Kehidupan Anak Desa & Future Center

Dhea Febriani

“Anak-anak di sini masih bermain permainan tradisional, meski di kota anak-anak lain sedang kecanduan gadget, tapi di sini anak perempuan dan laki-laki masih menghabiskan sore bermain sepak bola, bulu tangkis, dan permainan kampung lainnya, seru sekali…”

Aku hobi menari, jadi aku suka menari, tarian favoritku adalah tari Gambyong, tarian Jawa klasik, ini tarian kelompok, kami sering tampil di acara-acara desa maupun di sekolah, ujar Dhea Fitriani, bocah perempuan kelas satu SMK yang tinggal di desa Jlegong, 60 kilometer Tenggara kota Semarang.

Kami menjumpai anak-anak Future Center usia remaja di desa-desa untuk mencari tahu apa arti kebahagiaan menurut mereka. Berbagi cerita tentang bagaimana rasanya hidup di desa. Sebagai anak desa, bagaimana mereka mendefinisikan dirinya.

“Perasaanku tinggal di desa itu senang. Adat-istiadatnya masih kental dijalankan, dan itu bisa jelas terlihat saat ada acara perkawinan, tetangga di sini masih banyak yang membantu, saling tolong-menolong,” jawab Dhea tenang.

Di desa juga belum ada polusi, lingkungan masih hijau. Kami sekeluarga tinggal bersama, ada bapak, ibu, kakak, dan ponakanku. Bapak pergi ke ladang setiap hari, ia bekerja di ladang orang lain sebagai buruh tani, dan kami membantunya, lanjutnya bercerita.

Kami ingin anak remaja dari desa ini bercerita tentang momment perubahan yang pernah terjadi di hidupnya. “Dari banyak hal yang aku dapatkan di Future Center, aku merasa kalau aku bahagia di sini, kenapa? Karena di sini ada “kasih”, di tempat ini guru-guru mau menjadi solusi bagi kami, dan bukannya malah membiarkan kami,” ungkap Dhea sambil menghela nafas.

Aku bersyukur banget ada Future Center di desaku, sambungnya, karena tak hanya dididik, karakter kami juga diubah menjadi lebih baik. Banyak sikapku yang berubah. Aku sedih, banyak anak remaja di luar sana mungkin tidak seberuntung aku, masih banyak hal-hal tak baik di luar sana, Dhea diam sejenak pandangnya mengarah ke jendela.

Yang menarik itu adalah saat Future Center bikin acara, tiba-tiba dia bercerita, seperti Paskah atau Natal, kami selalu dilibatkan menjadi panitia. Moment terbaik adalah saat menjadi panitia Natal Future Center bersama teman-teman, kami semua diharuskan untuk mengutarakan pendapat masing-masing, dan mencari titik temunya, tidak ada yang boleh cuma mementingkan pendapatnya sendiri, dari situ juga kita belajar bekerjasama untuk suksesnya acara itu. Jadi kami belajar banyak hal, dan ketika di sekolah di pilih menjadi panitia, kami di sekolah dipilih menjadi panitia, kami sudah terlatih dan gak malu-malu, papar Dhea dengan wajah bangga.

Di Future Center, kami belajar tentang kepemimpinan, dan pelajaran yang dapat ku petik adalah; “Kita tidak boleh menjadi pemimpin yang mementingkan diri sendiri, tapi harus peduli juga pada orang lain, tapi harus peduli juga pada orang lain, karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang peduli sesama,” ungkap remaja yang berharap bisa belajar tari tunggal ini.

Kami bertanya pada anak remaja ini tentang cita-cita masa kecilnya, dan bagaimana itu semua bisa berubah seiring waktu.

“Waktu kecil, aku bercita-cita ingin jadi guru tari, tapi sekarang aku ingin menjadi guru sekolah. Karena guru tuh buatku baik, dia bisa mendidik anak-anak, tidak suka marah, sabar, dan tahu karakter dari masing-masing anak. Terinspirasi juga dari ibu-ibu guru FC yaa.. seneng banget karena mereka bisa diajak sharing, ibu guru memberi solusi dari setiap masalah yang kami hadapi. Ada kata yang selalu aku ingat; “Dalam hal apapun dan situasi apapun dimanapun kita harus jujur”.

Kalau ditanya pribadiku seperti apa, teman-teman dikelas bilang aku jarang cemberut, selalu tersenyum, bawaannya sukacita, atau mungkin kadang iseng bikin mereka ketawa terus, ucapnya sambil terkekeh.

Aku suka di FC, karena ini tempat aku dan teman-teman lainnya berkumpul, kan kita kadang sibuk dengan kegiatan masing-masing, nah, dengan adanya FC kita jadi bisa ketemu, saling berbagi dan memberi masukan.

Kami bertanya tentang gagasan dan perasaan mereka untuk membangun negeri ini. “Aku ingin berusaha agar nilai-nilai di masyarakat di desa ku tidak hilang karena pengaruh teknologi modern, aku ingin anak-anak desa tetap manrikan tarian Jawa, tetap memainkan permainan tradisional, dan masyarakat tetap saling peduli pada sesama,” ucap Dhea, sesaat ia dan teman-teman melangkah di halaman Future center yang teduh di kelilingi pepohonan. (bel/ton)