www.pesat.org
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English

 

 

SEkolah Suku Kabut Lauje

 

Sekolah Suku Kabut Lauje

 

Siavu berarti samar-samar. Ini karena puncak pegunungan ini selalu diliputi awan sepanjang waktu, sulit terlihat. Pada akhirnya Siavu identik dengan mereka yang masih mendiami dataran tinggi, tak terlihat, terasing, dan tertinggal. Lauje Siavu masih menjalankan kehidupan suku-suku kuno melintasi masa kini.

 

Tapi Kini setiap pagi sekitar 40 Anak Lauje usia sekolah berlari beriringan menuruni puncak-puncak gunung untuk tiba di sekolah yang didirikan Doni dan Rani.  Wajah mereka Nampak ceria dengan selembar buku dan sebuah pena di dalam kantong plastik yang dirangkul di dada. Sekolah darurat Doni dan Rani berdiri sendirian di lereng gunung di bibir lembah yang dalam. 

Sekolah itu mengajar banyak hal secara informal, ada pelajaran pola hidup sehat yang mengajarkan bagaimana menggosok gigi, mandi dengan sabun, mencuci pakaian, hingga menggunting rambut dan kuku, lalu belajar membaca dan menulis, latihan memegang pensil, kemudian meningkat dengan pelajaran matematika dasar dan ilmu pengetahuan alam. “Tidak mudah mengajar mereka secara formal pada awalnya, selain tidak berbahasa Indonesia mereka pun belum mengenal budaya tulis-menulis, bayangkan memegang pensil saja mereka tidak bisa, apalagi menulis,” Doni mengisahkan. 

Mereka sangat antusias dengan sekolah, ketika awal dibuka anak-anak sampai orang tua ikut serta. Mereka ingin sekolah seperti orang-orang di dataran rendah. (tony)

 

 

SD Mootuwu Terpadu   Pembawa AKsara ke Suku Lauje   Isen  
Resmikan Sekolah utk Anak Suku Lauje   Pembawa Aksara ke Suku Kabut   Sepatu Pertama Suku Lauje  

 

___________________________________________________________

 

>> Sekolah di Suku Wana
---ditulis oleh: Tony

Suku Wana adalah satu suku terasing yang mendiami belantara di wilayah Sulawesi Tengah. Mereka membuat rumah dan tinggal di atas pohon. Suku ini pun enggan bertemu dengan orang luar. Mereka telah lama terisolasi dari peradaban modern.

Anak Wana Belajar Menulis  

Populasi Wana sekitar 8000 jiwa dan hidup tertinggal di semua aspek kehidupan. PESAT menjangkau mereka dengan program pendidikan. Sepanjang tahun 2007 saja kami telah melayani anak usia TK, SD, dan SMP.

Jumlah mereka yang ikut pendidikan terus meningkat dari waktu ke waktu. Pengetahuan umum telah banyak merubah pola hidup mereka menjadi lebih baik.

Kisah Anak Wana: "Pengalaman Pertama ke Kota"

Adalah ulang tahun PESAT ke-20 yang membawa anak-anak dari pedalaman rimba Sulawesi ini ke kota Jakarta dan Suarabaya. Ini kali pertama mereka melihat dunia lain diluar dunia keseharian mereka di lereng-lereng pegunungan di sana.

  Anak-anak suku Wana ini berusia 9 dan 10 tahun, perkenalan dengan PESAT beberapa tahun silam telah membangun kehidupan masyarakatnya. Kini jumlah anak-anak seusia mereka mencapai hampir 100 anak yang dilayani di hutan sana. Dampak pendidikan bagi mereka adalah berubahnya pola hidup yang tidak menguntungkan, kini mereka tidak lagi tinggal di atas pohon, dan tidak berminat lagi untuk hidup nomaden. Tiga tahun terakhir mereka mulai menetap di 3 tempat di sana dan anak--anak mereka membanjiri sekolah.

mereka bertiga, Yani, Simson, dan Adelia bernyanyi dan bercerita pada malam ucapan syukur 20 tahun PESAT. Sedikit menggelitik ketika mereka dengan lancarnya memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris, "Let me introduce my self, my name is Simson, and I come from Suku Wana." Satu hal menakjubkan yang Tuhan telah kerjakan pada kehidupan Suku Wana.

Yani begitu bahagia menceritakan pengalaman pertamanya naik pesawat udara, mereka adalah orang Wana pertama yng naik pesawat. Di Wana, anak seusianya sudah dikawinkan, dan tiap mereka mengalami kawin-cerai berulang-ulang sepanjang hidupnya. Tapi kini hal serupa tidak lagi ditemui. Transformasi menyeluruh telah terjadi di Suku Wana.

