Antara Bodro & Monterado

“Kalau motor ini tidak kuat menanjak, dan tergelincir ke belakang, habislah sudah..”

Maria Indarsih Wahyuni

Merapal kata Bodrosari, dusun di balik-balik kabut Merbabu, bak mantra, ia menuai senyum, Maria menggelengkan kepalanya, terlalu tinggi dan terjal untuk sebuah dusun, soraknya menghakimi dusun yang masih tersangkut dalam ingatan perempuan sarjana pendidikan ini.

Musim hujan di lereng Merbabu tidak main-main, licinnya jalan tanah merah yang terjal dengan kemiringan sekitar 60 derajat adalah tantangan tersendiri untuk melakukan pelayanan setiap akhir pekan, benaknya menerawang ke masa tujuh tahun silam.

“Kalau ada tukang ojek yang mau mengantar, itu sudah suatu anugerah, tapi jarang ada yang mau, jadi aku dan Wiwiek – rekan sepelayanan, kami sering jalan kaki, 8 kilometer mendaki, lumayan juga,”

Maria bercerita setengah berteriak di telingaku, suaranya berlomba dengan deru motor yang memacu tanjakan terjal. Sore ini aku temani ia napak tilas, sepanjang jalannya adalah ujian bagi kuda-kuda Jepang ini. Tidak semua sepeda motor bisa nanjak ke sini.

Kalau fobia ketinggian jangan menoleh ke belakang, karena rasanya seperti ingin menggelinding seperti botol kecap. “My trip, my adventure..,” teriaknya tertawa.

Maria mengajakku ke dusun Bodrosari, seperti memutar ulang waktu, sepanjang jalan ia banyak bercerita tentang pengalamannya; ikut berkebun di lereng-lereng, tergelincir jatuh, menikmati makan tempe busuk, sampai menggigil kedinginan.

“Tapi sukacita membuncah ketika kami bisa berinteraksi dengan penduduk,” aku Maria sumringah. Kami kunjungi rumah-rumah, berbicara, dan mendengarkan mereka, ada beberapa orang tua yang selalu penuh sukacita setiap melihat kami datang, lanjutnya.

Maria dan Wiwik juga membuat bimbingan belajar untuk anak-anak dusun Bodrosari dan Batur. Bahkan mereka berdua pernah mengajak gereja lokal menggelar pengobatan gratis bagi penduk dusun. “Adalah anugerah Tuhan, saya bisa mengalami ini, ”ucapanya seraya memandang dari ketinggian ini hamparan kota nun jauh di bawah sana.

Passion untuk Desa

Yang memotivasi saya untuk tetap melayani di desa adalah passion dan kasih, ucap dara yang pernah menghabiskan waktu mengajar TK di Lamboya, Sumba ini. Saya merasakan kehadiran Kristus dalam keseder-hanaan, ketulusan dan senyum dari anak-anak desa, lanjutnya, tidak banyak yang saya berikan kepada mereka, justru dari mereka saya menemukan pelajaran hidup dan menjadi pribadi yang berdampak.

Maria beberapa bulan terakhir ini mulai melayani di Kalimantan Barat, ia berkeliling desa-desa di sana untuk memberi penyuluhan parenting yang memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pola asuh yang baik kepada anak-anak mereka. Antusias masyarakat di Kalimantan kala menyambutnya membuat Maria makin bersemangat menjalankan panggilannya.

Ia mendampingi empat TK PESAT yang tersebar di beberapa kabupaten di sana; Monterado, Dema, Sekabuk, dan Untang. “Saya menjadi supervisor dan membantu rekan-rekan menerapkan program,” jelasnya.

Filosofi hidupnya sederhana, baginya hidup tidak melulu tentang mendapatkan keuntungan dari apa yang dikerjakan, tetapi bagaimana hidup bisa berdampak untuk orang lain.

“Mimpi saya adalah bisa melihat hidup generasi kita diubahkan dan dapat memberi pengaruh positif bagi bangsa sendiri dan bangsa-bangsa lain,” tutup perempuan kelahiran Ngawi Oktober 1988 ini. (tony)