“Anak-anak dari Negeri Dongeng”

Dulu saya pikir hanya kami saja, Orang Wana, yang tinggal di bumi ini. Tidak ada orang lain..” -Aderia-

Kami semua lahir di hutan, keluarga kami masih nomaden. Tapi kakak saya yang menikah sudah kenal bermukim, dan tinggal menetap. Kami sering datang berkunjung. Di dekat rumahnya ada satu sekolah dasar. saya suka mendengarkan murid-muridnya bernyanyi. Apalagi kalau hari minggu, kami suka lagu-lagu yang mereka nyanyikan.

Kenneth, pemuda Suku Wana bercerita tentang TK dan SD Saliano Terpadu, sekolah ajaib, yang seolah jatuh dari langit, dan mendarat di tengah lembah maha luas nan sunyi.

Akhirnya kakak membawa saya ke sekolah itu, lanjutnya, saya bertemu dengan bapak-ibu guru. Dari situ saya baru tahu, itu adalah lagu-lagu anak sekolah minggu. “Aku bahagia.. bahagia.. karena Tuhan Yesus angkat dosa ku..,” Kenneth tiba-tiba menyanyikan lagu Kevin Dankar, lirik dan iramanya membuat ia semangat dan bahagia, katanya. Satu lagu yang membuat ia terkesan mendalam. Mungkin lagu itu pula yang menerbangkan imajinasinya di jantung Sulawesi Tengah itu.

Sore itu kita bukan di belantara Sulawesi, tapi di joglo Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Terpadu di dekat kota Salatiga, Jawa Tengah. Dihadapan ku ada Kenneth dan Aderia yang penuh senyum. Mereka sedang kuliah di sini. Sudah tahun ketiga katanya. “Kita ambil S-1, Pendidikan Agama Kristen (PAK) konsentrasi PAUD dan Kepemimpinan Anak,” ceplos Aderia lugas. Mereka berdua melihatku dengan tatapan penuh makna, seperti ingin mengatakan sesuatu, beberapa waktu tertahan senyum, akhirnya Kenneth berucap, katanya ia masih ingat sekali saat aku datang dan membuat film dokumenter tentang sukunya.

Pikiranku lalu menerawang ke masa enam tahun silam, Ooh.. kamu murid SMP yang pergi sekolah dengan berjalan kaki menyebrangi tujuh arus sungai itu? Kenneth mengangguk, lalu kami tertawa, aku menjabat tangannya sekali lagi seraya menepuk-nepuk punggungnya. Itu menjadi sore terhangat di musim hujan tahun ini. Tak terbayangkan akan bertemu kembali dengan bocah-bocah penghuni bukit-bukit sabana di belantara cagar alam Morowali, di kota ini, di kampus yang jaraknya ribuan kilometer, dan peradaban yang berbeda ratusan tahun.

Nama Asli Wana saya cuma Pa, Pak Guru Lendy yang memberikan tambahan nama Kenneth, katanya. Saya ingin berterima kasih pada Pak Guru Lendy yang sudah membawa kami sejauh ini. Semangat dan kesempatan yang beliau berikan membuat kami seperti sekarang ini, ucap Kenneth yang sebenarnya irit bicara. Ia bercerita tentang Pak Guru Lendy Tampi dan guru-guru PESAT yang datang ke wilayah Suku Wana di belantara untuk melayani orang-orang sukunya dan membangun generasinya melalui pendidikan, rohani, ekonomi, dan kesehatan selama lebih dari satu dekade.

“yakin saat pulang nanti masih bisa ketemu sama suku mu?, mereka kan nomaden..,”

Sekarang saya hanya ingin supaya cepat selesai kuliah, biar bisa pulang, dan memajukan anak-anak Wana di hutan sana dengan pendidikan. “Tapi kamu yakin saat pulang nanti masih bisa ketemu disana sama orang-orang dari suku mu?, mereka kan masih nomaden..,” tanyaku bergurau. Kenneth dan Aderia balas tertawa terbahak. Ya.. saya pernah pulang dari asrama dan tidak lagi menemukan rumah-rumah mereka, jadi saya mencari-cari jejak kemana mereka pindah. Apalagi selama kuliah di sini saya belum pernah pulang, dan dengar kabar kalau Februari ini mereka baru saja pindah lagi ke daerah sebrang sungai.

“Kalau selesai kuliah nanti mau ngapain, Ana?” tanyaku seraya mengalihkan pandang ke Aderia. Saya akan kembali ke Lemowalia, kampung saya, dan membuka taman kanak-kanak di sana, jawabnya, banyak sekali anak-anak Wana yang butuh dilayani pendidikannya. Oh iya, Lemowali itu satu hari perjalanan dari Saliano, kampungnya Kenneth, Aderia tertawa.

Kami bertiga kuliah di sini, satu lagi Desi. Aku kaget, oh iya.. Desi, apa kabar anak itu? tanya ku. Sedang ada kuliah di kelas, jawab Aderia. Desi juga bercita-cita menjadi guru, tambahnya, dan angkatan ini hanya kami bertiga, anak Wana dari pedalaman hutan sana yang bersekolah sampai ke perguruan tinggi. Aku menghubungi Desi dengan whatsapp, ingin tahu apa motto hidupnya. Ia bilang; Hidup untuk melayani, melayani untuk mengasihi, dan mengasihi untuk berkorban bagi orang lain.

Mereka bertiga seperti dongeng hidup. Sungguh membangun generasi adalah investasi jangka panjang yang diuji waktu, penuh perjuangan dan melampaui semu retorika belaka. Terima kasih untuk para guru yang telah memberikan segalanya dalam hidup ini, dan bapak-ibu sekalian – para Sahabat dan Sponsor FC – yang mendukung pelayanan ini, sehingga kita bisa melihat buah-buah pelayan itu ranum,(tony)