Cerita Dari Pantai Utara

Ibu guru Erna Margaretha di halaman TK tak jauh dari Pantai Bondo di Jepara

Kisah Franklin yang diulang-ulang tanpa bosan;

Melalui Cerita, karakter anak-anak dapat terbangun, dalam tingkah laku dan perkataan mereka ada perubahan menjadi semakin baik.

Franklin takut dengan ruang gelap dan kecil. Itulah sebabnya, kemana-mana Franklin selalu menyeret cangkangnya. Ia takut masuk ke dalam cangkangnya yang gelap dan kecil. Franklin yakin bahwa sesuatu yang mengerikan, seperti monster, ada di dalam cangkangnya yang gelap dan kecil itu. Maka, pergilah ia ke taman-temannya untuk minta bantuan. Duck, si bebek menawarkan pelampung renang yang biasa dipakainya ketika takut berenang, Lion, si singa, menawarkan penutup telinga yang biasa dipakainya ketika takut suara keras. Bird, si burung, menawarkan parasut yang biasa dipakainya ketika takut terbang. Polar Bear, si beruang kutub , menawarkan baju hangat yang biasa dipakainya ketika takut dengan dinginnya malam.

anak TK Pelita Hati sedang serius menatap lembaran buku cerita bergambar Franklin
anak TK Pelita Hati sedang serius menatap lembaran buku cerita bergambar Franklin

Rama merosot turun dari tempat duduknya, Tristan tak bergeming, demikian juga Gigih, mereka serius menatap lembaran buku cerita bergambar Franklin sambil mendengar cerita ibu guru Erna Margaretha di halaman TK tak jauh dari Pantai Bondo di Jepara.

Kisah-kisah dari seri Franklin ini sudah dibacakan berulang-ulang karena kita sudah kehabisan, tapi anak-anak tetap seru dan senang mendengarnya. Anak-anak bilang, kata Erna, lewat cerita tadi mereka bisa meniru perilaku baik dari karakter-karakter Franklin dan teman-temannya, dan mereka mempraktekannya di sekolah dan di rumah.

Ibu guru Erna Margaretha sedang kisah-kisah dari seri Franklin
Ibu guru Erna Margaretha sedang kisah-kisah dari seri Franklin

Orang tua bilang, anak-anak bisa disiplin, mau belajar mandiri, bisa menghormati orang lain, membantu orang lain, dan sudah terbiasa mengucap terimakasih untuk setiap hal yang mereka dapat.

kami memang mendidik anak-anak dalam bersikap, bertutur kata, bisa mempunyai hubungan sosial yang baik dengan teman-teman, serta tentu membentuk anak-anak yang takut akan Tuhan dan menyayangi temannya.

Taman Kanak-kanak Pelita Hati di Kecamatan Bangsri, jepara, Jawa Tengah ini telah mendidik anak-anak Jepara sejak tahun 1999. Jarakya hanya 1 KM dari Panda Bondo dan Mlonggo dimana perahu-perahu nelayan berjejer. Desa Jeruk Wangi dimana TK berada dihuni oleh masyarakat yang sebagian besar hidup dari pertanian.

Ibu Guru bersama Anak murid di halaman TK, tak jauh dari Pantai Bondo di Jepara
Ibu Guru bersama Anak murid di halaman TK, tak jauh dari Pantai Bondo di Jepara

Selain Erna, pagi ini juga kami berjumpa dengan Ibu Faomasi Ziliwu, sang perintis TK yang sudah genap 20 Tahun berada di sini. “Saya mengasihi anak-anak dengan sepenuh cinta, karena saya percaya Tuhan mempercayakan mereka kepada saya untuk saya didik sehingga mereka mempunyai masa depan yang baik,” tutur Faomazi. Dulu orang-orang hanya bersekolah sampai SMP, menikah dini, tapi setelah ada TK, kini saya bisa melihat mereka sudah bisa pergi kuliah, bahkan beberapa alumni yang duduk di sekolah selalu berprestasi.

“Saya bangga ketika pada suatu hari saya melihat postingan di media sosial tentang seorang alumni TK Pelita Hati yang sedang dilantik menjadi ketua OSIS di sekolahnya, saya bahagia karena pernah turut berperan mendidik anak itu sehingga ia bisa menjadi seorang pemimpin pada hari ini,” Ibu Guru Yati Hindayani berbinar menceritakan mantan anak muridnya dulu.

Dusun Jerukwangi hanyalah secuil daratan di tepi paling utara pulau Jawa, tapi Tuhan sangat mengasihi anak-anak disana, Ia begitu peduli sampai mengirim ibu-ibu guru PESAT ke sana, sehingga dari sini akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan.

Tentu pembuat cerita seri Franklin akan turut bahagia mendengar kabar baik ini. (tony)