudah memiliki taman bermain sendiri. Cukup dengan memberikan HP, anak-anak tiba-tiba menjadi anak manis yang tidak perlu keluar rumah.

Yang lebih mengkhawatirkan, anak-anak ini tidak dilatih untuk berjuang, hanya duduk dan bermain jari mereka sudah puas. Tidak perlu bersaing secara nyata dengan teman-teman, semua terjadi di dunia maya yang tidak menyakitkan. Tapi justru membahayakan, karena kalau anak tidak mengenal rasa sakit secara nyata, dia juga tidak belajar untuk mengatasi rasa sakit tsb.

Bagaimana melatih anak memiliki mental pejuang?

Beri rasa aman pada anak sejak masa kecil mereka sebagai dasar untuk bertumbuh. Rasa aman tidak sama dengan memanjakan. Memberi rasa aman adalah memberikan apa yang mereka butuhkan pada saat dan cara yang tepat, bukan hanya kebutuhan jasmani, tapi juga jiwa dan roh. Rasa aman yang cukup akan menjadi benteng pertahanan dalam jiwa anak-anak. Orang tua lebih tahu apa yg baik yang dibutuhkan oleh anak, bukan anak itu sendiri.

Jangan pernah menyerah dalam mengasuh anak, sesulit apapun anak kita, jangan pernah menyerah. Walau mungkin membutuhkan banyak waktu, air mata, pengorbanan, teruslah berjuang. Anak-anak yang melihat orangtua yang mau memperjuangkan hidupnya akan belajar berjuang.

Jangan ambil kesulitan dari hidup mereka. Biarkan anak-anak mengalami kegagalan, itu bagian dari proses pembelajaran. Tapi jangan menolaknya, ketika ia gagal, tapi beri kekuatan untuk menghadapi kegagalan dengan sikap benar. Tugas kita adalah mendampingi mereka melewati masa-masa sulit dan memenangkannya. (Lisa)

“TIDAK AKAN ADA KEMENANGAN TANPA PEPERANGAN, TIDAK AKAN ADA PAHLAWAN TANPA PERJUANGAN”


 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.