header
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English
Latar Belakang
Pembangunan Pendidikan masih dihadapkan pada sejumlah permasalahan terutama berkaitan dengan perluasan akses dan pemerataan pendidikan pada jalur formal
Jumlah anak putus sekolah di SD setiap tahun rata-rata 600.000 - 700.000 anak. Sementera mereka yang tidak menyelesaikan sekolahnya di SMP sekitar 150.000 - 200.000 anak. Sebanyak 80% anak putus sekolah karena kesulitan ekonomi. Meski sudah ada program sekolah gratis yang kurang begitu berjalan karena masih kekurangan guru, belum lagi anak-anak berjalan sendiri tanpa bimbingan belajar..
Biro Statistik (BPS) melaporkan bahwa siswa SD kelas 1 - 3 yang terpaksa drop-out setiap tahun mencapai 334.000 siswa, yang berhasil lulus SD tapi tidak melanjutkan ke SMP dan putus sekolah di SMP sebanyak 759.054 anak.
Terus bermunculan kasus-kasus gizi buruk di berbagai wilayah Indonesia karena belum meratanya layanan kesehatan dan pendidikan.
Untuk anak usia sekolah, dari 31 juta anak, 11 juta diantaranya bertubuh pendek akibat gizi kurang dan 10 juta mengalami anemia gizi. untuk kelompok usia remaja, dan 10 juta remaja puteri (15-19 thn) sebanayk 3,5 juta mengalami anemia gizi.
Karena gangguan kecerdasan akibat kurang gizi, lebih dari 80% anak perempuan di pedesaan tidak lagi bersekolah, dan menikah muda. Akibatnya usia subur juga lebih lama dan jumlah anak yg dilahirkan juga lebih banyak. ni mengakibatkan beban hidup mereka juga lebih berat.

Faktor-faktor yg menghambat anak-anak meraih cita-cita bisa berwujud apa saja, faktor tersebut adalah "pemutus mata rantai cita-cita". Adalah tugas kita bersama untuk memecahkan masalah tersebut.

Melalui FUTURE CENTER, kami yakin bersama Anda kita dapat mengantar anak-anak meraih cita-cita mereka!
 
 
ON THE SPOT
pesat future center - herlina - skouw papua
RUMAH PANGGUNG SUKU SKOUW BERADA TAK JAUH DARI PANTAI.. BACA KISAH HERLINA AUPARAY (9) ANAK PEREMPUAN PAPUA DENGAN PERGUMULAN HIDUPNYA.. READ MORE>>
 
devi pronojiwo
SEBUAH PEDUKUHAN PALING PELOSOK DI KAKI PEGUNUNGAN BROMO - TENGGER DI JAWA TIMUR. UJUNG DESANYA BERBATASAN DENGAN JURANG DAN HUTAN. DISINILAH DEVI TINGGAL, IA BERCITA-CITA MENJADI GURU.. READ MORE >>
 
pelukis batu purwosari
dalam satu perjalanan pulang sekolah, kami tanya: Bagaimana perasaaanmu kalau putus sekolah? Ia menjawab, “Sedih..” Lalu kami tanya lagi: Kenapa? Ia menjawab,  “Karena tidak bisa meraih cita-cita”. selanjutnya>>
 
adven krisna
Kami mengunjungi rumah salah satu anak binaan Future Center  di desa Dahana, Nias. Seorang anak perempuan menyambut kami dari dalam rumah yang sederhana, senyumnya manis tapi sayang giginya hitam. read more>>
 

 

FUTURE CENTER

 

Rp. 150 ribu/ bulan, Anda akan memberikan masa depan kepada seorang anak desa miskin.

Future Center Adalah program pembinaan dan beasiswa anak usia 4 sampai 20 tahun. FC dibentuk dengan tujuan untuk menolong tumbuh kembang anak desa secara holistik sehingga memiliki masa depan cerah.

FC menggunakan kurikulum pengembangan anak holistik. Bentuk pelayanannya berupa bimbingan belajar, pembinaan mental-spiritual, bermain, pemberian makanan tambahan dan vitamin, pemeriksaan kesehatan, serta mengusahakan akte kelahiran anak. FC juga adalah program beasiswa, agar anak-anak desa dapat melanjutkan dan menyelesaikan studinya.

hubungi FUTURE CENTER:

tel. (021) 4584 4284 / 44 294 002 - SMS Center: 0811 872 945

e-mail: future-center@live.com

 

Jika anda mau, Tuhan bisa memakai anda melalui cara yang unik, sebagai sponsor. Anda bisa menjadi sahabat spesial bagi anak desa, mendukung, serta mendoakan pertumbuhan mereka.

Donasi hanya Rp. 150.000/ANAK/ bulan atau Rp. 5000/hari. Dukungan anda setiap bulan memberikan kesempatan kepada anak-anak desa untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan berkesinambungan, layanan kesehatan dan asupan makanan bergizi, kesembapatan untuk dibimbing, dibina, dan dikasihi. Anda akan memberikan masa depan kepada anak yang anda sponsori.

