header
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English
 
ON THE SPOT
 
devi pronojiwo
SEBUAH PEDUKUHAN PALING PELOSOK DI KAKI PEGUNUNGAN BROMO - TENGGER DI JAWA TIMUR. UJUNG DESANYA BERBATASAN DENGAN JURANG DAN HUTAN. DISINILAH DEVI TINGGAL, IA BERCITA-CITA MENJADI GURU.. READ MORE >>
 
pelukis batu purwosari
dalam satu perjalanan pulang sekolah, kami tanya: Bagaimana perasaaanmu kalau putus sekolah? Ia menjawab, “Sedih..” Lalu kami tanya lagi: Kenapa? Ia menjawab,  “Karena tidak bisa meraih cita-cita”. selanjutnya>>
 
adven krisna
Kami mengunjungi rumah salah satu anak binaan Future Center  di desa Dahana, Nias. Seorang anak perempuan menyambut kami dari dalam rumah yang sederhana, senyumnya manis tapi sayang giginya hitam. read more>>
 

 

 
FUTURE CENTER  
Rp. 150 ribu/ bulan, Anda akan memberikan masa depan kepada seorang anak desa miskin. Contact: tel. (021) 4584 4284 / 44 294 002 - SMS Center: 0811 872 945e-mail: future-center@live.com __  
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------  
ON THE SPOT  

Mimpi "Suster" Elin

 
pesat-future center herlina skou yambe
Photo: tony (c)2014. All rights reserved

MUARA TAMI - PAPUA | Elin, gadis kecil 11 tahun, ia sedang menjaga ibunya yang terbaring lemah,  selimut kembang-kembang membalut tubuh kerempeng sang ibu untuk menahan kencangnya tiupan angin laut. Rumah mereka di pantai dan belum semua tertutup dinding. Hanya terpal usang yang melambai tertiup angin.

Rumah-rumah panggung penduduk asli suku Skouw yang terbuat dari kayu dan beratap daun sagu berada tak jauh dari pantai dan berjejer di sepanjang jalan kampung. Kampung  Skouw Yambe, di  distrik Muara Tami ini  hanya setengah jam dari perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini.

Penduduknya sebagian besar adalah petani yang menanam kelapa dan pinang. Selain bertani mata pencarian mereka lainnya adalah nelayan tetapi kegananasan ombak Samudera Pasifik hanya memberi mereka kesempatan melaut selama 4 bulan dalam setahun.

     Sore itu ayahnya, Jansen Auparay, masih di kebun untuk mencari kayu bakar untuk kebutuhan dapur mereka. Elin dan ibunya baru tiba dari rumah sakit, enam bulan yang lalu ibunya divonis TBC. Ia mengidap TBC karena kondisi rumahnya yang tak sehat. Ada 6 keluarga yang tinggal bersama di rumah Elin, sehingga kadang sang ibu harus mengalah dan tidur diluar. Hanya ada terpal untuk penahan angin dan air hujan. Kemiskinan membuatnya tidak rutin berobat.

     Tapi Elin tetap pergi sekolah, demi cita-cita menjadi suster, “Saya mau menjadi perawat, tidak mau menjadi lain-lain lagi, karena ingin mengobati orang sakit,” jawabnya pelan.
Keinginannya menjadi seorang suster semakin kuat setelah 6 bulan terakhir ini ia melihat kondisi mamanya yang lemah karena  TBC, ia anak kedua dari empat bersaudara, tetapi ia yang merawat mamanya. “Elin, itu cerewet,” timpal sang mama.

      Di sekolahnya SDN Inpres Skouw Mabo, Elin dikenal sebagai anak yang paling rajin datang sekolah walaupun jarang ada guru yang datang. “Aku tidak merasa ketinggalan pelajaran karena ada bimbel  Future Center,”aku gadis yang menyukai pelajaran IPS ini.
Dukungan dari sang mama yang juga membuat  Elin tetap semangat belajar. Ia tidak pernah absen dari bimbel future center. Karena FC adalah satu-satunya harapan dan sumber ilmu pengetahuan baginya setelah sekolah tidak bisa diharapkan.

       Selain bimbingan belajar, Elin suka dengan makanan bergizi yang kerap diberikan sehabis kegiatan berakhir, “Makanannya enak,” ungkapnya polos. Bimbel Future Center di  Kampung Skou Yambe  memang mengambil waktu setelah anak-anak pulang sekolah, “Supaya mereka bisa dapat pelajaran setelah tidak belajar apapun di sekolah tadi, dan tentunya supaya makan siang bersama karena biasanya anak-anak  belum tentu sampai di rumah bisa makan siang karena orang tua ada di kebun dan baru pulang sore hari,” ujar pembina FC Juniati Peroka.

      “FC membantu anak saya karena bisa menambah pengetahuan karena sekolanya jarang ada guru,” ujar  sang mama Josephine Rollo dan itu adalah kalimat terakhir yang bisa kami rekam, 18 Mei 2014 lalu, sang mama pun meninggal karena TBC. Namun harapannya untuk cita-cita Elin akan tetap hidup. TYM .(Feby)

 

 

 

 
 
 
 
 
 
 

 

 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.