header
Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Sahabat PESAT Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English
 
Mentawai sail Siberut
Seberangi Selat Siberut demi Sekolah
 
Anak Terlantar di Wamena
 
pbs-sisi
Bisakah Semua Anak Desa Seperti Tuti?
Baca kisahnya >>
 
pbs
PBS: Wujudkan mimpi anak miskin
baca kisahnya >>
 

 

PONDOK BINA SISWA

Tidak bisa mengakses pendidikan karena sekolah sangat jauh

 
pondok bina siswa untuk anak pedalaman yang karena faktor geografis sulit mencapai sekolah
Photo: tony (c)2014. all rights reserved

 

Geografi Indonesia yang rumit dan unik dengan gunung, lembah, sungai, hutan dan padang belantara. Populasi kita pun lalu tinggal menyebar di sana, membentuk desa-desa atau dusun-dusun terpencil yang kemudian kita kenal sebagai daerah "pedalaman", "terpencil", atau "terasing". Karna sulit dijangkau maka daerah-daerah tersebut tidaklah disinggahi program-program pembangunan seperti pendidikan misalnya.

Anak-anak usia sekolah pun lalu tidak bisa mengakses pendidikan karena memang tidak ada sekolah di desa mereka, atau letak sekolah teramat jauh dari rumah.

Untuk mengakomodasi masalah jarak ini PESAT berinisiatif mendirikan Pondok Bina Siswa (PBS), sebuah pondok dengan konsep asrama yang menyediakan akomodasi, bimbingan belajar, dan beasiswa bagi anak-anak yang tinggal di sana. PBS didirikan di dekat kompleks persekolahan dimana semua jenis dan jenjang sekolah (SD, SMP, SMA) ada di sana.

Dalam perkembangan-nya kini PESAT telah mendirikan 5 PBS, masing-masing; di Kep. Mentawai (Sumatera Barat), 2 PBS di Riau Daratan, Tana Toraja (Sulawesi Selatan), dan Wamena (Papua). Kita berharap bisa membuka PBS lagi di daerah lain yang membutuhkan.

 

 

 

FEATURES

PONDOK BINA SISWA
Mewujudkan Mimpi Anak Miskin

 
Pernah berpikir  tentang membantu pendidikan anak-anak miskin di pedesaan? Kita pasti sudah melakukannya. Tapi pergi ke desa-desa, masuk ke gubuk-gubuk mereka, membangkitkan impian dan cita-cita, lalu menyekolahkan mereka…, pasti akan lebih rumit.
 

melisa di rumahnya

Tapi sekelompok anak muda telah melakukannya sejak tujuh tahun lalu, dan anak yang dibina sejak lulus SD kini sudah lulus SMA. “Waktu itu sekitar tahun 2003 ketika rekan-rekan saya; Frids, dan Dwi kembali dari perjalanan berbulan-bulan mereka mengeksplorasi desa-desa di antara Jambi dan Pekanbaru. Mereka membawa seorang anak perempuan dari salah satu suku asli di sana, namanya Tuti, katanya ia baru lulus SD dan tidak mungkin melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya,” kisah Yosephine (50) mengulang awal mula pelayanan mereka pada generasi muda di sana.

Mungkin ada ratusan desa  yang terserak di antara bentangan Jambi dan Pekanbaru, dan rata-rata mereka memiliki masalah yang sama; infrastruktur pendidikan di sini jauh dari memadai. Ketika lulus SD, anak-anak tak mungkin lagi bisa melanjutkan sekolah. SMP dan SMA hanya berada di kota-kota kabupten yang jaraknya amat jauh ditambah tidak ada sarana transportasi umum yang mudah dan murah yang tersedia.


 
tuti   melisa   jelita
 

Menolong yang Termiskin
Beberapa keluarga yang mampu secara ekonomi akan melanjutkan sekolah anak-anak mereka, tapi mereka harus mengontrak rumah di kota atau tinggal di rumah kost. Butuh biaya yang besar untuk sekolah, padahal banyak keluarga di sini hidup di bawah garis kemiskinan, para buruh perkebunan yang tak memiliki ladang, yang kadang makan pun tak cukup. Sangat lumrah jika anak-anak di sini akhirnya berhenti sekolah di tingkat yang sangat rendah, lalu menikah di usia teramat dini. Anak-anak tidak pernah bisa melihat potensi mereka berkembang maksimal, malah impian mereka terkubur bersama beban hidup yang harus diterima