____________________________________________________________

 

>> Menjadi Guru bagi Orang Sakai

Menyusuri sungai menuju pedalaman hutan plus berjalanan kaki belasan kilometer untuk sampai ke mukim Orang Sakai. Mariaty, guru sekolah yang ditugaskan ke sana kemudian tinggal dan hidup di tengah-tengah mereka. Ia kini mempunyai 35 anak dari berbagai tingkat usia. Ia mengelompokkan anak-anak berdasarkan tingkat usia untuk memudahkannya mengajar. Mulai usia TK, 6-8, dan 9-11 tahun.

Sakai  

mariaty mengajari mereka berbagai hal mulai dari kebersihan tubuh dan pakaian, membaca-menulis, berhitung, sampai pembentukan karakter. Setahun kemudian dampaknya sangat kentara, anak didikannya menunjukkan perubahan luar biasa; anak-anak semakin bersih, sehat, berpengaetahuan, bisa baca-tulis dan berhitung.

Bahkan kini keluarga mereka pun tidak lagi hidup nomaden, berkat pengetahuan pertanian yang diajarkan Mariaty kepada mereka. Mereka kini mengurus kebun yang telah dibuka dan bermukim di sekitanya..

--------------------------------------------------------------------------------

>> Pendidikan Formal di Simbuang, Tana Toraja

Membuka SD,  Menjadi Guru Sukarela
Simbuang dihuni oleh orang-orang asli suku Toraja yang masih kuat menjalankan agama nenek moyang mereka, Alu Todolo. Orang Simbuang bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Di Simbuang anak-anak tidak bersekolah ketika Minggus dan Nies tiba. “Tidak ada guru,” kata mereka. Mereka pun membuka Sekolah Dasar dan menjadi guru sukarela yang mendidik sedikitnya 72 anak murid.

SMA di Pedalaman Simbuang   Merintis SMP dan SMA
Waktu berlalu, pelayanan berkembang dan mulai menampakkan buah-buahnya yang ranum. Sukses membuka SD, tidak membuat mereka berhenti sampai di situ, mereka malah merintis pendirian SMP bahkan kemudian SMA. Aktivitas mereka membangun generasi di Simbuang ini tak pelak sangat menyita perhatian dari pemerintah daerah, yang kemudian turut mendukung mereka dengan membangunkan tempat untuk sekolah.

Di Simbuang kini ada pemandangan baru yang belum pernah ada sebelumnya.. iring-iringan anak-anak berseragam sekolah.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

>> Sekolah Pertama di Suku Kaili

Suku Kaili Da`a adalah salah satu suku terasing yang mendiami wilayah Sulawesi Tengah. Suku Kaili Da`a menggunakan bahasa Kaili dengan dialek Da`a. Orang-orang suku Kaili Da`a tidak pernah duduk di bangku sekolah..

Sekolah formal bagi anak-anak Kaili   Untuk sampai ke desa-desa orang Kaili Da’a adalah suatu pekerjaan yang terbilang sulit. Kesulitan akses ini yang menjadikan mereka tetap terasing dari peradaban modern. Hingga di abad teknologi muktahir yang berkembang pesat di kota-kota dimana kita tinggal, Orang Kaili tak pernah mengadopsi satu bagian pun dari kemajuan teknologi itu.

Tidak Mengenal Pendidikan Anak-anak mereka bertumbuh apa adanya dengan pengetahuan yang minim yang tak lebih dari miskinnya peradaban kebudayaan Kaili. Ketertinggalan mereka sangat miris untuk dilihat.

Sekolah Pertama di Kaili
Pertengahan Juni 2008, PESAT mengirimkan dua orang tenaga pengajarnya untuk membangun generasi baru Suku Kaili Da’a, membangun sekolah darurat dan mengajarkan pendidikan di sana.
Penghujung Agustus 2008, sekolah perdana di suku terasing ini pun meluncur, dan antusias anak-anak Kaili mengalir deras mengikuti dan menikmati indahnya saat-saat duduk di “ruang kelas”. Awalnya sekolah diadakan di Bantaya, istilah untuk balai pertemuan adat bagi Suku kaili, kini Sedikitnya ada 50 anak usia sekolah berbaris rapih penuh semangat setiap pagi memasuki dua ruang kelas di “sekolah baru” mereka yang ala kadarnya, yang dinding dan lantainya terbuat dari papan dan beratap rumbia. Satu bangunan sekolah yang berdiri agak miring di tengah sabana di punggung bukit hasil gorong-royong masyarakat Kaili.

 
 
Baca juga artikel lainnya:
 
 
TORAJA: Bapak Pendidikan bagi Simbuang

 

 
 
 
 
 
Wisata Misi Mission Trip
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.