Membuka Jalan di Hutan.

Halaman Sekolah TK

TK Nazaret, Tulang Bawang

mereka kekurangan kasih sayang, jadi kami sebisa mungkin memberikan kasih sayang yang kami punya…”
– Marlina Bangalarawa –

Pagi makin meninggi di Lampung Utara dan desa-desa menggigil dalam hujan yang mengguyur sejak dini hari. Kami memaksa langkah meniti beberapa kilometer jalan becek dengan kubangan di sana-sini, bergegas agar tak terlambat tiba di Nazareth, taman kanak-kanak PESAT yang cukup tua di desa transmigran ini.

Tinggal satu kelokan lagi, tapi hujan memaksa kami berteduh di bawah pohon. Dari jarak TK Nazareth terlihat cantik meski berdiri sendirian di antara hutan karet.

Pendaran cahaya lampunya memantuk ke dinding berwarna-warni kemudian menerangi bocah-bocah di dalam kelas, Ibu Marlin melambaikan tangan ke arah kami. Mereka sedang seru, ada permainan saling lempar pertanyaan sambil menari dan bernyanyi, riuh sekali, kelas itu sangat-sangat hidup.

Para Guru TK Nazareth dan Anak Murid

Saya suka lukisan di dinding luar itu, kata ku memuji mural yang dibuat Bu Marlin. “Waahh.. akan beda penampakannya kalau datang dua tahun lalu, saat saya pertama ke sini,” balas Bu Marlin. Kenapa? tanyaku. Saat saya datang dulu, jawab Marlin, TK ini masih dalam keadaan rusak. Jendela hanya dari jaring kawat, pintu-pinti rusak, lantai rusak, dinding terkelupas di sana-sini. “Yang tidak enak itu kalau hujan atau angin, semua daun dan debu masuk ke kamar. Bahkan pernah satu malam ada ular besar berganti kulit di bawah tempat tidurku..,” cerita Marlin bergidik.

Takut sekaligus sedih juga, karena saya hanya seorang diri. Saya takut apalagi kalau malam hari, karena daun pintunya sudah tidak utuh. tidak bisa menutup dengan sempurna. Saya hanya berserah pada Tuhan, meski tetap was-was, apalagi pernah ada dua orang pencari burung yang menerobos masuk.

Gedung Sekolah TK Nazaret

Tak mau dirundung khawatir, marlin mengajak masyarakat untuk membantu memperbaiki gedung TK . “Kadang saya menyisihkan pendapatan saya untuk merenovasi sekolah ini. Perlahan jendela awat mulai diganti dengan kaca, pintu-pintu dan lantai diperbaiki, dinding mulai dicat, dan perlengkapan sekolah mulai dibenahi,” ucap Marlin.

Murid-murid banyak, ada 30 anak, dan mereka semangat datang sekolah setiap hari, kata Marlin. Membuka Taman Kanak-kanak di tengah hutan karet di pemukiman para transmigran di pelosok yang jauh dari keramaian, di sini justru saya menemukan jawaban mengapa pendidikan anak usia dini itu penting, dan kapan kita harus menyelamatkan mereka. “Mereka tidak mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya, terutama karakter,” jelas Marlin. Pernikahan dini menjadi penyebab utama, di sini anak usia 16-18 tahun sudah menikah, bahkan sudah ada yang janda atau duda. Kalau mereka mempunyai anak, maka dari situlah anak-anak menjadi korban, tidak mendapat kasih sayang.

Saya prihatin, itulah lalu kita sering mengadakan seminar parenting untuk para orang tua untuk mengajarkan pola asuh.

Murid-murid yang ku tangani tidak biasa-biasa seperti anak-anak di kota. Di sini mereka lebih tidak teratur, beberapa ada yang hiperaktif, malah ada juga yang berkebutuhan khusus. Saya mencoba membentuk karakter mereka menjadi seperti yang kita inginkan, dan itu melelahkan sekali. Aku bisa maklum karena latar-belakang mereka yang kekurangan kasih sayang dari ayah dan ibu.

Seiring berjalannya waktu, perubahan karakter anak-anak menjadi baik mulai terlihat, dan itu sungguh menjadi kesaksian buat saya bagaimana Tuhan sungguh menyertai. Orang tua pun bisa melihat perubahan anak-anaknya. “Anak-anak kalau dididik dengan benar, akan bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang baik,” tekan Marlin.

Melalui TK Nazareth, saya membuka jalan agar mereka bisa menuju ke masa depan, harapan saya adalah ketika mereka selasai dari TK mereka akan menjadi pembawa perubahan bagi masyarakat, ujar Marlina Bangalarawa, ia lahir di Sumba 1991, sosok perempuan lembut yang tangguh, kehadirannya memberikan arah pada anak-anak generasi baru transmigran. (tony)

Ibu Marlin sedang tebak lagu bersama anak