Tantangan Berjalan demi Anak Desa

Cuntel  Challenge

“Ketika anda berada di garis start, ada seorang anak tersenyum di satu desa di pelosok sana.”

“Semoga mereka (anak-anak desa) juga bisa mendapatkan pendidikan yaa..,” ujar ibu Lyli (50) semangat ketika ia tiba di Cuntel, desa di ketinggian 1720 meter di atas permukaan laut. Lyli datang dari Jakarta untuk mengikuti even Cuntel Challenge. Turut berjalan bersamanya hampir 100an orang yang datang dari berbagai daerah, kebanyakan dari sekitar Semarang dan Salatiga. Melewati gerbang pendakian Gunung Merbabu, fun walk ini menempuh jarak hanya 2 kilometer, jalurnya menanjak perlahan sembari meliuk diantara hutan pinus, kebun-kebun sayur, lalu rumah-rumah penduduk di desa Cuntel.

“Tujuan perjalanan ini adalah agar mimpi anak-anak desa bisa terwujud,” ujar Rensius Sinaga (60) sembari berjalan mejelaskan makna dari even yang dilaksanakan Sabtu, 8 Desember. Mendung memayungi para pejalan hingga tak tersengat matahari. Di setengah perjalanan, panitia menyediakan minuman air mineral segar bagi para peserta, di sebuah kelokan lereng yang panoramanya menampilkan bentang alam pegunungan dan pedesaan. Jalurnya tidak berat, sangat wisata, dengan udara segar. “Berjalan bersama para sahabat PESAT dari berbagai daerah, sungguh menyenangkan,” kata Liana (45), ia datang dari kota Semarang.

Peserta Cuntel Challange sedang berjalan sampai menuju Finish
Peserta Cuntel Challange sedang berjalan sampai menuju Finish

“Kalau sudah tiba di garis finish itu rasanya mau coba lagi, jadi, untuk yang belum sempat ikut, lain kali bisa ikut kalau ada even seperti ini lagi,” ujar Edhi Susanto penuh semangat. Cuntel Challenge adalah even gerak jalan bertema “Walk for Village Children” atau “Berjalan untuk Anak Desa”. Karena tujuannya untuk menolong anak desa, jadi semua dana yang didapat melalui even ini sepenuhnya disalurkan ke Program Future Center yang melayani tumbuh-kembang anak di pedesaan Indonesia. Selain peserta yang berjalan langsung di Cuntel, perjalanan ini juga bisa diikuti secara online – melalui live streaming – di instagram @pesat_ministry dan facebook @pesat indonesia.

Di garis finish, acara dilanjutkan dengan games dan sharing. Beberapa anggota Apostolik PESAT membagikan pengalaman mereka selama terlibat langsung melayani anak-anak di desa. “Di desa yang jauh di pelosok, anak-anak itu tidak mempunyai akses yang memadai, mereka ingin belajar saja susah, karena saat bertanya orang tuanya pun tidak mengerti, mereka perlu orang yang bisa membimbing belajar, memotivasi, dan mendukung mereka untuk bisa melepaskan potensinya dan bertumbuh-kembang ke arah yang baik,” ujar Direktur Eksekutif PESAT Hans Geni Arthanto di Cuntel.

keseruan para peserta Cuntel Challenge
keseruan para peserta Cuntel Challenge

Untuk mempersiapkan generasi yang di masa depan akan memimpin bangsa ini, maka diperlukan orang-orang yang mempersiapkan anak-anak menjadi pemimpin, ada orang yang mendoakan, dan ada yang mendukung secara finansial, tandas Agus Sutopo, eks Ketua Wilayah PESAT yang belasan tahun melayani anakanak di pedalaman Sumatera. Di desa masih ada orang-orang yang untuk menyekolahkan anaknya saja tidak sanggup, tambah Sutopo, tapi di kota ada orang-orang seperti kita yang Tuhan percayakan untuk menolong anak-anak desa ini.

“Untuk sesuatu yang bernilai kekal, dan berdampak besar, mari kita bela habis-habisan, dengan doa kita, dengan tenaga kita, dengan apa yang Tuhan percayakan kepada kita,” ajak Wahyudi Triwiyanto yang mengkoordinir even berjalan untuk anak desa ini. Menurutnya, di prog ram Future Center, masih ada 2000 anak belum mempunyai sponsor. Kami membutuhkan dukungan anda untuk mewujudkan masa depan yang cerah bagi anak-anak desa, pungkasnya. (tony)