Kemerdekaan yang Sesungguhnya

oleh: Hans Geni Arthanto, MA

Mereka sesungguhnya mempunyai potensi untuk maju, tetapi sekarang seperti raksasa tidur, terbelenggu..

– Hans Geni Arthanto –

Kemerdekaan bangsa Indonesia tidaklah berhenti pada tgl 17 Agustus 1945, melainkan kemerdekaan tersebut perlu dipertahankan dan juga diisi dengan pembangunan menuju masya-rakat yang adil dan makmur.

Demikian pula perjalanan iman kita, kemerdekaan rohani yang dialami perlu dibarengi dengan sikap waspada dan berdiri teguh untuk mempertahan-kan kemerdekaan tersebut agar tidak lagi dikenakan kuk perhambaan.

Dalam konteks surat Galatia, kuk perhambaan tersebut berupa ajaran keselamatan oleh karena melakukan sunat, bukan karena iman pada Kristus. Dalam konteks masa kini, kuk perhambaan tersebut bisa berupa berbagai kenikmatan hidup yang melarutkan kasih kita pada Tuhan maupun berbagai kesengsaraan hidup yang telah memahitkan hidup kita sehingga tidak lagi dapat mengucap syukur akan segala kasih karunia-Nya.

Mari bangkit! Ia telah memerdekakan kita yang percaya pada-Nya. Apapun keadaan saudara, lebih baik percaya pada Tuhan dari pada percaya pada Iblis dan menyerah ataupun marah pada situasi. Bangkit, seperti anak bungsu terhilang yang bangkit, dan larilah, datang pada Tuhan, kembali pada pelukan Bapa sorgawi yang penuh kasih.


Bagaimana kita bisa berdiri teguh? Dengan memakai selengkap senjata Allah (Ef 6:10-11), yaitu berikat pinggangkan kebenaran, berbajuzirah-kan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, pergunakan perisai iman, ketopong keselamatan, pedang Roh dan berdoalah setiap waktu dalam Roh (Ef 6:14-18). Semuanya ini adalah perlengkapan seorang prajurit, artinya kita semua haruslah senantiasa waspada dan berjaga-jaga.

Secara rohanipun demikian, kita harus memulai hidup dengan berpegang pada kebenaran Firman Tuhan, melakukan keadilan, melayani, hidup oleh iman bukan ketakutan dan kekuatiran, memikirkan hal-hal yang positif serta senantiasa berdoa.

Bila suatu negara merdeka dapat mempertahankan kemerdekaannya, maka selanjutnya adalah melayani masyarakat agar terwujud masyarakat yang adil dan makmur. Begitu pula dalam kehidupan kristiani, kita tidak dipanggil mengalami kemerdekaan sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan sebagai kesempatan untuk melayani orang lain dalam kasih Tuhan.

Kita tahu, sekalipun Indonesia telah 60 thn mengalami kemerdekaan, namun masih banyak rakyat Indonesia yang dibelenggu oleh kemiskinan, keterbelakangan dan sakit penyakit. Secara khusus, desa identik dengan kehidupan yang miskin, terbelakang bukan karena bodoh, melainkan karena tidak adanya sarana pendidikan, tidak memadainya sarana pendidikan dan kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan. Mereka sesungguhnya mempunyai potensi untuk maju, tetapi sekarang seperti “raksasa tidur”, terbelenggu.

Pertanyaannya adalah; “Siapa yang bersedia Ku-utus?” Siapa yang mau menanamkan hidupnya, doanya dan hartanya pada mereka yang terabaikan ini?

Mari bergandengan tangan memberkati desa-desa sampai semuanya mengalami kemerdekaan seutuhnya. (*)

*) disadur sebagian dari artikel: “Merdeka yang Sesungguhnya”
oleh: Hans Geni Arthanto, MA
(PESAT’s Executive Board)