 
Yosephine dan anak-anak asuh di PBS  

Melihat kondisi ini, kami pergi ke desa-desa mereka mencari yang termiskin yang bisa ditolong. lalu membawa mereka tinggal bersama kami di sebuah rumah sederhana yang dekat dengan pusat pendidikan di kota kabupaten. Di sini anak-anak dibimbing, dibina, diayomi, dan pendidikan mereka pun dibiayai, lanjut Yosephin semangat. Dalam perkembangannya banyak anak akhirnya bisa sampai ke sini, satu tempat yang sekarang disebut Pondok Bina Siswa (PBS)

<< Yosphine diantara siswa-siswi binaan di Pondok Bina Siswa

 

Beri Kesempatan
Menyusul seorang siswi PBS yang lulus tahun lalu (kini sedang studi S1 Pembangunan Masyarakat), tahun ajaran ini dua remaja puteri; Tuti dan Jelita lulus ujian nasional SMA, dan mereka akan melanjutkan studinya ke tingkat universitas. Tuti berminat untuk mempelajari ilmu komputer managemen, sementara Jelita mendalami guru bahasa Inggris, dan kita bersama-sama terus membiayai mereka, lanjut Yosephin. Lalu ada juga Melisa yang naik kelas 3 SMA, ia pun bercita-cita menjadi guru dan bertekad untuk kembali ke desanya setelah meraih sarjana, ia sungguh ingin membangun desanya.

 
Anak-anak dari keluarga miskin ini adalah para pelajar yang berprestasi dan ranking tertinggi di sekolah. Mereka mampu lepas dari tempurung kebodohan karena potensi mereka dapat bertumbuh maksimal, talenta mereka telah ranum dan segera berbuah, semua ini tentu karena kesempatan yang diberikan.
  siswa binaan yang duduk di SMA
 

Melalui Pondok Bina Siswa yang dikelola Yayasan PESAT, Yosephin dan tiga rekannya telah menyediakan tangga dan memberi anak-anak kesempatan untuk meraih mimpinya. Sore sudah hampir turun di dusun berawa-rawa ketika ia mengunjungi rumah seorang siswa binaannya, lajang asal Jakarta yang selalu tampil sederhana ini menutup percakapan, “Ini adalah pekerjaan Tuhan, jadi apa yang saya kerjakan ini pasti tidak akan sia-sia, suatu hari nanti akan berbuah, saya mungkin tidak melihatnya tapi orang lain yang akan melihat.” (tony)

 

 
Anak Terlantar di Wamena - Papua
Stafanus

Stefanus Suhunyap, bocah laki-laki Suku Yali yang berjalan kaki dari kampungnya di pegunungan,Yahukimo, selama tiga hari tiga malam untuk datang ke kota. Ia sempat beberapa waktu hidup di jalanan sebelum ditemukan oleh para pembina lalu tinggal di PBS Wamena dan disekolahkan di SD, kini Stefanus duduk di kelas 2 SMP.

Melintasi pegunungan tinggi Jayawijaya untuk tiba di Wamena, sebuah lembah di jantung Papua. Disini yang amat mencolok adalah anak-anak asli Papua usia sekolah yang dalam kelompok-kelompok kecil bergerombol di depan pertokoan atau jalan-jalan. Mereka tidak sekolah lagi.

banyak sekolah di daerah pinggiran yang tidak beroperasi karena tidak ada guru

Di Wamena PESAT juga membuka Pondok Bina Siswa (PBS) sejak Februari 2012. Semua anak yang dibina adalah anak-anak terlantar. Tahun 2014 ini ada 11 anak yang tinggal di PBS, dan mereka semua disekolahkan, 9 murid SD, serta 2 anak telah duduk di SMP.

Selain Stefanus, di PBS Wamena ada juga Lani Wakur, bocah 11 tahun yang terlantar karena ayah dan ibunya menderita HIV. Lalu Ray Waga yang kini duduk di kelas 5 SD, ia dibawa tinggal di PBS oleh para pembina karena keluarganya sangat miskin. Begitu pun dengan anak lainnya; kisah mereka hampir serupa. Namun kini mereka bisa kembali menatap masa depan karena kesempatan yang kita berikan.

PBS di 5 lokasi
Pondok yang memberi akomodasi, makanan, bimbingan dan beasiswa pada anak-anak desa yang terancam tidak bisa sekolah ini ada di 5 lokasi yaitu di Sioban – Kep. Mentawai, Pematang Rebah – Riau, Tomohon – Sulawesi Utara, Simbuang – Sulawesi Selatan, dan Wamena – Papua.
Membina 52 murid, terdiri dari 8 murid SD, 20 SMP, dan 25 murid SMA, yang dibina oleh 9 pembina.

 
 
 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.