The Special One

Sesampainya di desa Orang Lampung, ia langsung diajak berkeliling tambak oleh sang kepala desa. Tampaknya bagus, tapi banyak ikan-ikan terapung mati. Mien lalu bilang bahwa ia akan mengajari kepala desa tentang bagaimana cara menambak ikan yang benar. Tapi Mien membuat perjanjian, kalau tambak ikannya berhasil maka kepala desa harus mengumpulkan seluruh petambak, penduduknya, agar Mien bisa memberikan penyuluhan juga kepada mereka. Kepala desa sepakat.

Beberapa waktu kemudian sungguh luar biasa, berkat penyuluhan Mien budidaya ikan di tambak berhasil. Mien lalu menagih janji. Kepala desa mengumpulkan penduduknya, para penambak. Nona Ambon hitam manis ini lalu memberi penyuluhan. Awalnya banyak orang berlaku acuh, angkuh, tak santun, mereka mendengarkan penyuluhan sambil merokok, duduk dengan kaki diatas bangku, tidak teratur dan berisik. Tetapi setelah Mien berbicara mengenai kasih dengan mengangkat cerita dari kehidupan keseharian mereka, tiba-tiba mereka menangis. Sejak saat itu perlahan sikap dan tingkah laku mereka mulai berubah, mendengarkan Mien dengan baik.

Suatu ketika di perjumpaannya yang terakhir, kepala desa berkata kepadanya, “Saya salut sama orang Kristen.” Mien kaget, bagaimana ia bisa tahu, sedangkan Mien tidak pernah mengatakannya.

Kehadiran Mien yang singkat di tengah-tenagh Orang Suku Lampung telah memberika secercah cahaya dengan memperkenalkan mereka pada kasih Tuhan.

The Special One adalah kisah-kisah menakjubkan dari 13 pewarta kabar baik yang dirangkum dalam buku ini, para orang-orang pilihan, yang akan membuat kita mengerti apa arti panggilan untuk melayani Tuhan. Ada darah, keringat, dan air mata.., dan itu merupakan bagian yang harus mereka hadapi untuk menyelesaikan tugas sampai garis akhir.