 

   
 
ON THE SPOT  

Mentari Pagi Pronojiwo

 
pesat future center dukuh pronojiwo
Photo: tony (c)2014. All rights reserved

 

PRONOJIWO - JAWA TIMUR, sebuah pedukuhan paling pelosok di kaki pegunungan Bromo-Tengger di Jawa Timur. Ujung desanya berbatasan dengan jurang dan hutan.

Semua orang disini hanya bisa sekolah sampai SMP, bahkan sebagian memilih berhenti sekolah setelah lulus SD, lalu menikah. Ini seperti tradisi turun-temurun. Maklum saja, SMP baru saja dibuka 6 tahun lalu, itupun jaraknya cukup jauh.

Penduduk Pronojiwo sangat ramah, saat kita lewat mereka menyapa “pinara..” yang artinya mari mampir. Matahari masih malu-malu keluar dari balik bukit, pagi ini kami menyusuri pedukuhan di lereng bukit melewati hutan bambu yang lebat untuk tiba di rumah Rista Devi salah satu anak Future Center. Anak perempuan 9 tahun ini duduk di kelas 4 SD, anak ke 2 dari 3 bersaudara. Ia bercita-cita menjadi guru, “Senang mengajar orang lain,” katanya polos.

Sukemi, sang ibu, senang mendengar cita-cita anaknya ini. “Meski dibebani tugas menjaga adik, membersihkan rumah, dan memberi makan sapi, tapi ia selalu menyempatkan diri untuk belajar,” ungkap sang ibu bangga.Devi sekeluarga mengurus seekor sapi milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Jadi mereka sekeluarga merawat sapi tersebut sampai bunting, setelah bunting sapi tersebut menghasilkan susu, dan susu hasil perahannya menjadi upah bagi keluarga Devi sedangkan anak sapinya milik sang pemilik sapi.

Jadi untuk itu mereka sekeluarga berbagi tugas, sang bapak memerah susu, sang ibu membawa susu ke koperasi, sedangkan Devi kebagian tugas memberi makan sapi.

Mereka hidup sangat sederhana, penghasilan keluarganya hanya 750 ribu sampai 1 juta rupiah per bulan. Walaupun hidup sederhana, tetapi Ruslan bangga, karena di tengah kesulitan hidup ia bisa melihat anaknya berprestasi. Alumni anak TK PESAT Bina Putera ini selalu juara kelas dari kelas satu hingga sekarang ia duduk di kelas empat SD.

 Devi suka pelajaran Bahasa Indonesia, berbincang-bincang dengannya sungguh mengasyikan, karena ia adalah gadis kecil yang komunikatif dan yang terpenting adalah ia bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, karena sebagian besar penduduk desa ini tidak bisa berbahasa Indonesia.

Di SD waktu sekolah para murid hanya 2 - 3 jam, separuh dari waktu normal 6 - 7 jam, ini karena terbatasnya ruang di sekolah sehingga kelasnya harus dipakai secara bergantian.Bagi Devi dan hampir semua anak di dukuh Pronojiwo, FC sangat menolong mereka belajar. “Dia aktif mengikuti bimbel di FC, semangat belajarnya tinggi, saya hanya berdoa semoga Devi bisa sekolah terus,” harap sang ibu.

Kami di FC pun berharap Devi dan anak-anak lainnya di dukuh ini bisa sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan mencapi cita-citanya, agar tak berakhir sama dengan perempuan dewasa lainnya di dukuh ini yang ingin sekolah tinggi tapi tak punya kesempatan.(feby)

 

 

 

 

future center kid in desa jlegong

 

Kami menyampaikan kabar gembira tentang prestasi sekolah Wida yang kini duduk di kelas 6 SD. Ibunya nampak tersenyum mendegar hal itu, namun kegetiran begitu terasa. “Wida mungkin hanya sekolah sampai SMP saja, kalau kami tidak punya uang untuk biaya sekolahnya nanti,” lanjut sang ibu datar.

baca kisah Wida >>

 

 
   
Bertandang ke Rumah Anak FC
Membantu yang Papa di Sibolangit
keluarga rangga yg miskin

Ayah Rangga hanyalah seorang tukang becak, ia juga adalah langganan anak-anak TK teman Rangga. Ayah, ibu dan adik kecilnya tinggal di sebuah gubuk di desanya.

Suatu ketika para pengajar FC mengunjungi keluarga Rangga di rumahnya, ayah dan ibu Rangga nampak begitu terharu, mereka bilang Rangga kini sangat semangat sekali pergi sekolah dan belajar di rumah, bahkan ia menjadi lebih bijak bisa membantu ibunya menjaga adik kecil.

Keluarga Rangga sangat miskin, penghasilan ayahnya pas-pasan, tapi ayahnya berkata kalau ia akan berusaha agar anak-anaknya bisa terus sekolah dan tamat SMA.
Rangga kini duduk di TK B, ia anak yang aktif dan mudah menangkap pelajaran kata ibu gurunya. Rangga bercita-cita menjadi tentara, ia dan enam teman FCnya berasal dari desa ini, keluarga mereka hidup dengan ekonomi pas-pasan.

Orang desanya Rangga kebanyakan adalah penyadap nira, pembuat gula, pengrajin keranjang buah, dan petani ladang. Ayahnya sangat berterima-kasih pada FC yang sudah membantu membimbing anaknya menuju cita-cita. (ton)

 

 

 

 

 

 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.