Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Surat Pembaca Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English
 
ON THE SPOT
pesat future center - herlina - skouw papua
RUMAH PANGGUNG SUKU SKOUW BERADA TAK JAUH DARI PANTAI.. BACA KISAH HERLINA AUPARAY (9) ANAK PEREMPUAN PAPUA DENGAN PERGUMULAN HIDUPNYA.. READ MORE>>
 
pelukis batu purwosari
dalam satu perjalanan pulang sekolah, kami tanya: Bagaimana perasaaanmu kalau putus sekolah? Ia menjawab, “Sedih..” Lalu kami tanya lagi: Kenapa? Ia menjawab,  “Karena tidak bisa meraih cita-cita”. selanjutnya>>
 
adven krisna
Kami mengunjungi rumah salah satu anak binaan Future Center  di desa Dahana, Nias. Seorang anak perempuan menyambut kami dari dalam rumah yang sederhana, senyumnya manis tapi sayang giginya hitam. read more>>
 

 

 
FUTURE CENTER  
Rp. 150 ribu/ bulan, Anda akan memberikan masa depan kepada seorang anak desa miskin. Contact: tel. (021) 4584 4284 / 44 294 002 - SMS Center: 0811 872 945e-mail: future-center@live.com __  
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------  
ON THE SPOT  

Mentari Pagi Pronojiwo

 
Devi anak desa Pronojiwo bersama keluarganya
Photo: tony (c)2014. All rights reserved

PRONOJIWO - JAWA TIMUR, Semua orang disini hanya bisa sekolah sampai SMP, bahkan sebagian memilih berhenti sekolah setelah lulus SD, lalu menikah. Ini seperti tradisi turun-temurun. Maklum saja, SMP baru saja dibuka 6 tahun lalu, itupun jaraknya cukup jauh.

Pedukuhan paling pelosok di kaki di dekat kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru di Jawa Timur. Ujung desanya berbatasan dengan jurang dan hutan. Penduduk Pronojiwo sangat ramah, saat kita lewat mereka menyapa “pinara..” yang artinya mari mampir. 

Matahari masih malu-malu keluar dari balik bukit, pagi ini kami menyusuri pedukuhan di lereng bukit melewati hutan bambu yang lebat untuk tiba di rumah Rista Devi salah satu anak Future Center. Anak perempuan 9 tahun ini duduk di kelas 4 SD, anak ke 2 dari 3 bersaudara. Ia bercita-cita menjadi guru, “Senang mengajar orang lain,” katanya polos.

Sukemi, sang ibu, senang mendengar cita-cita anaknya ini. “Meski dibebani tugas menjaga adik, membersihkan rumah, dan memberi makan sapi, tapi ia selalu menyempatkan diri untuk belajar,” ungkap sang ibu bangga.Devi sekeluarga mengurus seekor sapi milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Jadi mereka sekeluarga merawat sapi tersebut sampai bunting, setelah bunting sapi tersebut menghasilkan susu, dan susu hasil perahannya menjadi upah bagi keluarga Devi sedangkan anak sapinya milik sang pemilik sapi.

Jadi untuk itu mereka sekeluarga berbagi tugas, sang bapak memerah susu, sang ibu membawa susu ke koperasi, sedangkan Devi kebagian tugas memberi makan sapi.

Mereka hidup sangat sederhana, penghasilan keluarganya hanya 750 ribu sampai 1 juta rupiah per bulan. Walaupun hidup sederhana, tetapi Ruslan bangga, karena di tengah kesulitan hidup ia bisa melihat anaknya berprestasi. Alumni anak TK PESAT Bina Putera ini selalu juara kelas dari kelas satu hingga sekarang ia duduk di kelas empat SD.

Devi suka pelajaran Bahasa Indonesia, berbincang-bincang dengannya sungguh mengasyikan, karena ia adalah gadis kecil yang komunikatif dan yang terpenting adalah ia bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, karena sebagian besar penduduk desa ini tidak bisa berbahasa Indonesia.

Di SD waktu sekolah para murid hanya 2 - 3 jam, separuh dari waktu normal 6 - 7 jam, ini karena terbatasnya ruang di sekolah sehingga kelasnya harus dipakai secara bergantian.Bagi Devi dan hampir semua anak di dukuh Pronojiwo, FC sangat menolong mereka belajar. “Dia aktif mengikuti bimbel di FC, semangat belajarnya tinggi, saya hanya berdoa semoga Devi bisa sekolah terus,” harap sang ibu.

Kami di FC pun berharap Devi dan anak-anak lainnya di dukuh ini bisa sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan mencapi cita-citanya, agar tak berakhir sama dengan perempuan dewasa lainnya di dukuh ini yang ingin sekolah tinggi tapi tak punya kesempatan.(feby)

 

 

 
 
 
 
 
 
 

 

 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.