www.pesat.org
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English
......................................
PROGRAM
Layanan
Pendukung
Program Khusus
pbs-sisi
Bisakah Semua Anak Desa Seperti Tuti?
Baca kisahnya >>
 
pondok bina siswa
APA ITU PONDOK BINA SISWA? : read>>
 
 
Mentawai sail Siberut
Seberangi Selat Siberut demi Sekolah
 

 

 
v PONDOK BINA SISWA  

Mewujudkan Mimpi Anak Miskin

 
 
 

Pernah berpikir  tentang membantu pendidikan anak-anak miskin di pedesaan? Kita mungkin sudah melakukannya. Tapi pergi ke desa-desa, masuk ke gubuk-gubuk mereka, membangkitkan impian dan cita-cita, lalu menyekolahkan mereka, pasti akan lebih rumit.

Tapi sekelompok anak muda telah melakukannya sejak tujuh tahun lalu, dan anak yang dibina sejak lulus SD kini sudah lulus SMA. “Waktu itu sekitar tahun 2003 ketika rekan-rekan saya; Frids, dan Dwi kembali dari perjalanan berbulan-bulan mereka mengeksplorasi desa-desa di antara Jambi dan Pekanbaru. Mereka membawa seorang anak perempuan dari salah satu suku asli di sana, namanya Tuti, katanya ia baru lulus SD dan tidak mungkin melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya,” kisah Yosephine (50) mengulang awal mula pelayanan mereka pada generasi muda di sana.

Mungkin ada ratusan desa  yang terserak di antara bentangan Jambi dan Pekanbaru, dan rata-rata mereka memiliki masalah yang sama; infrastruktur pendidikan di sini jauh dari memadai. Ketika lulus SD, anak-anak tak mungkin lagi bisa melanjutkan sekolah. SMP dan SMA hanya berada di kota-kota kabupten yang jaraknya amat jauh ditambah tidak ada sarana transportasi umum yang mudah dan murah yang tersedia.

Menolong yang Termiskin
Beberapa keluarga yang mampu secara ekonomi akan melanjutkan sekolah anak-anak mereka, tapi mereka harus mengontrak rumah di kota atau tinggal di rumah kost. Butuh biaya yang besar untuk sekolah, padahal banyak keluarga di sini hidup di bawah garis kemiskinan, para buruh perkebunan yang tak memiliki ladang, yang kadang makan pun tak cukup. Sangat lumrah jika anak-anak di sini akhirnya berhenti sekolah di tingkat yang sangat rendah, lalu menikah di usia teramat dini. Anak-anak tidak pernah bisa melihat potensi mereka berkembang maksimal, malah impian mereka terkubur bersama beban hidup yang harus diterima.

Melihat kondisi ini, kami pergi ke desa-desa mereka mencari yang termiskin yang bisa ditolong. lalu membawa mereka tinggal bersama kami di sebuah rumah sederhana yang dekat dengan pusat pendidikan di kota kabupaten. Di sini anak-anak dibimbing, dibina, diayomi, dan pendidikan mereka pun dibiayai, lanjut Yosephin semangat. Dalam perkembangannya banyak anak akhirnya bisa sampai ke sini, satu tempat yang sekarang disebut Pondok Bina Siswa (PBS).

 

Beri Kesempatan
Menyusul seorang siswi PBS yang lulus tahun lalu (kini sedang studi S1 Pembangunan Masyarakat), tahun ajaran ini dua remaja puteri; Tuti dan Jelita lulus ujian nasional SMA, dan mereka akan melanjutkan studinya ke tingkat universitas. Sisi berminat untuk mempelajari ilmu komputer managemen, sementara Jelita mendalami guru bahasa Inggris, dan kita bersama-sama terus membiayai mereka, lanjut Yosephin. Lalu ada juga Melisa yang naik kelas 3 SMA, ia pun bercita-cita menjadi guru dan bertekad untuk kembali ke desanya setelah meraih sarjana, ia sungguh ingin membangun desanya.

Anak-anak dari keluarga miskin ini adalah para pelajar yang berprestasi dan ranking tertinggi di sekolah. Mereka mampu lepas dari tempurung kebodohan karena potensi mereka dapat bertumbuh maksimal, talenta mereka telah ranum dan segera berbuah, semua ini tentu karena kesempatan yang diberikan.

Melalui Pondok Bina Siswa yang dikelola Yayasan PESAT, Yosephin dan tiga rekannya telah menyediakan tangga dan memberi anak-anak kesempatan untuk meraih mimpinya. Sore sudah hampir turun di dusun berawa-rawa ketika ia mengunjungi rumah seorang siswa binaannya, lajang asal Jakarta yang selalu tampil sederhana ini menutup percakapan, “Ini adalah pekerjaan Tuhan, jadi apa yang saya kerjakan ini pasti tidak akan sia-sia, suatu hari nanti akan berbuah, saya mungkin tidak melihatnya tapi orang lain yang akan melihat.” (tony)

MELISA, SALAH SATU ANAK MURID DI PBS, SEDANG DUDUK DI MUKA JENDELA KAMARNYA DI LANTAI 2 RUMAH MEREKA. IA BARU NAIK KELAS 3 SMA
 

TUTI, DI BERSAMA KELUARGANYA DI BERANDA RUMAH MEREKA DI TEPI HUTAN

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.