“Berkualitas tapi Harus Super Murah”

“Uang bayaran sekolah kami per anak itu Rp.10 ribu per bulan, dan yang paling mahal itu Rp.45 ribu..,” ujar Jumita Prapmawati, Manajer Program.

Biaya itu bukan sekolah yang menentukan, tapi hasil musyawarah yang alot dengan masyarakat desa. Biasanya mereka menyesuaikan dengan pendaoatan dan kemampuan bayar, sambung Jumita.

Semurah itukah? Apakah cukup menutup biaya operasional bulanan TK?, tanyaku heran. Jumita menarik nafas, ia tersenyum. Dari uang bayaran itu, jelasnya, kita beli kertas, crayon, lem, penghapus, sabun cuci tangan, dan semua perlengkapan belajar dan mengajar harian TK.

Tapi kalau untuk tambahan makanan bergizi, lain lagi, kami ajak untuk setiap orang tua menambah Rp.5 ribu, dan itu biasanya mereka setuju. Dari uang yang terkumpul itu kami bisa menyediakan bubur kacang ijo dengan telur rebus dan susu kepada anak-anak setiap bulan.

Itu pun orang tua berpikir kita akan memberikan makanan mewah seperti daging-dagingan begitu, haha, Jumita tertawa, kami jelaskan bahwa makanan bergizi itu tidak harus daging, tapi bisa juga sayur, buah, telur, ikan, memberi contoh supaya mereka melakukan juga di rumah.

Beberapa tahun lalu salah satu TK pernah menaikkan uang bayaran Rp.5 ribu, tapi hanya beberapa ortu murid yang bisa bayar. Akhirnya kami turunkan kembali, lanjut Jumita, rona wajahnya berusaha mengarahkan ku agar memiliki bayangan tentang kondisi kemiskinan di pedesaan. Jangan berfikir kalau uang bayaran sekecil itu lalu kami terima setiap bulan dengan rutin. Jumita berhenti bercerita, ia membiarkan kisah itu mengambang di udara. Tidak. Paling hanya lima anak yang bayar. Sementara yang lain bayar hanya setiap selesai menjual hasil panen. Biasanya setiap enam bulan sekali, lanjut Jumitha setengah berbisik.

“Selain perpustakaan dengan koleksi buku cerita dan permainan di dalam ruang, perlahan namun pasti kami terus berusaha menambhakan mainan luar ruang di lapangan bermain TK yang cukup luas, karena itu yang melatih motorik anak-anak. Tapi itu biasanya dikirim dari pusat (yayasan pesat),” kata Jumita.

Ada study tour juga lho..,jumita tertawa, kita ke museum, bank, stasion, kantor pos, untuk nambah wawasan, jadi tak kalah dengan anak-anak di kota. Lebih lagi, kami bahkan mengembangkan potensi anak-anak dengan ekskul. Ada komputer, menari, melukis, dll, seru kan? (ton)