Dari Boyolali Sampai ke Ujung Bumi

Baru kali ini aku berpisah dari orang tua dan saudara-saudara ku. Selama ini mana pernah aku jauh-jauh dari mereka. Sejauh-jauhnya aku pergi, ya waktu aku kuliah. Itu pun hanya di Solo. EMpat puluh kilometer dari Boyolali, kota kelahiranku. Sekarang ku tatap ombak yang tenang berbuih putih dari atas geladak. Bayangan siluet pulau Jawa berangsur menjauh. Akhirnya, aku pergi juga, dan akan jauh sekali. Papua!

Inilah kegilaan yang dibilang teman-temanku. “Kamu mau jadi pahlawan di Papua? Pahlawan tanpa tanda jasa, seperti yang dibilang di syair Hymne Guru?” Pikiranku menerawang ke saat aku membuat keputusan pergi.

Tom membawa pesawat keluar dari Celah Kurulu ke arah selatan. Terus naik menembus awan. Kami seperti naik awan di negeri antrahbrantah. Tom sengaja memepetkan pesawat ke tebing-tebing, sambil bercerita kalau di situ ada kehidupan juga. Benar. Di sela-sela rimbunnya hutan di puncak-puncak gunung ada honai-honai berkelompok. Katanya setiap kelompok punya bahasa sendiri yang berbeda dengan kelompok lain.

Kami disambut dengan teriakan-teriakan menakutkan seperti orang marah. Oi..! Oi..! Oi! Disertai orang berlarian membawa parang, tombak, dan panah. AKu semakin was-was. Apa yang terjadi? Perangkah? Ternyata mereka mau menangkap Kasuari, burung raksasa, yang tadi melintas di landasan. Pilot marah karena burung itu hampir saja menabrak pesawat. Pilot bilang, ia tidak akan ke sini lagi kalau burung itu masih hidup!

Eny Suprihatin, dara kelahiran Boyolali 9 September 1967, jebolan Fakultas Sastra Universitas Negeri Surakarta, di usia 25 tahun ia bergabung dengan PESAT melalui program Sarjana Pembaru Desa, lalu diutus ke Papua, ke tempat dimana ia mengabdikan hidupnya, mengalami banyak hal.. bahagia, takut, terancam.. pengalaman hidup dan pelayanannya seperti sebuah perjalanan spiritual.. kisahnya sangat menarik, meski baru dirilis satu dekade waktu kemudian..