Hey! Anak Muda, Kezia Moanley Menantangmu!

“Ini saya sudah di Papua, kah?” Kezia Moanley masih tak percaya. Dari landas pacu di tengah lembah, bola matanya berkeliling menatapi pegunungan Jayawijaya dengan barisan awan, perempuan 24 tahun ini begitu takjub ketika impian terbesarnya menjadi kenyataan; berada di Papua dan melayani anak-anak!

Itu tanggal 17 Desember 2016, saya masih ingat saat pertama kali kaki saya menginjak tanah Papua. Sungguh itu adalah hal yang menakjubkan, saya sampai tidak percaya, merasa terheran-heran. Saya bersyukur untuk suatu moment yang baik dimana Tuhan membawa saya ke sana, katanya lagi.

Di Papua, Kezia menjadi seorang guru dan mengajar anak-anak di SD Triesa Unggul Terpadu, sekolah yang didirikan PESAT untuk membangun anak-anak Lembah Baliem. “Mengajar, menjadi seorang guru bagi mereka. Saya sangat menikmati saat-saat bersama anak-anak Papua,” kata Kezia, tatapannya bisa diartikan betapa terkesannya perempuan muda lulusan Sarjana Pendidikan dari UKSW Salatiga ini.

Ia adalah peserta Program BFL, yang dulu dikenal “Sarjana Pembaru Desa”, atau SPD, suatu program yang memberi kesempatan bagi para fresh graduates dari berbagai disiplin ilmu, diluar teologi, dari berbagai perguruan tinggi untuk bisa berpartisipasi membangun negeri.

“Di Papua, saya banyak belajar dari anak-anak,” katanya. Di dalam kelas tidak hanya anak-anak yang belajar darinya tapi ia juga belajar dari mereka. Kezia mulai mengamati dan menemukan apa masalah yang sedang dihadapi para muridnya, dan ia berusaha untuk mengajak mereka memecahkannya bersama, dengan pendekatan yang sangat sederhana tapi mengena.

Ini Wamena, meski berada di jantung Lembah Baliem dan hanya bisa diakses dengan pesawat terbang, tapi ia adalah kota kecil yang berkembang, dimana ada orang-orang pendatang yang lalu berbaur dengan penduduk asli Papua.

“Di kelas saya itu tidak hanya anak-anak (asli) Papua, tapi ada juga anak-anak pendatang, dan tantangan bagi saya adalah; bagaimana menyatukan mereka,” terang Kezia, mengernyitkan dahi. Itu adalah hal yang cukup sulit! ia melanjutkan. Sampai pernah ada yang bilang; “Aah.. Miss Kezia ini pilih kasih!” seperti itu, dan saya tahu bahwa ini adalah hal yang kalau tidak diselesaikan akan berdampak macam-macam di masa depan.

Akhirnya saya punya ide untuk membuat buku harian. Saya mewajibkan semua anak menulis apa yang mereka rasakan, atau sedang ada masalah apa, saya ingin mereka menuliskannya di buku harian. Dan.., dari buku harian murid-murid itu akhirnya saya tahu sedang ada apa. Konflik yang terjadi akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. Kezia tersenyum, wajahnya masih serius.

Menghadirkan Realita

“Di sekolah, saya mengajar IPA,” kata perempuan kelahiran Pulau Alor ini. Ia mengibaratkan kelas tempat ia mengajar sebagai sebuah laboratorium kecil, yang dalam proses belajar-mengajar nya ia selalu berusaha menghadirkan hal-hal yang sungguhan bagi anak-anak. Sehingga anak-anak dapat melihat langsung tanpa harus membayangkan dan mereka-reka seperti apa.

Suatu ketika saya harus mengajar tentang energi kinetik, energi listrik dan sebagainya, saya kemudian berfikir bagaimana supaya anak-anak bisa melihat contoh yang sesungguhnya. Terbersit ide untuk membawa murid-murid saya ke Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH) di Wamena, supaya anak-anak bisa belajar dengan melihat langsung di situ.

Bukan perkara mudah, karena mengurus izinnya harus berhadapan dengan birokrasi. Tapi puji Tuhan, setelah beberapa kali bertemu dengan pihak PLN, akhirnya kami diizinkan untuk berkunjung dan belajar. Anak-anak sangat senang, apa yang kami pelajari di kelas bisa mereka lihat langsung. Suatu pengalaman sangat berharga yang bisa didapat oleh anak-anak di pelosok. Sangat sulit tentu bagi mereka untuk membayangkan sebuah pembangkit listrik modern yang mengubah air menjadi energi jika tidak melihat langsung. Bagi Kezia tentu suatu kebanggaan bisa memberikan mereka kesempatan yang sama seperti anak-anak di tempat lain yang lebih maju.

“Karena itu, saya menantang semua anak-anak muda yang mengaku lulusan terbaik dari universitas-universitas terbaik di Indonesia untuk turun ke lapangan, turun ke desa untuk membantu anak-anak desa,” ucap Kezia Maonley, S.Pd, jebolan UKSW Salatiga, peserta Program BFL* .

Kezia berapi-api, darah mudanya mengalir berpacu dengan semangat. “Jangan pernah takut untuk menghidupi passion yang kamu punya,” ucapnya meyakinkan. Kenapa? Karena kebahagian sejati hanya didapat ketika kita berjuang untuk passion yang kita punya, ia melanjutkan, uang, ketenaran dan segala macam itu hanya sementara, tapi damai sejahtera, sukacita yang kita rasakan ketika memberikan diri bagi Tuhan itu adalah kebahagian sejati, dan saya sudah buktikan, ucapnya yakin. (tony)