Kekuatan Positif dari Pelukan Kasih

“Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka……” Markus 9: 36

Suatu kali, kami melayani seorang pemudi yang mengalami banyak kepahitan pada masa kecilnya. Ibunya meninggal ketika dia ada di bangku kelas 2 SD, bapaknya memberikan dia ke tantenya untuk diasuh. Di rumah tante, dia diperlakukan berbeda dari anak-anak kandung keluarga tersebut.

Gadis ini tumbuh menjadi seorang pemberontak, sulit tunduk pada otoritas dan sering bermasalah. Dia marah pada bapaknya yang tidak mau mengurus, marah pada keluarga yang mengasuh karena merasa dibedakan, juga marah pada Tuhan mengapa mengambil ibunya di waktu dia masih kecil.

Selesai dilayani, pengakuan, dan didoakan. Dia berkata, ”boleh saya memeluk ibu? Dari kecil saya ingin dipeluk, tidak ada yang memeluk saya. Kalau melihat anak-anak dipeluk mamanya, saya iri sekali”.

Gadis ini menanti pelukan selama lebih dari 20 tahun, sebagai bagian dari pemulihannya.

Seberapa banyak kita memeluk anak anak kita? Pelukan adalah bahasa kasih yang memberi rasa aman, rasa hangat, rasa diterima pada anak anak. Ketika seorang anak mendapatkan pelukan kasih, maka syaraf-syaraf di otaknya mengrimkan pesan-pesat positif yang memberikan kesadaran bahwa dirirnya dilindungi, diterima, dikasihi.

Sebaliknya anak-anak yang dari kecil tidak memiliki orang-orang dekat yang memberikan pelukan kasih akan mengalami kesulitan dalam hal penerimaan diri dan juga sukar mempercayakan diri pada orang lain. Juga memengaruhi rasa aman dalam dirinya yang membuat anak-anak rentan dengan pengaruh-pengaruh di sekitarnya. Ketika ia mulai beranjak remaja, akan berusaha mencari rasa aman dan penerimaan dengan caranya sendiri.

Beberapa waktu lalu, saya mendengar kesaksian seorang hamba Tuhan, yang anak laki-lakinya pada waktu remaja mengalamai masa-masa sulit. Sering membuat ulah di sekolah, sampai pada titik akan dikeluarkan dari sekolah. Selesai kepala sekolah meng-ultimatum hamba Tuhan itu sebagai orang tua, dia menemui anaknya. Hamba Tuhan itu memeluk anak laki-lakinya dan mengatakan kalau mau sekolah harus berubah atau memilih untuk keluar sekolah. Dan apapun pilihananmu, kamu tetap anak papa. Dia terus memeluk putranya. Singkat cerita anaknya memilih untuk melanjutkan sekolah dan ketika lulus dari SMA, dia mendapatkan rangking pertama. Dan hamba Tuhan itu berkata, ketika anakmu gagal atau jatuh atau mengecewakanmu, peluk saja, beri “pelukan yang mengubahkan”.

Kekuatan Positif dari pelukan kasih:

Pada anak-anak, memberikan dasar dari rasa kasih, diterima, dan dilindungi.

Pada masa-masa sulit, pelukan memberikan kekuatan khusus, karena melambangkan kasih dan penerimaan tak bersyarat.

 Sebuah pelukan tidak membutuh-kan uang besar, untuk memeluk tidak perlu kepintaran akademis, tapi sebuah pelukan yang tulus dan penuh kasih dapat menjadi mujizat besar dalam kehidupan seseorang.

“PELUKAN KASIH PADA SEORANG ANAK BEBRBICARA LEBIH BANYAK DARI PADA NASEHAT-NASEHAT YANG DIUCAPKAN”

– Lisanasanti –