Sekolah Di Ujung Bumi

“Pagi yang cerah di Torere, tanpa canda dan tawa. Yang ada hanyalan kenangan, sedih ketika mengingat bagaimana sekolah yang sudah lama mati itu hidup kembali, namun akhirnya mati lagi. Kali ini konflik yang membunuhnya.”
–Marko Dekonti-

Kenangan terakhirku bersama mereka adalah saat melihat mereka berseragam sekolah untuk pertama kalinya. Bocah-bocah SD itu tersedu-sedu, kita menangis dan tertawa dan menangis lagi untuk satu stel celana pendek merah dan kemeja putih berlogo sekolah dasar itu. Setahun sekolah tanpa seragam. Berbulan-bulan pula anak-anak kecil itu banting tulang mengumpulkan uang supaya bisa pakai seragam. Aku berperahu tiga hari dua malam untuk membeli seragam itu di kota.

Entah kenapa bahkan jauh di pedalaman pun kedamaian bisa terusik. Tiba-tiba konflik pecah dan aku harus meninggalkan Torere. September 2018 saya mengungsi ke Distrik Dou, satu hari berperahu dari sana.

anak murid menunggu di dermaga

Di dermaga kayu di tepi hulu sungai Mamberamo para murid melepas saya. “Pak guru kapan kembali?,” pertanyaan itu masih terngiang-ngiang ke telinga. Saat itu saya tidak berani berkata jujur kalau tidak akan ketemu lagi dengan mereka. Saya takut semangat mereka hilang.. Saya hanya bilang, “Pak guru akan kembali kalau tugas di Dou sudah selesai..” Mereka memeluk saya, semuanya menangis.

Matahari baru keluar dari antara kabut, perahu meluncur perlahan, lalu hanyut bersama arus sungai menuju hilir, air mata ku berlinang, teringat hari-hari di sana, bagaimana berapi-apinya semangat belajar mereka.

Anak-anak itu tidak punya uang jajan, jadi jangan berfikir kalau mereka nabung dari menyisihkan uang jajan, di sini tidak mengenal istilah uang jajan, haha.., Marko tertawa, ada genangan di sudut matanya, ia menggelengkan kepala, matanya menerawang jauh, lalu melanjutkan dengan suara pelan, “Mereka mendapatkan uang dari kerja bersih-bersih di desa, sapu-sapu, potong rumput, potong kayu. Nah uang itulah yang mereka tabung untuk beli seragam sekolah..”

Marko bersama anak-anak murid

Saya teringat seorang anak berusia 11 tahun bernama Soleman, dia biasa dipanggil Tole, karena orang Torere mengucap “s” yang kedengarannya “t”. Tole itu murid teladan, rajin, kreatif dan penuh semangat, murid yang hampir-hampir tidak mau pulang dari sekolah. Hanya beberapa menit setelah pulang ke rumah, ia sudah kembali lagi ke sekolah. Saya mau belajar tambah lagi, Pak Guru, katanya. Ide membeli seragam sekolah pun datang darinya. Ia yang menggerakkan dan menyemangati teman-temannya sampai uang terkumpul dan cukup untuk membeli satu stel seragam sekolah.

Februari 2017 Marko tiba di Torere, membuka kembali sekolah yang sudah lama mati. Sama sekali tidak ada yang bisa membaca, termasuk Tole. Sekarang semua sudah bisa baca, sudah bisa berbahasa Indonesia. Tole bahkan semakin rajin membaca, rajin belajar. Pernah suatu malam ia menginap di sekolah, saat saya terbangun tengah malam, saya melihat dia masih membaca dengan lampu senter di kepala. Tole senang membaca Alkitab, waktu itu dia pernah bilang ingin punya Alkitab Bergambar, jadi saya belikan waktu saya ke Jayapura.

Tole lah yang selalu memotivasi dan memompa semangat teman-temannya untuk bisa percaya diri. “Berdoa saja..!,” itu kalimat dengan aksen Papua kental yang selalu diucapkannya saat dalam kesusahan. Terutama saat teman-temannya terlihat takut karena akan ulangan mingguan. Saya ingat ketika suatu hari ada rekan-rekan guru datang berkunjung, saya hanya punya sedikit beras, tidak ada sayur apapun. Tak berapa lama Tole dan murid-murid datang bawa kacang-kacangan dan sayuran. Saya kaget, dan baru sadar kalau selama ini mereka menanamnya untuk saya di halaman sekolah.

anak murid torere memakai seragam

SETIAP HARI PARA MURID MENUNGGU DI DERMAGA DI TEPI SUNGAI

Beberapa bulan tinggal di Distrik Dou dan mengajar di SD PESAT Dou, pada suatu hari ada kabar datang dari Torere. Katanya, setiap hari para murid menunggu di dermaga di tepi sungai, melihat perahu-perahu yang datang, berharap Pak Guru ada di atasnya. Hatiku sedih, dan semakin sedih. Menjelang Tahun ajaran baru 2019/2020, ada orang yang berperahu dari hulu dan membawa pesan dari Tole. Katanya ia ingin ke Dou dan melanjutkan sekolah.

Hening sejenak, Marko, guru muda ini menatap kosong. “Sampai saat ini saya masih memikirkan Tole, setelah tamat SD bagaimana dia akan melanjutkan SMP, jika memang Tuhan ijinkan saya mau berjuang untuk anak ini bisa masuk SMP,” ucap Marko, ia menarik nafas dalam-dalam di sore bergerimis itu, Bella Savira yang mewawancarainya menatap tak bergeming, penasaran ingin tahu akhir ceritanya, apakah Tole berhasil sampai di Dou? “Semangat anak itu tidak pernah mati! dia berani bertaruh nyawa untuk bisa sampai ke Dou..,” lanjut  Marko. (bella/tony)