Pratiwi, Tumbuh bersama Karet, Seni, dan FC

Pratiwi (14);

Remaja Penyadap Karet yang Iringi Ibadah dengan Angklung

“Sekolah sangat penting, karena dari situ kita tahu banyak hal, kalau gak sekolah ya gak tahu apa-apa, gak ada cita-cita. Kadang saya suka mikir, bisa lanjutin sekolah apa enggak..” tutur Pratiwi, gadis remaja berusia 14 tahun, anak Future Center di desa Ringinsari.

Kami menemuinya di sela-sela pohon karet pagi itu, ketika ia sedang menyadap getah karet, penduduk menyebutnya nderes, mengerat kulit batang pohon karet untuk mengeluarkan getahnya.

 Wajahnya sedang bermandi keringat ketika senyumnya mengembang  menyambut kami. Kita berbincang sambil ia terus melanjutkan pekerjaan nderes-nya dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Di sini banyak nyamuk, kata ku menunjukkan bentol-bentol di lengan, Tiwi tertawa, aku sudah biasa, jawabnya. Tapi dulu waktu masih kecil, saat pertama kali diajak bapak belajar nderes sempat muntah karena tak tahan dengan bau karet, kenangnya. Kini, setiap hari ia menyadap getah karet mulai jam 05.00 pagi, sebelum berangkat sekolah, dan kadang lanjut lagi sepulang sekolah.

Senang berbicara dengan Tiwi, ia anak yang cerdas, bakatnya banyak, terutama di bidang seni.

“Besok hari minggu, kakak datang ke gereja ku ya?,” ajaknya, kami mengangguk. Minggu pagi akhirnya kami menyusuri jalan tanah yang meliuk diantara rimbun pepohonan karet yang mirip terowongan sebelum akhirnya dari balik-balik pohon tampak bangunan gereja bercat putih, dengan arsitektur sederhana berdiri menawan di satu pedataran.

Pratiwi memainkan angklung mengiringi jemaat di Gereja

Gereja ku unik, kata Tiwi lagi. Hari minggu pagi itu kami kaget bertemunya di halaman gereja. Berbeda dengan saat menemuinya di kebun karet, kali ini ia mengenakan kebaya putih, dan terlihat anggun. Kami semakin terpukau ketika masuk dan melihat bagaimana semua jemaat memakai baju putih dan memuji Tuhan dengan iringan alat musik angklung. Ada begitu banyak angklung yang tertata rapih di sudut kanan bagian depan, dan ada tujuh gadis remaja yang memainkannya, salah satunya adalah Pratiwi, ia begitu piawai memainkan nada-nada dalam lagu kidung jemaat sepanjang ibadah. “Di gereja setiap minggu aku mengiringi ibadah, sejak kecil kami di sekolah minggu sudah dilatih bermain angklung, jadi generasinya tidak putus,” kata gadis remaja yang pernah juara lomba menyanyi ini.

Talentaku banyak dimunculkan dan berkembang di Future Center, karena sejak TK aku sudah ikut FC, tutur Tiwi. Banyak hal yang diajarkan oleh ibu-ibu guru di FC –  para bunda-bunda –  demikian anak-anak biasa memanggil ibu guru, mengajari tentang seni tari, bernyanyi, bahkan tata rias. “Hari Kartini kemarin, aku yang merias anak-anak TK dan orang tua mereka,” akunya sambil tertawa. Aku sedang menyukai tata rias, jadi kepingin punya alat make up lengkap, tapi sudahlah, masih banyak kebutuhan lain.., sambil mengalihkan pandang dari kami, ucapannya terdengar dewasa kali ini.

Aku gak bisa ngebayangin kalau gak ada FC di desa ini, kami tumbuh bersama Future Center sejak balita, teman-teman datang dari desa-desa dan sekolah yang berbeda, kami membahas banyak hal dengan ibu guru, belajar banyak hal juga, sore itu cerita Tiwi mengalir seperti tumpah, ia juga bercerita senang punya pengalaman diajari bermain gitar oleh musisi rohani Edward Chen.

“Dulu aku pemalu dan gak percaya diri, tetapi para bunda selalu menyemangati aku untuk percaya diri, “pasti bisa.. pasti bisa..” kata mereka, dari situ percaya diriku mulai tumbuh dan sekarang sudah berani tampil dan menunjukkan karya ku. Aku selalu ingat, bunda bilang, “Percaya diri adalah kunci sukses”. 

“Kami juga berterima kasih karena bimbingan belajar di FC juga membuat kita menjadi murid-murid dengan nilai terbaik di sekolah masing-masing, rata-rata kami ada di 10 besar, dan aku tahun ini 5 besar,” ucap Tiwi bangga wajahnya merona-rona.

Minggu sore kami berjumpa dengan Pratiwi dan anak-anak FC usia SMP
Minggu sore kami berjumpa dengan Pratiwi dan anak-anak FC usia SMP

Kami menjadi pendengar yang baik untuk segala rasa bahagia dan syukur akan apa yang ia rasakan dan alami. Tapi kami memotong ceritanya, dan mengajak ia bicara tentang  masa depan, wajahnya sedikit berubah, senyumnya ketir kini. “Kadang sedih kalau lihat bapak sama ibu harus nderes karet jam 4 pagi supaya aku tetap sekolah. Tapi aku bangga sama mereka yang sudah kerja keras, walau kadang suka berpikir masih bisa lanjut sekolah atau tidak karena pekerjaannya cuma seperti ini, kalau hujan ya gak penghasilan. Sekarang pun lagi mikir, bisa lanjut ke SMA atau engak.., Pratiwi sejenak menatap kosong, tapi kemudian ia tersenyum kembali.

Cita-citaku ingin jadi guru, sergahnya mengusir hening tadi, supaya bisa memunculkan semua bakat anak-anak di desa, seperti aku dan bunda-bunda di Future Center.

Minggu sore kami berjumpa lagi dengan anak-anak FC usia SMP, kami berkenalan, agar tahu nama-nama mereka. Tapi kami bisa mengenali wajah mereka dengan sangat jelas. Inilah wajah-wajah anak-anak yang haus akan pengetahuan dan bimbingan.

Terima kasih Pratiwi untuk kisah inspiratif mu dan teman-teman di desa. Masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.. (bella/tony)